Oppa, Saranghaeyo! (Chapter 3)

 By Zaskia Aruni Makarim (@zaskiarunim)

Guess what? Aku dapet libur besok, yay!  Chapter 3 ini belum end, mungkin bakal selesai di chapter 5, maaf ya~ Tapi Chapter 4 nya udah aku selesaiin, jadi bakal aku post dalam jangka waktu dekat ini. Semua perkiraan aku ternyata salah, mianhaeyo! 😛

Di chapter 3 ini ceritanya Donghae, Siwon, dan Shindong udah punya yeoja chingu. Tapi aku yakin pasti ada yang nggak suka. So, para yeoja itu nggak aku kasih nama. Bagi para Elfishy, Siwonest, dan Shinsfriend yang nggak suka, anggap aja mereka itu kalian. Okay? Enjoy!

DO NOT TAKE WITHOUT PERMISSION AND FULL CREDITS, Please leave a comment! I really need comments to improve my ff, gamsahamnida.

______________________________________________

Park Ki Young POV
06 : 30 KST

Tring! 1 New Message

From: Woonppa Y
Morning Ki Young-ah! Ayo banguuun kura-kura kecil!

To: Woonppa Y
Morning too Woonppa. Ya! Aku sudah bangun dari tadi, bilang saja kalau kau yang baru bangun!

From: Woonppa ♥
Ya! Kau mengejekku?! Kau tahu? Aku sudah bersiap untuk schedule hari ini! Aku mengantuuk~ T-T

To: Woonppa ♥
Oh ya? Hwaiting! Woonppa, to the point saja, ada apa tiba-tiba mengirimku message?

From: Woonppa ♥
Aku ketahuan ^^

Kring Kriing~ Tiba-tiba handphone Ki Young berbunyi, layarnya bertuliskan, Woonppa ♥

“Yoboseyo, waeyo Woonppa?” Ku angkat teleponnya.

“Ki Young-ah, ada kabar bagus dari manager Super Junior. Dia bilang kita semua dapat libur 3 hari 2 malam.”

“Jinjjayo?” Tanyaku semangat.

“Ne. Liburnya mulai lusa, tapi setelah kami menyelesaikan photoshoot di pantai. Semua member setuju akan liburan di pantai itu, ada yang bilang akan membawa pacar mereka. Jadi aku kepikiran untuk mengajakmu, kau mau tidak? Dari pada kau keluyuran sendiri.” Jelas Woonppa. Apa dia bilang? Mengajakku? Apa aku tidak salah dengar?

“…”

“Yoboseyo? Ki Young-ah?” Ia memanggilku, membuatku terbangun dari lamunanku.

“Bolehkah?”

“Ya bolehlah, untuk apa aku mengajakmu kalau tidak boleh?”

“Ah, gomawoyo mau membawaku berlibur.” Aku tersenyum menggenggam handphoneku. Kau tahu? Aku benar-benar senang.

“Ne, lusa akan ku jemput pagi-pagi, nanti ku telepon lagi.” Terangnya padaku.

“Oh arraseoyo Woonppa, neomu gomawoyo.”

“Kau akan keluyuran kemana hari ini?” Tanyanya. Sial, di bilang keluyuran.

“Mollayo, tapi hari ini aku berencana ke café mu, aku mau ngobrol dengan Jong Jin oppa.”

“Jong Jin?” Tanya Woonppa, entah kenapa nadanya terdengar aneh.

“Ne, waeyo?”

“Ah ani, have a nice day! Aku tutup teleponnya ya, annyeong.”

“Gomawoyo Woonppa.”

Klik, teleponnya di putus.

 

09 : 30 KST @ Handel & Gretel

Ketika aku membuka pintu H&G, kemudian 3 orang memperhatikan ku dan berbisik-bisi. Tidak nyaring, namun terdengar.

“Pssst, eh itu itu! Dia yeoja yang deket sama Yesung oppa.”
“Kudengar dia model terkenal di Paris”
“Mwo? Jinjja?”
“Mau apa sih dia kesini?”
“Entahlah, apa mungkin Yesung bakal kesini juga? Kyaaaaaa~”
“Gosipnya benar-benar menyebar ya, ternyata dia tidak lebih cantik dari fotonya.”

