Yeongweonhi Saranghae (영원히 사랑해)

FF kali ini aku campur , bukan hanya Super Junior aja tapi ada cast dari BB lain. Salah satu BB rookie yang terkenal banget, B1A4!
Jung Jin Young (2nd Picture)

______________________________________________

By Zaskia Aruni Makarim (@zaskiarunim)

Sinopsis:   Choi Seora, adalah yeoja yang sudah di jodohkan pada umur 16 tahun oleh orang tuanya. Menjadi seorang istri ketika masih SMA itu sangat sulit. Walau begitu, Seora masih mempertanyakan perasaan namja itu yang sebenarnya, apakah suaminya itu mencintainya. Karena, namja itu terlalu sibuk sehingga Seora merasa kesepian.

Attention: Fanfiction ini berdasarkan komik berjudul I Still Love You, by Taamo. Inti ceritanya sama, namun jalan cerita di buat berbeda, dan banyak kalimat yang dikutip dari cerita aslinya. Gamsahamnida

DO NOT TAKE WITHOUT PERMISSION AND FULL CREDITS, Please leave a comment!

Choi Seora POV

“Mau tidak mau kau harus menikah dengan anaknya teman appa, TITIK!”

“Appa! Andwae, aku masih SMA! Aku baru saja berumur 16, Eomma, Appa, aku tidak mau!”

“Seora! Dengarkan dan turuti lah kemauan appamu!” Bentak eommaku.

Fuh, eommaku sama saja dengan appa. Dengan begini, aku sama sekali tidak bisa berkutik lagi.

Yap, Perjodohan memang sudah lazim dimana-mana, kan?
Tapi aku tidak pernah berpikir bahwa aku menjadi salah satu korban perjodohan juga.
Bahkan aku tidak tahu alasan kenapa aku di jodohkan. Tentunya karena bisnis.
Ayolah, aku tidak mau dijodohkan. Tolong aku!!

Haaah, bosan! Setiap bosan begini pasti tujuanku adalah Disc Shop yang tidak begitu jauh dari rumah.

Sampai di sana aku langsung bergegas menuju tempat New Released Album.
Dimana album itu? Covernya sudah habis belum ya?

Nah, Ini dia!
Album ke 5 Super Junior, versi A, covernya Leeteuk! YAY!
Sejak dulu aku memang menyukai namja yang bisa jadi leader yang baik. Kkk~

“Hatchi! Hatchi!!”

Wah, suara bersinnya keras sekali. Sudah mulai musimnya alergi serbuk bunga ya?

“HATCHI! HUATCHI!!!”

Karena kaget aku refleks menoleh pada orang yang tadi bersin. Orangnya cukup besar. Ia menggunakan masker dan topi. Kulihat barang-barangnya berserakkan di lantai. Karena kasihan, aku membantu memungut kepingan-kepingan CDnya.

“Ah, gomawoyo.” Sahutnya.

“Ne.” Jawabku sambil tersenyum.

Kupungut kepingan CD terakhir, yaitu Album Super Junior, bercover Shindong.

“Eh? Hokshi, kau fanboy?”

“Bukan.” Jawabnya dingin. Tiba-tiba orang itu pergi menuju kasir, dan membayar belanjaannya.

Setelah itu dia berjalan ke arahku lagi.

“Ini untukmu, tanda terima kasih yang tadi. ” Orang itu memberikan Album bercover Shindong tadi padaku dan bergegas pergi ke luar Disc Shop.

Orang yang aneh, tapi baik.
Yasudahlah covernya Shindong juga tak apa, yang penting isi lagunya sama. Kutaruh kembali Album bercover Leeteuk di raknya semula.

Malam ini adalah pertemuan keluarga ku dengan keluarga calon suamiku.

Sesampainya di Restoran, tubuh dan pikiranku serasa terombang-ambing. Aku tidak ingin masuk ke restoran itu, tapi aku ingin melihat namjanya. Aku penasaran.

Appa menggenggam tanganku dan menarikku ke dalam restoran.

Cukup banyak orang yang ada di dalam restoran. Membuatku menebak-nebak mana namja yang di maksud appa.

Kami mendekati meja yang sudah di tempati 3 orang. Jangan-jangan?

“Ah, Mr. Shin maaf membuatmu menunggu.” Appa ku menjabat tangan Mr. Shin itu.

“Silahkan duduk.” Sahut Mr. Shin.

