Oppa, Saranghaeyo! (Chapter 4)

By Zaskia Aruni Makarim (@zaskiarunim)

Attention: Ini hanyalah fanfiction, bila FF ini mirip dengan cerita lain hal ini hanyalah ketidak sengajaan, Gamsahamnida.

DO NOT TAKE WITHOUT PERMISSION AND FULL CREDITS, Please leave a comment!

Day 2

Tring! 1 New Message

From: Woonppa Y
Wake up! Wake up!

Tring!

From: Sungmin Oppa
Good morning Ki Young-ah~ Sudah bangun?

8 : 00 KST

Tadi malam tidurku sangat nyenyak. Kejadian tadi malam benar-benar masih terbayang-bayang, aah aku malu memikirkannya, kkk~

Ting Tong!

Eh? Kenapa pagi-pagi begini ada yang membunyikan bel?
Kubukan pintu kamar sambil mengikat rambutku.

“Woonppa?”

“Annyeong! Boleh aku masuk?” Tanyanya, aku pun mengangguk.

Woonppa berkeliling melihat-lihat di kamarku, sedangkan aku melanjutkan berdandan.

“Tidak terlalu jauh berbeda dengan kamarku.” Woonppa mendekatiku dari belakang.

“Pakai ini, ini untukmu.” Dia berada tepat di belakangku, kemudian ia menyodorkan jepit rambut yang di ujungnya terdapat hiasan berbentuk kura kura berwarna hijau.  Jepit ini terlihat agak mahal.

“Eh? Untukku? Jeongmal?”

“Kenapa? Kau tidak menyukainya?” Tanyannya.

“Ani, johaeyo. Neomu johaeyo oppa, gomawo.” Jawabku.

Dia berusaha memasangkan jepitnya di rambutku, mukanya begitu dekat, jantungku rasanya mau meledak. Aku tidak berani menatapnya, tapi mata kami malah bertemu secara tidak sengaja. Beberapa saat kami merasakan hawa canggung. Tapi Woonppa malah tersenyum lalu menepuk-nepuk kepalaku. Pipiku terasa sungguh panas.

“Kaja Ki Young-ah, semua sudah menunggu untuk sarapan. Kau sudah cantik ko.” Woonppa menggenggam tanganku, aku menyukai skinship yang ia lakukan padaku, membuat jantungku tidak karuan, tapi rasanya menyenangkan, dan addictive.

Kim Jong Woon POV

Hah, panas sekali hari ini, sudah masuk musim panas sih ya.
Pagi tadi aku mengajak Ki Young untuk sarapan, kemudian kuberikan saja jepit yang kubeli khusus untuknya beberapa hari yang lalu. Dan tadi kupakaikan di rambutnya, wajahnya sangat dekat dengan tubuhku. Karena aku memakan t-shirt tipis nafasnya samar-samar terasa di dadaku. Semoga dia tidak mendengar detak jantungku yang terasa sama persis dengan waktu aku pertama kali menyanyi di panggung. Kau mengerti maksudku kan?

Dasar model. Kenapa dia cantik sekali?

Rambutnya bergelombang, dan berwarna coklat, di ikat poni.
Dia mengenakan baju yang simple, atasan putih dan short jeans.
Tapi kenapa dia sangat menarik?
Aku menyukainya? Tapi umur kami? Ah, masa bodoh!

“Ki Young-ah! Mau semangka?” Suara khas itu berteriak nyaring tepat di belakangku.

“Jangan teriak-teriak Sungminnie!” Aku memarahinya. Kulihat Ki Young mendekat ke arah ku, ah bukan, ke arah kami. Kemudian Sungmin memberikan Ki Young garpu kecil, di tangannya sudah ada sepiring semangka. Ki Young terlihat semangat memakannya. Beberapa saat kemudian Ki Young melihat ke arahku yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik mereka.

“Woonppa, kau mau?” Ki Young menyodorkan semangka yang ia tusukan ke garpu ke depan mulutku. Aku diam saja.

“Buka mulutmu oppa, ini enak sekali!” Paksanya. Kulihat Sungmin yang menatapku tidak wajar, aku tersenyum melihatnya kemudian aku membuka mulutku, sedetik kemudian semangka tadi sudah ada di dalam mulutku.