Apa maksud mereka? Mengejekku? Atau Memujiku?

Yah, kuanggap itu pujian. Seorang model memang harus membuat dirinya di foto lebih cantik dari pada dirinya yang asli. Aku benar kan? Kalau dirinya yang asli lebih cantik, berarti sebagai model dia sudah gagal.

Walaupun kenyataannya begitu tapi percakapan mereka itu membuatku sedikit tersindir sehingga aku mulai memperhatikan obrolan mereka dengan seksama.

“Tapi kelihatanya dia masih muda ya.”
“Memang. Gosipnya dia berbeda 10 tahun dengan Yesung oppa!”
“Hah? Jauh sekali, berarti dia bukan rivalku. Dia tidak cocok bersanding dengan Yesung oppa!”

Eonnideul yang menyebalkan. Tidak cocok bersanding katanya?! Bahkan gosip yang mereka dapat itu salah, aku dan Woonppa hanya berbeda 8 tahun!

Tidak cocok bersanding.

Aish, Kenapa kalimat itu begitu terngiang-ngiang di telingaku?

“Kau memikirkan obrolan mereka?” Seseorang menepuk bahu ku sambil membawakan ice lemon tea yang tadi kupesan.

“Jong Jin oppa? Ah membuat ku kaget saja.” Kemudian Jong Jin oppa duduk di bangku yang ada di hadapanku.

“Hahaha. Mianhae, waktu itu kita tidak sempat ngobrol banyak karena sedang banyak pelanggan.” Sahut Jong Jin oppa.

“Ah, gwenchana. Bagaimana keadaan ahjumma dan ahjussi?” Tanyaku. Yang kumaksudkan adalah eomma dan appanya Jong Jin oppa.

“Mereka baik-baik saja. Waktu itu aku beri tahu mereka bahwa kamu sudah kembali ke Seoul, mereka sangat senang dan menanyakan kapan waktu senggangmu untuk berkunjung ke sana.” Jelas Jong Jin oppa.

“Mianhaeyo karena belum sempat mengunjungi mereka. Aku kangen dengan kimchi buatan ahjumma, mm~ Waktuku selalu senggang kok! Eh tapi 4 hari kedepan mungkin aku tidak bisa, nanti akan ku kabari lagi deh oppa.”

“Jinjja? Arraseo. Memangnya kau berencana kemana?” Tanya Jong Jin oppa.

“Err, aku di ajak berlibur dengan Woonppa ke pantai setelah ia menyelesaikan photoshootnya.”

“Mworago? Ke pantai?! Berdua saja?”

“Aniii~, ada Suju oppadeul yang lain dan pacar mereka juga.”

“Cih sial, aku tidak di ajak.” Gerutu Jong Jin oppa. Beberapa saat terasa hening dan canggung, tapi kemudian Jong Jin oppa memecahnya.

“Hey Ki Young-ah, ngomong-ngomong, kau masih menyukainya?”

“Eh? Ne?”

“Kau masih menyukai Jong Woon Hyung atau tidak? Atau malah kau sudah mempunyai pacar di Paris?”

Dulu aku memang pernah memberi tahu Jong Jin oppa bahwa aku benar-benar menyukai Woonppa. Pertanyaan itu membuatku sedikit bingung. Apakah aku masih menyimpan rasa padanya?
Haruskah? Bolehkah? Apakah bisa?

“Ani, aku sedang tidak punya pacar sekarang.” Jawabku.

“Hey, kau tidak menjawab pertanyaan utamaku!” Sepertinya Jong Jin oppa tidak puas dengan jawaban yang tadi kuberikan, tapi aku harus menjawab apa?

“Ki Young-ah, aku tahu kau bingung. Tapi menurutku kau dan hyung benar-benar serasi. Persetan dengan umur! Kau harus percaya diri. Sekarang Hyung sedang tidak dekat dengan perempuan, ambil kesempatan ini Ki Young!” Jelas Jong Jin oppa dia benar-benar bersemangat.