Kulihat Namja yang tidak asing lagi di mataku.
Eh? Shindong, Super Junior?

“Neo.. Yeoja yang membantu ku di Disc Shop tadi kan?” Tunjuk Shindong.

“Eh? Jadi tadi…?” Tanyaku kebingungan.

Tunggu sebentar, aku masih bingung dengan apa yang terjadi.

Namja alergi serbuk bunga = Shindong Super Junior = Calon suamiku. WHAT?!

“Kalian sudah mengenal satu sama lain?” Tanya Mrs. Shin.

“Aniyo eomma, tadi siang aku bertemu dengannya di Disc Shop. Itu saja.” Jawab Shindong.

“Seora-yah, perkenalkan dirimu dengan baik di depan keluarga Shin.” Sahut appa ku tiba-tiba.

“Ne. Annyeonghaseyo, Choi Seora imnida…”

Aku dan Shindong-ssi, sudah menikah selama setahun. Tidak banyak yang tahu, hanya keluarga kami dan  tentunya member SJ.

Walaupun dibilang sudah menikah, tapi karena aku masih kecil maka kami tidak tinggal serumah.
Kami juga tidak melakukan hal yang aneh-aneh.
Aku memang ingin menjadi seorang istri, tapi kurasa masa-masa sekolah juga penting.
Karena itulah, aku masih bisa mengajak teman ke rumah, dan menjalani hidup sebagai siswi SMA biasa.
Sebagai gantinya, di akhir pekan aku datang ke rumah Shindong-ssi.
Seperti hari ini.

Ku buka pintu rumah Dongie oppa. Dan seperti yang kuduga, dia berada di ruang latihan dancenya. Suara musiknya terdengar cukup keras, dan tidak mungkin dia mendengarku masuk.

Dari pada mengganggunya berlatih lebih baik aku melanjutkan lagu yang kuciptakan minggu lalu di pianonya. Aku belum menentukan judulnya, tapi inti lagunya bercerita tentang perasaanku pada Dongie oppa.

“Seora-yah? Sejak kapan kau datang?”

Kuhentikan permainan pianoku. “1 jam yang lalu. Oppa, kau sudah makan? Aku bawakan kimbap, sudah kutaruh di meja makan.”

“Ne, gomawo.” Dongie oppa pun pergi meninggalkan ku. Karena malu, aku tidak melanjutkan permainan pianonya. Kutaruh music sheet nya di tempat rahasiaku.

Beberapa saat kemudian rumah jadi sepi. Ternyata, Dongie oppa ketiduran. Pasti dia kecapekan, kimbapnya juga tidak dihabiskan. Lebih baik ku bereskan makanannya.

GREP!

“Eh, oppa? Aku membangunkanmu, ya?”

“Seora-yah…” Panggilnya. Tiba-tiba dongie oppa tertidur lagi, dia mengigau ya?

Hanya waktu tidur begini aku merasa dia dekat. Selama setahun ini aku selalu merasa jauh dengannya. Berkencan saja tidak pernah, dia benar-benar sibuk. Tapi mau bagaimana lagi, miris ya?

Ingin rasanya aku bilang padanya bahwa aku kesepian, sepi sekali.

 Pagi ini aku piket, tapi sepertinya aku kesiangan.

“Oh? Seora-yah, selamat pagi!” Sapa seseorang.

“Pagi juga Jinyoung!” Aku tersenyum padanya.

Jinyoung adalah teman sekelasku, dia adalah leader di kelas kami. Orangnya sering tebar pesona, tapi banyak yang bilang dia tipe cowok ideal.

“Kau piket? Aku juga” Tanyanya.

“Ne.”

“Gaya rambutmu di ubah?”

“Ne, wae?” Kenapa dia menanyakan hal itu?

“Ani, kau lucu.” Jawabnya. Dia memasang earphonenya kembali.

“Sedang mendengarkan apa?”

“Kau mau ikut dengar?” Ku ambil earphone sebelah kanannya dan kutempelkan di telingaku.

“Eh? Andante? Kau menyukai lagu ini?”

“O, cukup banyak lagu SJ yang aku suka.” Jawab Jinyoung tersenyum manis.

“Kenapa?”

“Aku ingin seperti mereka. Cita-citaku adalah menjadi leader sebuah grup boyband terkenal!”

“Siapa member SJ yang paling kau gemari?”