“Eonniii!” Ki Young melambai-lambaikan tangannya pada yeoja chingunya Donghae, mereka sedang berjalan-jalan di pinggiran pantai yang tidak begitu jauh dari kami.

“Woonppa, Sungmin Oppa, main di pinggiran pantai yuk!” Ki Young terlihat super bersemangat, dia menggandeng tangan ku dan Sungmin kemudian menarik kami menuju tempat yang ia tunjuk. Tidak sengaja aku melihat Wookie. Entah kenapa ia menatapku aneh sekali, seperti ada sesuatu.

Kami bertiga bermain-main di pinggiran pantai. Aku sedang duduk di pasir bertelanjang kaki, sedari tadi aku memotret banyak sekali foto, terutama foto Ki Young. Dia terlihat, flawless.

Sedangkan Ki Young sedang bermain bersama Sungmin. Entah kenapa hari ini Ki Young agak sedikit kekanak-kanakan, tapi dia lucu begitu. Di dalam kameraku terdapat cukup banyak foto Sungmin dan Ki Young, rasanya ada yang membuatku sedikit geram. Mereka terlihat serasi, sangat serasi.

SRUK, BYUUR!

Suara itu terdengar cukup keras, membuatku refleks membalikan badan untuk melihat apa yang terjadi.

“Hmmph, HAHAHAHA!” Tawaku sudah tidak bisa di tahan lagi. Kulihat Ki Young terduduk di air yang masih dangkal, sedang mengusap mukanya kemudian melihat ke arahku kesal dan menjulurkan lidahnya. Dia meludah beberapa kali karena rasa asinnya air laut. Tidak lama setelahnya kulihat Sungmin berlari agak panik ke arah Ki Young.

“Ki Young-ah! Gwaenchana?! Ah, kau terluka!” Mendengarnya terluka, aku menaruh kameraku sembarangan dan berlari ke arahnya. Aku membungkukan badanku dan menopang tubuhku dengan tangan di lutut. Kulihat telapak kakinya berdarah.

“Kau bisa berdiri?” Tanya Sungmin.

“Ne oppa.” Ki Young berusaha berdiri dengan bantuan tangan Sungmin, tapi dia terpeleset lagi membuat Sungmin ikut jatuh terduduk.

“Ah oppa, appo, rasanya perih sekali.” Ki Young meringis. Aku berlari meninggalkan mereka berdua. Berusaha mengambil kotak P3K secepat-cepatnya. Toh Ki Young masih bersama Sungmin. Setelah mendapatkan kotak P3K, aku berlari menuju Ki Young secepatnya. Ki Young sudah di gendong oleh Sungmin, ternyata mereka memang benar-benar serasi. Genggamanku pada kotak P3K mengeras. Ah bukan saatnya begini, dia sedang terluka, Jong Woon-ah pabo!

Sungmin mendudukan Ki Young di sebuah kursi yang biasanya ada di pantai atau di kolam rengang. Kuberikan kotaknya pada Sungmin. Aku tahu Sungmin lebih telaten melakukan itu, daripada aku. Aku tidak tahu harus melakukan apa, rasanya Sungmin sudah melakukan semuanya, itu sedikit membuat ku kesal.

Beberapa saat kemudian aku baru sadar akan sesuatu. Baju Ki Young yang basah menampakan tubuhnya samar tapi cukup jelas. Pipiku rasanya agak memanas melihatnya. Kubuka bajuku dan aku melemparkannya pada Ki Young. Ki Young yang tadi meringis-ringis karena kesakitan ketika lukanya sedang di obati, sekarang dia menatapku, mukanya benar-benar polos. Lucu sekali.

“Pakailah!” Perintahku. Dia melakukan apa yang kuperintahkan, tapi tidak seperti apa yang ku perkirakan. Ku kira, dia akan mendobel nya atau hanya menutupi tubuhnya dengan bajuku, seperti handuk.

Tapi perkiraanku salah, tiba-tiba dia membuka bajunya yang basah di depan ku dan Sungmin, menampakkan lekukan tubuhnya, kemudian dia buru-buru memakai bajuku.