“Aish, nggak segampang itu oppa!” Aku sedikit menggebrak meja, membuat orang di meja sebelah melirik kaget.

“Wae? Apa yang membuat mu tidak yakin?”

“Aku.. Aku tidak yakin dia akan mencintaiku kembali.” Jawabku sambil menunduk.

“PA. BO.” Jong Jin Oppa menyentil kepalaku, sakit sekali rasanya!

“Aish, oppa!” Jawabku sambil cemberut dan mengelus-elus jidatku.

“Bagaimana kau bisa tahu dia tidak akan mencintaimu? Kau belum mencobanya! Bagaimana kalau sebenarnya dia juga mencintaimu? Terus kamu baru mengetahuinya setelah dia menikah. Cih, mungkin kau akan mati bunuh diri.” Jelas Jong Jin sinis. Membuatku berpikir ulang.

“Apa aku harus?” Gumamku masih tidak yakin.

“Kejar dia Ki Young-ah, kejar uri pabo hyung! Perasaanku tidak pernah salah loh, aku tidak pernah seyakin ini.” Jong Jin oppa masih menatapku tajam, kemudian ia melanjutkan kalimatnya.

“Ki Young-ah. Kuberi tahu ya, beberapa hari setelah kepergianmu ke Paris dia jadi seperti orang gila yang keluyuran mencari teman!” Jong Jin oppa terkikik.

“Ya! Oppa, nggak usah mengada-ada segala!” Kucubit tangan Jong Jin oppa yang membuatnya sedikit meringis.

“Aku tidak mengada-ada! Kalau tidak ada jadual training dia pagi malam nyari kura-kura yang bisa jadi temennya! Terus hyung jadi beli 3 kura-kura yang mahal, lalu ia taro di dorm! Sekarang ketiga kura-kura itu benar benar besar, terkadang aku di bayar olehnya untuk membersihkan aquarium kura-kuranya. Kalau bukan karena uang aku tidak mau mencucinya!!” sekarang giliran Jong Jin oppa yan menggebrak mejanya.

Aku tenggelam pada pikiranku.
Benarkah itu? Dia rindu padaku? Hah, menarik.
Aku punya satu taktik.
Taktik untuk mencari tahu bahwa dia mencintaiku juga atau tidak.
Taktik yang kudapatkan dari chinguku di Paris, dengan taktik itu dia sudah berpacaran 2 tahun.
Luar biasa.

 

(2 Days Later)

“Woonppa, sebetulnya kita akan ke pantai mana sih?”

Sesuai dengan janjinya, dia menjemputku pagi-pagi. Aku sudah mempersiapkan semuanya dengan matang. Semoga saja rencanaku berjalan dengan apa yang kumau.

“Nanti juga kau akan tau.” Jawabnya sambil menyetir dan menunjukan evil smirknya. Menyebalkan. Kuputuskan untuk memulai rencanaku. Aku mengutak atik iphoneku dan mengirim message.

“Sedang apa?” Tanya Woonppa, ia melirik hp yang kugenggam.

“Mengirim message.” Jawabku dingin.

“Pada siapa?”

“Sungmin oppa.”

“MWO?! Sejak kapan kau memanggilnya Oppa?” Woonppa tiba-tiba mengalihkan pandangannya dari jalan, ia menatapku tajam.

“Eish, memangnya kenapa kalau aku memanggilnya Oppa?”

“Apa kau memanggil member yang lain dengan oppa juga?” Dia mengalihkan mukanya pada jalan lagi.

“Err, ani.” Jawab ku sedikit gugup.

“…” Woonppa tidak menjawab apa apa, dia diam saja.

Apa ini artinya rencanaku berjalan lancar?
Akan ku ceritakan apa rencanaku.
Membuatnya cemburu.
Yup, hanya itu! Aku tidak bercanda, kita lihat apa yang akan terjadi 2 hari ini ^^

To: Sungmin Oppa
Annyeong Oppa! Aku mau tanya, member SJ akan berlibur di pantai mana?

