Lies (Chapter 2 – END) (Angst Version)

Ini bonus chapter yang aku bilang. Angst version dari Chapter 2.
Awalnya memang sama dengan yang versi awalnya, tapi aku kasih tanda  pas bagian yang berbedanya. Jadi kalaupun nggak baca Chapter 2 versi awalnya juga nggak apa apa.

So, which chapter do you prefer?

Aku buat ini, soalnya akhir-akhir ini aku lagi sering baca FF angst, nggak tau kenapa. Terus aku nemu FF yang terinspirasi 7 Years of Love. Terus aku coba baca translated lyrics nya yang memang dalem banget. Yah basically FF ini aku buat terinspirasi dari bait terakhir liriknya. Hope you like it, sorry if it’s weird.

My first angst fanfiction.

_____________________________________________________________

By Zaskia Aruni Makarim (@zaskiarunim)

Attention: Ini hanyalah fanfiction, bila FF ini mirip dengan cerita lain hal ini hanyalah ketidak sengajaan, Gamsahamnida.

Inspired by : Kyuhyun – 7 Years of Love ♫ (ada di sidebar~^^)

DO NOT TAKE WITHOUT PERMISSION AND FULL CREDITS,
Please leave a comment~

_____________________________________________________________

For the only words I wanted to hear was that you loved me

Aku tidak mau menjadi tembok penghalang untuk masa depanmu.
Aku tidak mau mempersulit pilihanmu.

Mianhae Lee Sungmin, aku berbohong padamu.

Flashback – 2001 (Min Sa POV)

“Kau mau minum?” Tanya Sungmin, aku mengangguk. Dia pun keluar kamar.

Sejak tadi ada sesuatu yang menggangguku. Sebuah amplop berlabel SM ENTERTAINMENT yang tergeletak di meja belajar Sungmin begitu saja.

Aku tahu aku tidak seharusnya menyentuh ini, tapi aku bisa mati penasaran kalau tidak membukanya.

Mianhae Minnie..

Kuraih amplop itu, dan untungnya sudah terbuka.

CONGRATULATION TO LEE SUNGMIN!
1st SM Youth Best Selection Best Outward Appearance in 2001

Eh, mwoya?! Kenapa dia tidak member tahuku tentang ini? KEJAM!

Kubaca semuanya dengan cepat, dan inti dari isinya adalah Sungmin diterima menjadi trainee di SM Entertainment.

SUNGMIN TERLALU KEJAM! Ketika dia kembali akan kuhajar karena tidak memberitahuku!

Tu, tunggu sebentar… Aku melihat sesuatu yang menarik perhatianku. Sebuah persyaratan yang membuat jantungku seperti menghilang dalam sekejap lalu kembali lagi.

Sungmin tidak boleh berhubungan denganku lagi. Kalau tidak, dia tidak bisa diterima menjadi trainee.

Bagaimana ini? Aku mencintainya, sangat mencintainya.. Tapi, aku tidak bisa egois. Ini impian Sungmin selama ini, aku tahu betul itu.

Aku mendengar derap langkah Sungmin. Surat itu segera kumasukan dan kutaruh di tempat yang tadi. Kuharap dia tidak menyadarinya.

Pintu kamarnya terbuka, sepertinya dia melihat raut mukaku yang terlihat seperti menutupi sesuatu. TOLONG AKU! AKU BENAR-BENAR GUGUP!

“Kau kenapa? Ada yang aneh?”

“Tidak kok! Hei Minnie, kau sudah selesai dengan CD yang kupinjamkan itu?” Aku berusaha mengganti topiknya. Namun aku gagal  karena topik itu malah menjadi awal dari kehancuran.

CD ku hilang dan aku tidak tahu apa yang akan kulakukan agar aku tidak menjadi penghalang cita-citanya Sungmin.
Oh, great!

Moodku hilang, aku pun pulang dari rumah Sungmin.

A TOTAL DISASTER!

Aku tidak bisa tidur semalaman, memikirkan apa yang harus ku lakukan sambil menangis.

Dan pagi ini mataku SUPER SEMBAP. Tch, such an Idiot!

Kupakai kacamata yang tidak ada ukurannya, hanya sebagai penutup agar mataku yang sembap tidak terlihat. Aku pun segera pergi ke sekolah.

Di depan rumah, Sungmin berjalan bolak-balik terlihat sangat tegang.
Maafkan aku Minnie, keputusan yang kupikirkan semalaman sudah bulat.
Jeongmal mianhae.

“Min Sa..”

“Eum?” Aku berusaha menguatkan keputusanku dan bertekad untuk tidak luluh di tengah-tengah.

Kehancuran pun ku mulai.