“Ya! Neo michyeoseo?!” Apa dia gila? Sembarangan membuka bajunya di depan lelaki? Tadi Sungmin terlihat cukup kaget melihat kelakuannya. Bagaimana tidak kaget, aku juga shock!

Dia hanya nyengir melihatku.

“Kenapa kau berani membuka bajumu sembarangan hah?!” Tanyaku.

Dia masih terlihat nyengir.

“Mukamu merah Woonppa.”

Eish, ini anak! Mengalihkan pembicaraan ya. Tapi apa mukaku benar-benar merah? Memalukan!
Aku memalingkan wajahku dari nya. Sungmin juga terlihat canggung setelah kelakuannya tadi. Apa dia tidak sadar apa yang tadi dia lakukan?! Eh, nanti dulu, dia lama di Paris kan, apa orang sana sering melakukan hal itu?

“Maaf oppa, tadi emergency, aku kedinginan.” Ki Young menunduk, kulihat pipinya juga memerah.

“Yap, sudah selesai. Coba gerakan kaki mu sedikit sedikit Ki Young-ah” Sahut Sungmin. Kaki Ki Young sudah diperban rapih olehnya.

“Neomu neomu gomawoyo Sungmin oppa, maaf sudah membuatmu repot.” Jawabnya.

“Nggak ko. Lain kali kau harus lebih berhati-hati ya. Eum, Ki Young-ah, Yesung hyung, aku duluan ya, di panggil Shindong hyung, sepertinya dia butuh bantuan. Annyeong” Sungmin melambaikan tangannya dan segera berjalan ke arah yang berlawanan dengan kami.

“Ki Young-ah, apa kau bisa berdiri?” Tanyaku.

“Ne oppa, sekarang sudah tidak begitu pedih.” Jawabnya sambil menunduk. Tumben sekali. Biasanya dia selalu berbicara sambil menatap lawan bicaranya.

Ki Young berusaha berdiri, ketika sudah seimbang dia mencoba melangkah perlahan sambil terpincang-pincang. Tapi tubuhnya oleng, reflek kutangkap tubuhnya agar tidak jatuh.

“Kau terluka cukup parah ya.” Wajah kami super dekat, sampai aku bisa merasakan hembusan nafasnya. Kuperhatikan wajahnya dalam-dalam, matanya, hidungnya, pipinya, juga bibirnya. Yang terakhir itu membuatku tidak berkutik. Entah kenapa otakku malah memutar kembali kejadian tadi, ketika dia mengganti bajunya. Kenapa otakku malah jadi yadong begini?

“Op..hmmph”

Aku tidak tau apa yang merasuki ku sampai membuatku menciumnya, pikiranku terkacaukan olehnya. Rasanya manis sekali, dan sedikit asin karena air laut. Beberapa saat kemudian ciumanku dibalas olehnya, lalu kudekap pinggangnya agar lebih dekat dengannya. . Tidak lama setelahnya dia melepaskannya karena kehabisan nafas. Kulihat mukanya benar-benar merah, dia benar-benar lucu.

“Oppa…” Sahutnya kecil nyaris seperti berbisik.

“Kau harus berlatih menahan nafasmu lebih lama.” Ejekku.

“Ya!” Ki Young protes dan memukul dadaku. Kelakuannya membuatku tersenyum. Tiba-tiba dia mendorongku menjauh. Pikiranku mulai pesimis, apa dia akan membenciku dengan apa yang aku lakukan tadi?

“Pergi oppa! Ka!” Sahut Ki Young sambil menunduk, entah kenapa mukanya makin memerah. Apa benar dia membenciku? Kesal padaku?

“Palli ka! Pakai bajumu oppa!”

“Mppph, hahahaha! Jadi karena aku shirtless kamu malu? Begitu?”

“Eish, kau menyebalkan oppa! Benar-benar menyebalkan.” Ki Young berteriak teriak dan pergi menjauh sambil terpincang-pincang. Aku berdiri dan tertawa memperhatikan kelakuannya dari jauh.

Dia benar-benar malu melihatku shirtless ya? Kkk~

 Ki Young POV

Pipiku benar-benar PANAS!