From: Sungmin Oppa
Ah, ku dengar kau ikut ya? Senangnya! Kami menginap di pulau kepunyaan SM. Memangnya kau tidak di beri tahu oleh Yesung hyung?

To: Sungmin Oppa
Mwoya? SM Entertainment punya pulau sendiri? Jinjja? Dia pelit, tidak mau memberi tahu ku! -______-

From: Sungmin Oppa
Ne, nanti kita ketemu di bandara ya. Hyung memang pelit! Hati-hati di jalan Ki Young-ah~

Kami sampai di bandara, beberapa member sudah sampai duluan. Beberapa member menggandeng yeoja mereka, tapi tidak banyak. Hanya 2 yeoja yang baru kulihat.

Woonppa berjalan berjauhan denganku. Biasanya ketika dia jalan denganku, ia selalu mengimbangi jalannya dengaku. Selalu, sejak kecil.

“Ki Young-ah!” Seseorang menepuk bahuku ringan. Ternyata Sungmin oppa. Aku melihat Woonppa berhenti berjalan untuk melihatku, mata kami bertemu. Tapi aku memutuskannya karena Sungmin oppa mengajakku berbicara. Kami mengobrol bersama beberapa saat. Entah kenapa hawa yang aku rasakan tidak enak. Rasanya tidak nyaman.

Day 1

9 : 30 KST

Kami sampai di pulau ini setengah jam yang lalu. Perjalanannya tidak lama, mungkin hanya 10 sampai 15 menit.

Ketika sampai aku tercengang dengan penataan pulaunya, seperti dunia sendiri! Hanya ada 1 gedung tinggi yang berada di situ, gedung itu dipakai untuk menginap. Semacam hotel pribadi. Kamarnya BAGUS BANGET. Aku sekamar dengan yeoja chingu nya Donghae-ssi, sedangkan yeoja chingunya Siwon-ssi sekamar dengan yeoja chingunya Shindong-ssi.

Para member sudah mulai bersiap-siap melakukan photo shoot. Syukurlah suasana dan cuacanya mendukung. Kami berempat, para yeoja, hanya mengobrol dan memperhatikan pemotretan mereka saja. Tentu saja yeoja chingunya Siwon-ssi, terlihat super bersemangat. Bagaimana tidak semangat, abs dan tubuh namja chingunya terpampang dengan jelas!

17 : 30 KST

Pemotretan tadi berlangsung lama sekali, mungkin sampai sekitar jam 3 sore. Setelah pemotretan selesai, kami semua barbeque-an di pinggiran pantai, rasanya romantis sekali, suasananya benar-benar mendukung. Aku duduk di sebelah kanan Woonppa, wajahnya terlihat lelah sekali, tapi tidak menutupi ketampanannya. Beberapa kali aku memandangnya, tapi dia tidak pernah melihatku balik. Tiba-tiba kursi yang berada di sebelah kananku di duduki Sungmin oppa, sedangkan Woonppa beranjak dari kursinya untuk mencari makanan. Setelah selesai mengambil makanan dia malah duduk di sebelah Ryeowook-ssi, jauh dariku. Oke, dia menjauhiku. Benar-benar berusaha menghindariku. Tapi kenapa?

“Ki Young-ah, aaaaaa~” Sungmin Oppa tiba-tiba menyuapkan setusuk daging untukku. Awalnya aku bingung harus menerimanya atau tidak, tapi aku ingat dengan rencanaku lagi. Lagi pula kalau nggak di terima nggak menghargai dong?

Aku menengok ke arah Woonppa berharap melihat reaksinya. Namun nihil. Dia asyik makan dan mengobrol dengan Ryeowook-ssi. Aku malah di tatap oleh Ryeowook-ssi tajam. Image Ryeowook-ssi kan magnae yang manis, tapi aku merasa tatapannya kali ini dalam, membuatku bergidik. Aku tidak bercanda.

Langit sudah gelap, banyak lampu yang sudah dinyalakan, indah sekali.