“Minnie. Kita… putus saja ya.” Raut muka Sungmin berubah semakin tegang.

Aku harus mengatakan hal yang membuatnya benci denganku. Aku berusaha menatap wajah Sungmin, tapi ternyata ini lebih sulit dari yang kuduga.

“Aku kecewa denganmu. Aku.. membenci mu.” Sungmin membeku. Aku menarik nafas dalam-dalam, “Kita sudahi saja ya. Maaf”

Yup, hancur begitu saja.
Gedungnya sudah hancur berkeping-keping karena kuledakan beberapa kali.

Hari ini adalah ulang tahunku yang paling buruk. Sangat buruk

Sungmin minta maaf padaku dengan segala cara setiap hari. Setiap hari semakin sulit untuk menghindarinya.

Dia juga memberikanku sebuah tiara kecil yang benar-benar cantik. Aku sangat menyukainya. Aku yakin  tiara ini adalah kado ulang tahunku. Tapi maaf Minnie, aku tidak bisa menerimanya.

Dia benar-benar mempersulit semua ini, padahal aku sudah bertekad agar tidak luluh di tengah jalan.

Satu tahun lewat.
Aku mendengar gosip itu. Gosip tentang Lee Sungmin sudah menjadi seorang trainee.
Dan ternyata itu bukan hanya gosip! Dia benar-benar sudah menjadi seorang trainee.

Ingin rasanya memeluknya dan mengucapkan selamat.
Tapi kepingan dari runtuhan gedung itu belum ku rapihkan, sehingga aku tidak bisa membangun gedung lain di situ.

Aku bahagia dia bisa meraih cita-citanya, walaupun memang ada yang harus di korbankan.

Flashback ends

Author POV

Pernikahannya berjalan dengan sangat lancar. Bunga pun berhamburan di mana-mana.

Sungmin terlihat bahagia seperti member SJ yang lainnya. Hanya saja masih ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, Min Sa.

Tiba-tiba Sungmin berlari keluar dari ruangan.

“Sungmin Hyung! Kau mau kemana?” Teriak Eunhyuk.

“Mobil, mengambil sesuatu!” Jawabnya.

Different version starts here!

Sungmin berlari secepat mungkin bersama sebuah CD yang pernah ia hilangkan dulu. Ia menggenggamnya kuat-kuat.
Sesampainya di lobby Sungmin mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan, berharap bisa bertemu dengan orang yang ia tunggu-tunggu selama, kurang lebih 10 tahun.

“Sungmin-ssi?”

Seseorang memanggil Sungmin dari belakangnya. Ketika Sungmin membalikkan badannya, ia melihat seorang perempuan yang sedang tersenyum dengan smile eyes nya.

Dia berubah. Dia.. sangat cantik.
Pikir Sungmin.

“Lama tidak bertemu, Sungmin… ssi.”

“Kenapa kau memanggilku begitu? Bukankah dulu kau biasa memanggilku Minnie?”

Min Sa tersenyum kecil, tidak tahu harus menjawab apa. Suasananye terasa aneh.

“Min Sa, dulu.. kenapa kau pergi?”

“Kurasa kau sudah tahu.” Jawab Min Sa, masih dengan senyuman yang sama.

“Karena kau terlalu mencintaiku kan?”

Min Sa mengangguk, “Kau benar.”

“Aku tidak sebodoh yang kau kira Min Sa.. Kau tidak pintar berbohong.” Sungmin tertawa.

“Aku tahu. Aku tahu bahwa kau sudah mengetahui semua alasanku dulu.” Min Sa yang tadi tersenyum, sekarang menundukan kepalanya “Sungmin, aku ingin mem…”

“Bogoshipeo..”

Sungmin tiba-tiba memeluk Min Sa, dan membisikan kata itu.

“Apakah kau masih mencintaiku?”

Tolong katakan bahwa kau masih mencintaiku, Go Min Sa.. Jebal..

Tanpa sepengetahuan Sungmin, air mata Min Sa jatuh di pundak Sungmin.

Min Sa mendorong Sungmin kecil agar pelukannya terlepas.

“Aku ingin memberikan ini.” Min Sa menyodorkan sesuatu pada Sungmin

“Jawab pertanyaanku dulu Min Sa!”

Min Sa tidak menjawab sepatah katapun, ia malah semakin menyodorkan sesuatu di tangannya itu.

“Ini untukmu…”

“Min Sa.. Apa ini?”

“Bacalah.”

Para tamu pernikahan kebanyakan sudah pulang, sehingga lobby gedung terasa sangat hening.
Sungmin membacanya dengan teliti. Awalnya dia tidak percaya dengan apa yang ia baca. Sungmin membacanya berulang-ulang dan semua kata ia perhatikan dengan baik-baik. Dan itu tidak merubah kenyataan bahwa..