“Leeteuk, menurutku dia leader yang luar biasa! Dan juga Shindong, karena aku menyukai gaya dancenya!”

Mendengarnya aku tersenyum lebar. Kalau ada yang bilang suka tentang orang yang kita sukai, rasanya menyenangkan.

Dari hari ke hari aku dan Jinyoung semakin dekat. Beberapa hari ini sering kali Jinyoung mengajakku makan siang, dan lain lain. Senang ya kalau ada yang di sukai di sekolah. Tertarik pada waktu yang tak terduga, hanya mengobrol saja sudah merasa bahagia, apa mungkin dia juga suka padaku?

“Seora! Hari ini gaya rambutmu beda lagi ya?”

“Hehe, ne.”

Mungkin ini sengaja kulakukan. Kupikir dengan hal bodoh begini, pasti dia akan menyapaku. Berdebar-debar terasa sangat menyenangkan. Aku tidak pernah melalui ini semua dengan Dongie oppa.

DRRRT!

Handphone ku bergetar, dan nama Jinyoung tertera di layarnya.

From: Jinyoung
Jalan-jalan denganku yuk!

To: Jinyoung
Kapan? Dimana?

From: Jinyoung
Noraebang. Hari minggu jam 10, apa bisa?

To: Jinyoung
Karaoke? Baiklah, aku minta izin dulu.

Setelah sampai di rumahku, aku segera menelepon Dongie oppa.

“Yoboseyo? Oppa, kau dimana?” Tanyaku di telepon.

“Di dorm SJ. Ada apa?”

“Oppa, sebenarnya… Jinyoung, yang kuceritakan waktu itu, mengajakku jalan-jalan.”

“Oh, dia… Boleh, pergi saja.” Jawabnya dingin dari telepon. Kenapa dia memperbolehkanku?

“Sepertinya Jinyoung itu suka padaku.” Aku bingung dengannya, tolong bilang ‘jangan pergi’.

“Lalu?”

“Yasudahlah.”

KLIK. Kututup sambungan teleponnya. Hhh~ Dongie oppa pabo.

“Uwaaah, banyak juga orang yang kemari! Baru kali ini aku kemari.”

“Na do. Sepertinya malam harinya juga indah.” Sahut Jinyoung.

“Pemandangan malam, ya? Tapi hari ini aku harus cepat pulang.”

“Benar juga, kalau begitu lain kali. Ah! Lihat, ada photo sticker!”

Wah, banyak sekali yang berpasangan. Apa kami berdua juga terlihat seperti sedang pacaran?
Tiba-tiba aku teringat pada Dongie oppa. Ingin sekali aku pergi kemari dengannya.

“Eh? Seora?” Jinyoung membuyarkan lamunanku. Tanpa sadar, ternyata aku sudah bergelayut ditangan Jinyoung. Refleks ku lepas tangan Jinyoung dari pelukanku.

“Ah, mianhae. Kebiasaanku tiba-tiba muncul.” Jawabku.

“Gwaenchana. Ayo, gandengan.” Sahutnya sambil tersenyum.

Entah kenapa aku merasakan debaran yang hebat. Aku ingin merasakannya juga dengan Dongie oppa.
Ah benar juga. Dongie oppa sekarang sedang apa? Rasanya aneh. Biasanya akhir pekan begini aku di rumah Dongie oppa, latihan mengurus rumah. Apa dia sudah makan? Sudah mandi?

“Yap, ruang karaoke nya sudah ku pesan! Kaja!”

Shin Dong Hee POV

Bruk! Brak! Bruk!

Ah, sial! Buku catatan kumpulan Rap yang  pernah kubuat jatuh berantakan.

Eh? Tapi apa itu? Sejak kapan aku menulis not-not balok yang sangat panjang? Aku tidak pernah menulis lagu sepanjang itu? Apa salah satu member SJ meninggalkannya? Lebih baik ku bawakan saja ke Dorm.

Ting Tong!

Pintu dorm di bukakan Ryeowook.

“Eh, hyung?  Ada apa? Masuklah! Disini hanya ada aku dan Sungmin hyung.”

“Hey, kalian berdua! Apa ada diantara kalian yang mempunyai ini?” Sahut ku sambil mengacungkan beberapa lembar music sheet.

“Coba kulihat!” Seru Sungmin.