Banyak orang yang sudah selesai makan dan berjalan-jalan mengelilingi pulau

“Ki Young-ah, aku pergi duluan ya, di panggil manager hyung.” Sahut Sungmin Oppa

“Ne, oppa.” Jawabku.

Ketika Sungmin sudah pergi di meja makan hanya ada aku dan Woonppa. Aku menatapnya terus. Aku ingin dia menatapku balik. Dan benar saja ia menatapku balik. Hanya sedetik, dia pun membuang muka dan beranjak dari kursinya, meninggalkan ku.

“Woonppa!” Aku mengejarnya, meninggalkan piringku di meja. Aku menggenggam tangan kirinya kuat.

“Wae Ki Young-ah?” Jawabnya, dingin.

“Kenapa meninggalkan ku?”

“…”

“Woonppa! Kenapa menjauhiku? Kenapa menghindariku?” Nada suaraku sedikit meninggi, dan aku mendekap tangan kirinya sekarang. Erat, sangat erat, aku tidak mau melepasnya.

“Ki Young-ah, aku tidak menghindarimu, juga tidak menjauhimu.” Jawabnya. Dia menatapku.

“Baiklah kalau begitu. Apa tujuan oppa mengajakku kemari?”

“Agar kau tidak keluyuran di Seoul sendiri dan kesepian, agar kau menikmati liburanmu, juga membuatmu senang.”

“Membuatku senang?” aku membuang mukaku, tidak menatapnya lagi.

Dia mengangguk.

“Tapi, kenapa oppa sama sekali tidak mengajakku bicara dari tadi? Aku sama sekali nggak senang oppa.”

“…”

“Waeyo oppa? Waeyo? Apa aku menyakitimu? Apa yang membuat oppa begini?” Aku melepas tangannya. Tidak menyentuhnya sedikitpun.

“Aku, lelah, Ki Young-ah.” Jawabnya tersendat-sendat. Aku menatapnya tidak percaya. Itu jawabannya? Lelah?

“Kalau ini membuatmu lelah kenapa oppa malah mengajakku kemari?! Aku hanya akan jadi bebanmu, dan membuat mu repot, oppa!” Nada suaraku begitu tinggi, membuatnya sedikit tersentak. “SUDAHLAH!” Entah kenapa rasanya amarahku begitu memuncak.

Rasanya ingin menangis, tapi air mataku tidak bisa keluar. Aku berlari menjauhinya, secepat yang aku bisa. Aku mendengarnya memanggil namaku. Beberapa saat aku tidak mendengar suaranya, tapi aku malah mendengar langkah kakinya mendekat.

Dia memelukku dari belakang. Sesuatu yang aku inginkan selama 7 tahun kebelakang ini.

Nafasnya terasa di leherku. Aku menutup mataku, dan setetes air mataku jatuh.

“Ani Ki Young. Bukan begitu maksudku. Mianhae, jeongmal mianhae.” Dekapannya begitu erat dan hangat. Aku benar-benar mencintainya.

Aku melepaskan tangannya yang memelukku dari belakang, kemudian kupeluk balik dari depan.

“Bogoshipeo oppa, nado mianhaeyo.” Bisikku kecil di dalam pelukannya. Beberapa tetes air mataku mengalir. Tapi aku tidak sampai terisak. Aku tidak mau dia tahu bahwa aku menangis.

Aku bahagia bisa berada dalam pelukannya, aku ingin seperti ini selamanya.

Apa bisa?

TO BE CONTINUE

Advertisements

2 responses to “Oppa, Saranghaeyo! (Chapter 3)

  1. Mian sblumnya…..aq copy fanfic kmu wat bca dirumah ktika gak sibuk….aq harap kmu gak kberatn ama aq yaa….hwaiting!!! , truskn buat fanfics lgi biar aq bca….bye…

    • Kalau copy buat sendiri sih nggak apa apa. Aku juga suka gitu.. kkk~ asal jangan di publish di tempat lain ya, hehe. Gomawoyo! ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s