“Aku akan menikah.”

Min Sa membungkukan badannya dan segera pergi.
Meninggalkan Sungmin yang terdiam. Mencerna semua yang terjadi, kejadian ini kurang lebih sama dengan dulu.

Sungmin mengutuk dirinya sendiri, kenapa harus selalu dia yang ditinggal? Apa yang harus ia lakukan di saat seperti ini? Sungmin tidak ingin melepas Min Sa sama sekali, tapi pernikahan adalah hal yang terlalu berat untuknya.

Selama kurang lebih 10 tahun ini, aku selalu menunggu saat saat untuk bertemu dengannya. Tak terhitung berapa kali aku memikirkannya.
Tiba-tiba dia datang.
Sesaat aku merasa 10 tahun menunggunya hanya seperti 1 tahun.
Tapi ternyata semua ini berbanding terbalik dengan apa yang aku bayangkan. Hanya dengan satu kalimat, aku merasa 10 tahun itu berubah menjadi 100 tahun. Ini terlalu berat. Lebih berat dari yang dulu.

Batin Sungmin.

“Tunggu!”

Min Sa membalikan badannya.

“Ini. Apakah kau ingat dengan ini?” Sungmin menyodorkan CD yang ia genggam sejak tadi dengan tangan kirinya.

“CD ini… Milikku.”

“Iya, aku menemukannya.”

“Terima kasih” Min Sa berjalan mundur pelan-pelan sambil melambaikan tangannya tanda perpisahan.  Tak lama setelahnya ia membalikkan badannya dan berjalan pergi.

Dengan cepat Min Sa mencegat taksi yang lewat. Ia tidak ingin bertatapan lagi dengan Sungmin. Sekali lagi menatap wajahnya mungkin ia akan menangis di hadapannya.

“Ahjusshi, kau punya tissue?” Tanya Min Sa pada supir taksi.

“Gamsahamnida.”

Min Sa memperhatikan CD yang tadi di berikan Sungmin. CD itu bukan pengganti, CD itu memang miliknya. Tiba-tiba air mata Min Sa menetes di CD tersebut. Dada Min Sa terasa sangat sesak dan sakit. Semua ia tidak bisa membendung semua kesedihannya, akhirnya Min sa menangis sejadinya. Tidak peduli dengan supir taksi yang diam-diam memperhatikan Min Sa dengan iba.

Aku masih mencintaimu Lee Sungmin.

Tangisan Min Sa Semakin menjadi, ia menelungkupkan mukanya di kedua telapak tangannya. Kalimat itu yang seharusnya ia katakan ketika Sungmin memeluknya tadi. Min Sa masih merasakan hangatnya pelukannya.

Aku tahu, hidupku memang penuh dengan kebohongan.
Maafkan aku..

Tring!
Handphone Min Sa bergetar. Sebuah pesan masuk.

From: Ki Young
Apa kau sudah memutuskan yang terbaik untukmu?

To: Ki Young
Sudah. Aku tidak akan merubahnya, aku tetap akan menikah.

From: Ki Young
Kau yakin? Kau bukan di ciptakan hanya untuk membahagiakan orang lain Min Sa…

To: Ki Young
Aku tahu. Tapi bagaimanapun juga aku harus tetap membahagiakan kedua orang tuaku.

From: Ki Young
Dengan cara ini kau tidak akan bahagia! Kembali lah pada Sungmin Oppa.

To: Ki Young
Tidak bisa.

Handphone Min Sa tiba-tiba bergetar.
Ki Young calling

“Yoboseyo?”

“Min Sa-yah! Apa kau bodoh?! Kau ini terlalu baik. Jangan hidup dibawah kebohongan untuk menyenangkan orang lain sedangkan kau tidak! Kau pikir hanya kau yang tersakiti?! Sungmin oppa juga! Kau juga harus bahagia di dalam hidupmu sendiri!!” Ki Young berbicara dengan nada yang meninggi karena ia merasa Min Sa terlalu keras kepala.

“Appa ku sakit keras Ki Young-ah.”

Klik.
Min Sa menekan tombol merah di handphonenya.

Tidak lama setelahnya sebuah message masuk.

From: Ki Young
Jeongmal mianhae Min Sa.. Aku tidak tahu. Maafkan aku sudah memaksamu dan membentakmu tanpa tahu alasannya. Maukah kau memaafkanku?

To: Ki Young
Tentu saja. Jangan sampai kau beritahu alasan aku menikah pada Sungmin ya!

THE END

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s