“Ah, ini bukan punya ku, apa ini punya mu wookie?” Lanjut Sungmin. Lembaran itu pun diambil alih Ryeowook.

“Music Sheet? Ini bukan punyaku. Waah, lagunya bagus sekali. Sungmin hyung! Coba mainkan!”

“Lalu ini punya siapa?” Tanyaku kebingungan.

Tring~ Sungmin mencoba memainkan music sheet itu.

We spent so much time together
can you hear this song?
There’s not a thing that can stop me from looking at you
I’ll give you my everything

I love you
More than anyone I know
the person I’m always missing
I wonder if you’ll say you love me too
the day when you come to know my heart

When you don’t look at me
when you don’t talk to me
my heart becomes heavy
Drop by drop, my tears are falling against my chest

I miss you
I’m lonely
slowly, it becomes pain.
Where are you? Can’t you hear my voice?
My pained heart is looking for you
calling you…

Please say that you love me too…
Please love me forever..

“Wah, Shindong hyung, lagu ini bagus sekali! Sungmin hyung, permainan mu jjang!” Seru Ryeowook.

“Geunde, ini punya siapa ya?” Tanya Sungmin masih penasaran.

“Hokshi, apakah ini punya Seora?”

“Mungkin saja hyung! Apa akhir-akhir ini dia memainkan piano mu hyung? Aaaaah masakan ku gosooong!” Seru Ryeowook panik. Akhirnya Ryeowook meninggalkan Shindong dan Sungmin berdua saja.

“Iya, setiap kali dia main kerumahku dia selalu memainkan piano ku.” Jawabku.

“Tuh kan, berarti ini memang punya Seora. Eh, aku penasaran dengan lirik lagunya, kenapa begitu menyedihkan ya? Hyung, apa kau pernah menyakiti Seora?” Lanjut Sungmin.

“Eish, ya nggak mungkin lah aku nyakitin Seora!”

“Kalau begitu, apa kau pernah bilang bahwa kau mencintainya?”

Ah, itu dia! Dari awal sampai detik ini aku belum pernah mengatakan bahwa aku mencintainya. Aku baru sadar. Itu alasan kenapa dia buat lagu itu. Seora mencintaiku, tapi aku belum mengatakan bahwa aku mencintainya. Di tambah lagi aku yang terlalu sibuk sehingga tidak pernah menampakan bahwa aku menyayanginya dan mencintainya. Huh, berkencan saja belum pernah. Dia kesepian.

Huuuf, aku ingin bertemu dengan Seora sekarang dan meminta maaf.
Arggh, waktu kemarin kan dia minta izin pergi dengan seorang namja bernama Jinyoung! Kenapa aku tidak tanya kemana mereka pergi ya? Seora adalah tanggung jawabku. Ah, sungguh bodoh!

Akhirnya aku langsung menelepon Seora

“Seora-yah, kau dimana?”

“Noraebang. Everysing yang di myeongdong. Ada apa?”

“Jangan kemana-mana, tetaplah disitu!”

KLIK.

“Sungmin, Ryeowook, aku pergi dulu! Kanda!”

Choi Seora POV

Apa maksud Dongie oppa?

Kami sudah keluar dari ruang karaoke.

“Seora, kau lapar?” Tanya Jinyoung.

“Ah, ne. Eum, tapi sepertinya di luar hujan. Eottokhae?”

“Bagaimana ya? Ah itu ada stand ice cream, kau mau?”

“O, baiklah, sambil menunggu hujannya reda.”

Aku memesan rasa chocomint dan Jinyoung memesan rasa tuttifruity. Haha, lucunya.

“Duduk di situ saja.” Ajak Jinyoung.

Aku memakan ice creamnya pelan-pelan, karena Dongie oppa memintaku untuk diam di sini.

“Seora, kenapa kau lama sekali makannya? Sepertinya diluar hujannya hanya tinggal rintik-rintik saja.”

“Eum, baiklah. Ayo ke depan, kita lihat seberapa besar hujannya.”

Di depan everysing aku berusaha mencari keberadaan Dongie oppa, tapi nihil. Apa maksudnya menyuruhku menunggu di sini?

“Seora, suaramu bagus sekali tadi! Dan, kau benar-benar cantik.”

“Ahaha, kau juga, aku sangat menyukai suaramu! Ku doakan supaya cita-citamu tercapai ya!”

GREP
Tiba-tiba tangan Jinyoung menggenggam tanganku erat.