Kepalaku mengulang-ulang kejadian tadi. Pikiranku kosong, masih belum bisa mencerna apa yang terjadi tadi. Intinya, aku dicium sama Woonppa yang lagi shirtless di pantai. AAH naega michyeo!

Supaya aman aku berusaha pergi darinya, masa bodoh dengan kaki yang pincang. Tapi tadi ketika aku berusaha kabur, aku melihat Ryeowook-ssi. Dia sedang menatapku tajam.
Aku tidak tahu apa yang sedang ada di pikirannya, tapi aku takut melihat tatapannya itu. Jadi aku berjalan lebih cepat, karena itu kakiku malah jadi agak bengkak.

Sampailah aku di kamar setelah perjuangan setengah mati berjalan sambil terpincang-pincang. Kurebahkan tubuhku di kasur, seharusnya ini jam makan siang dan sepertinya semua orang sudah berkumpul di meja makan. Tapi aku lelah dan ingin mengistirahatkan kakiku, biarlah kalau tidak makan siang juga, paling nanti sore aku kelaparan.

Semua kejadian tadi terputar ulang di kepalaku, pipiku terasa panas lagi. Bagaimana caraku menghadapinya nantI?
Tapi aku punya satu pertanyaan besar, apa arti ciuman tadi?

Author POV

“Ki Young-ah, Ki Young-ah~” Yeoja chingu Donghae, yang sekamar dengan Ki Young, berusaha membangunkan Ki Young. Perlahan Ki Young mengerjap-ngerjapkan matanya.

“Waeyo eonni?” Tanyanya sambil masih mengantuk.

“Kau ini, mau berapa lama tidur? Kau melewatkan makan siang, apa akan melewatkan makan malam juga?”

“Hah? Memangnya jam berapa sekarang?”

“Jam 7 dongsaengie, ayo bangun kau harus makan!”

“Jam 7 malam?! Benarkah?”Tanya Ki Young di lanjutkan anggukan mantap yeoja chingunya Donghae.

Kemudian Ki Young pun terburu-buru mengambil handuk dan bersiap untuk mandi.

“Mandinya jangan lama-lama dongsaengie, aku duluan ke bawah ya!”

Mereka semua menyantap makan malam hari kedua dengan lahap. Inilah makan malam terakhir mereka, karena besok pagi mereka harus sudah kembali ke Seoul.

Ki Young sudah menyelesaikan makannya dan sekarang dia mencari dessert yang lezat.
Tiba-tiba seseorang menggenggam pergelangan tangannya.

“Omo! Ryeowook-ssi. Aku kaget sekali.” Sahut Ki Young.

“Ki Young-ah, aku mau bicara sebentar, bisa?” Tanyanya. Ki Young pun mengangguk.
Ryeowook menarik tangan Ki Young menjauh dari orang-orang. Sekarang mereka duduk di meja dekat pinggiran kolam renang.

Ryeowook tiba-tiba tersenyum berusaha mencairkan suasana.

“Pertama-tama aku minta maaf, sepertinya akhir-akhir ini aku membuatmu sedikit risih. Aku ingin kau menghapus semua persepsi tentangku di kepalamu, aku bukan seperti yang kau pikirkan. Hahaha.” Ryeowook tertawa renyah, membuat Ki Young juga ikut tersenyum.

“Baiklah kalau begitu. Ryeowook-ssi, kalau boleh jujur, aku mengira kau tidak menyukaiku.”

“Ah aniyo, aku berkelakuan seperti itu karena sedang memperhatikan sesuatu.”

“Sesuatu?” Tanya Ki Young bingung.

“Ne, memperhatikan mu, Yesung hyung, dan Sungmin hyung.” Jelas Ryeowook.

Selang beberapa saat, Ryeowook melanjutkan omongannya. “Eum,  Ki Young-ah, apa kau benar-benar menyukai Yesung hyung?”

“Eh? Ne? Mwoya?”

“Dan apa betul kamu sekarang sedang berusaha mendekatinya?” Tanya Ryeowook lagi. Ki Young menengok kanan dan kirinya, berusaha mengecek sekelilingnya.