“Seora, bisakah kau menyukai diriku? Bukan hanya suaraku, tapi semua tentangku, bisakah? Bagaimana kalau kita pacaran saja?” Lanjut Jinyoung, sekarang dia memelukku.

“Johaeyo, Seora.” Bisiknya ketika memelukku.

“HATCHI!” Seseorang di belakangku bersin tiba-tiba. Refleks aku melepas pelukan Jinyoung.

“Mm, mianhae Jinyoung. Aku tidak bisa, aku sudah mencintai orang lain.”

“Benarkah?” Tanyannya, aku menjawabnya dengan anggukan mantap.

“HUATCHHI!” Orang di belakangku terus bersin, membuatku teringat dengan pertemuan pertamaku dengan Dongie oppa.

“Ah, chogiyo. Hokshi, kau Shindong Super Junior?” Sahut Jinyoung. Aku pun menoleh pada orang yang dimaksud Jinyoung.

“Eh? Oppa?”

“Ne, apa kau yang bernama Jinyoung? Terima kasih atas hari ini, sudah menjaga istriku dengan baik” Jawab Dongie oppa. Jinyoung tidak menjawab apa-apa, sepertinya dia kaget sekali.

“Kupinjamkan payung ini padamu. Pulanglah. Hati hati, jangan sampai masuk angin. Dan satu lagi, tolong rahasiakan tentang hari ini ya. Nanti kuberi imbalan tanda tangan, hahaha.” Lanjut Dongie oppa.

“I, iya.” Jawab Jinyoung dengan gugup.  Akhirnya Jinyoung memilih untuk pulang duluan. Kulambaikan tanganku padanya.

“Nggak kusangka oppa benar-benar datang.”

“Tentu saja! Eum, Seora-yah ada yang ingin ku bicarakan.”

“Apa?”

“Lagu yang kau buat… Aku menyukainya.”

“Eh? Lagu? Kenapa oppa bisa tahu?”

“Kau nggak pandai menyembunyikan music sheet mu.”

“Eish, padahal udah aku sempil sempilin.”

“Seora-yah, aku yakin lagumu itu seperti menggambarkan apa yang sebenarnya kau rasakan, benarkan? Jadi aku sedikit takut.. Maafkan aku Seora.. Awalnya kupikir, ah nggak apa-apa kalau cuma kencan dengan teman sekelas. Kau kan masih SMA, masa begitu saja nggak kuizinkan.” Terang Dongie oppa.

“Oppa, kau cemburu ya?”

“Aakh, aku? Ce, Cem, Cemburu? ANIYO.”

“Dongie oppa, aku senang sekali kau menjemputku. Karena itu, sampai di rumah lupakan pekerjaanmu dulu, ya?”

CUP

Kucium pipi Dongie. Hahaha, dia benar-benar lucu, mukanya sedikit merah.

“Seora, ini kan di luar.”

“Tutupi saja dengan payung, lagipula nggak ada orang.”

Selama satu tahun ini Dongie oppa nggak pernah menyentuhku lebih dari menggelayut di tangannya. Tapi saat ini aku senang, mukanya dekat sekali denganku, sangat sangat sangat dekat. Dan sekarang jantungku seperti akan meledak. Aku terlalu senang.

Kulepas topi yang berada di kepalanya agar tidak mengganggu. Deru nafasnya semakin terasa, tak lama setelah itu bibirnya menyentuh bibirku, aku berjinjit dan menggelayut memeluk lehernya, lalu dia memeluk pinggangku dengan sebelah tangan, tangan yang satunya lagi menggenggam payung. Adegan ini terlalu manis.

Tapi aku masih merasa ada yang kurang. Ah, kalimat itu!

Tadinya aku masih ingin berciuman dengannya, tapi dia melepaskannya duluan. Tidak apalah, aku yakin sekarang dia akan mengatakan kalimat ajaib itu.

“Saranghae, Shin Seora. Jeongmal saranghae”

Senyum di bibirku mengembang. Aku terkikik mendengar namaku diganti, dari Choi Seora menjadi Shin Seora.

Namaku Shin Seora, istrinya Shin Dong Hee.
Ciuman pertama kami yaitu ketika gerimis, di bawah payung.

Hanya dengan hal sederhana begini, kami merasa menjadi orang paling bahagia, dan kami sangat bersyukur dengan keadaan kami.

THE END

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s