“Ne, itu benar.” Ki Young menunduk, ia tidak bisa menatap wajah Ryeowook.

“Aku mau tanya lagi, menurutmu Sungmin hyung dan Yesung hyung itu bagaimana?”

Ki Young mengangkat kepalanya agar tidak terlalu tegang, kemudian ia menjawab pertanyaan tadi. “Sungmin oppa itu lelaki satu package. Sedangkan Package Woonppa masih ada yang kurang.”

Mendengar itu Ryeowook tertawa lepas. “Maksudmu?”

“Yah, Sungmin oppa itu menurutku nyaris sempurna, sehingga terlihat sulit mencari kekurangannya. Kalau Woonppa tidak se-nyaris sempurna Sungmin oppa. Aku tahu kekurangannya dan aku merasa ingin menutup kekuranganya dengan kelebihanku. Mungkin ini agak rumit, tapi apa Ryeowook-ssi mengerti maksudku?” Ki Young tersenyum.

“Iya aku mengerti, intinya kau ingin melengkapi hidup Yesung hyung kan?” Ryeowook terkikik kecil, membuat muka Ki Young sedikit memerah.

“To the point saja ya, caramu mendekati Yesung hyung itu salah, nggak sepenuhnya sih, tapi langkahmu yang salah. Membuatnya cemburu mungkin masih masuk akal, tapi jangan buat orang lain berharap. Kalau sudah terlanjur, paling tidak kau akan menyakiti satu pihak juga membuatmu merasa bersalah. Demi hyungdeul ku dan kau juga, aku memperingatkan kau.”

Ki Young merasa super bingung. Ryeowook yang mempunyai image polos, sekarang terlihat seperti seseorang yang expert tentang cinta dan punya indera ke enam. Walaupun Ki Young tidak sepenuhnya mengerti apa yang di katakan Ryeowook tadi, tapi dia bisa mendapatkan intinya.

“Ki Young-ssi, cobalah kau pikirkan tentang itu, aku pergi duluan ya, annyeong.”

Ki Young merenungkan perkataan Ryeowook tadi, tanpa sadar seseorang sudah berada di dekatnya.

“Ki Young-ah”

“Omo! Kau mengagetkan ku Sungmin oppa.”

Sungmin tidak meneruskan percakapannya, ia hanya diam dengan tatapan yang tidak biasa.

“Ada apa oppa?”

“Apa yang tadi kudengar itu benar?” Tanya Sungmin nyaris berbisik.

“Ne? Maaf oppa aku tidak mendengar perkataanmu tadi. Apa yang tadi oppa ucapkan?”

Sungmin mengeraskan rahangnya. Bukan marah, tapi agar dirinya lebih berani menanyakannya.

“Apa yang tadi kau bicarakan dengar Ryeowook itu benar?”

“…”

“Jawablah Ki Young-ah. Jawablah yang jujur.”

“Apa oppa mendengar semuanya?”

Sungmin mengangguk yakin. Ki Young menarik nafasnya dalam-dalam.

“Ne, semua yang oppa dengar itu benar.” Jawab Ki Young. Sesaat, suasananya benar-benar hening dan canggung.

“Waeyo oppa?” Tanya Ki Young. Mendengarnya, Sungmin tersenyum miris.

“Kau masih bertanya kenapa? Apa kau tidak sadar, selama ini aku mendekatimu karena aku mencintaimu Ki Young-ah!” Tubuh Ki Young serasa membeku dibuatnya.

“Ternyata semua yang Ryeowook bilang tadi benar terjadi dan semuanya sudah terlambat, sudah terlanjur begini! Aku benar-benar mencintaimu, tapi kenapa kamu malah memanfaatkanku?!” Nafas Sungmin tersengal-sengal, tatapannya seperti orang yang benar-benar tersakiti.

Butiran air mata Ki Young terjatuh begitu saja. Ia tidak bermaksud seperti ini, rasanya seperti tersandung batu besar lalu terjatuh dan berdarah sangat parah. Sakit sekali.

“Bu, bukan begitu oppa. Aku tidak bermaksud memanfaatkanmu.” Ki Young terisak, dan menutup tangannya dengan kedua telapak tangannya.

Sungmin berjalan ke arah Ki Young, ketika posisinya sudah berada di sebelah Ki Young dia berbisik, “Aku tidak percaya, ternyata kau orang yang seperti itu.” Setelah itu Sungmin melesat pergi.

“Oppa, kajima!” Ki Young menahan tangan Sungmin.

“SUDAHLAH LEPASKAN!” Amarah Sungmin meledak, ia membentak Ki Young dan genggaman tangan Ki Young di lepas paksa olehnya.

Sungmin sudah pergi, meninggalkan Ki Young yang masih kaget karena di bentak keras oleh Sungmin. Badan Ki Young bergetar dan kakinya terasa lemas.
Ki Young berjongkok dan menangis menelungkupkan mukanya. Seumur hidupnya Ki Young tidak pernah di bentak sekeras itu.

Tiba-tiba seseorang memeluk Ki Young yang sedang berjongkok menangis. Yesung.

“Ki Young, ireona. Kau jangan begini.” Yesung berusaha memberdirikan Ki Young, tapi tidak berhasil. Ki Young tetap berjongkok dan menangis.

Akhirnya Yesung menyerah dan ia berlutut memeluk Ki Young yang sedang menangis sejadi-jadinya. Kemudian Yesung berbisik, “Jangan seperti ini Ki Young-ah… Uljima… Uljima… Semuanya akan baik-baik saja.” Beberapa detik kemudian tangisan Ki Young berhenti. Kalimat itu memang selalu manjur. Sejak kecil kalau Ki Young menangis Yesung akan membisikan kata kata tersebut. Ketika Yesung berkata semuanya akan baik-baik saja, ya pasti semuanya akan baik baik saja.

Tangisan Ki Young memang berhenti, tapi dia tetap tidak mau berdiri dan tubuhnya masih bergetar. Yesung tahu bahwa dia sedang merenungkan semua kesalahan yang dia lakukan. Yesung melonggarkan dekapannya namun masih memeluknya, kemudian dia mengelus rambut Ki Young beberapa kali sampai getaran pada tubuh Ki Young berhenti.

Duk!

Badan Ki Young terjatuh ke belakang, sehingga ia pun terduduk. Yesung kaget sekali ketika melihat mata Ki Young terpejam, ia menepuk-nepuk pipi Ki Young dan memanggil-manggil namanya. Tiba-tiba Ki Young menarik lalu menghembuskan nafasnya.

“Cih, ternyata dia tertidur, bikin kaget setengah mati saja. Mukamu terlihat sangat lelah, Ki Young-ah. Kenapa Sungmin berani mencampakanmu dan malah membentakmu? Kurang ajar sekali dia.”

Yesung menggendong Ki Young sampai di kamarnya.
Yeoja chingu Donghae, yang sekamar dengan Ki Young, shock melihat keadaan Ki Young yang seperti tak bernyawa. Yesung mengompres dahi dan mata Ki Young, sebelum pergi Yesung mengecup dahi Ki Young dan berbisik, “Akan ku buat menyesal orang yang telah membuatmu begini.”

“Jeogiyo, kau tahu dimana kamar Sungmin?” Tanya Yesung.

“Eum, sepertinya empat kamar ke kanan dari sini.”  Jawab Yeoja chingu Donghae.

“Gomawoyo, tolong jaga Ki Young-ah ya.”  Yesung pun pergi dari kamar Ki Young sambil mengepalkan tangan kanannya kuat-kuat.

TO BE CONTINUE

2 responses to “Oppa, Saranghaeyo! (Chapter 4)

  1. annyeong author! mianhae aku komentnya di sini bukan di ffn, aku gapunya acount sih #gananya /plakk cerita seru eonni, aku kira bakal cinta segitiga antara wookppa, yeppa, ama minppa, eehh ternyata cuma minppa ama yeppa yg berebut. jangan berantem donk thor… kesiann… 😥 ditunggu lanjutannya. hwaiting! daebak authorr!!!!!

    • Aaaaaa~ GOMAWOYO! Nggak apa-apa comment disini lebih bagus. Hehe, ditunggu aja ya last chapternya! Makasih commentnya~ *bungkuk bungkuk 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s