[Requested] 7 Years of Love

Requested by: Ghina F

Hehe, she’s actually my junior high school friend~

Hi Ghinaaa, lama nggak ketemu ya! Makasih udah ngereques ya!

p.s. tolong promote ya Fanfiction Request nya! Hehehe, Gamsahamnida~^^ 

Aku bikin ini sekitar 2 atau 3 minggu ya? Hehe, maaf ya kelamaan.

Anyway, request yang ini di buat berdasarkan lagunya Kyuhyun – 7 Years of Love. Sebelumnya aku juga udah pernah bikin cerita based on 7 Years of Love tapi main cast nya Sungmin, judulnya Lies (check Library untuk lebih lanjut). Tapi sekarang Main Cast nya Kyuhyun! Wah, Kyuhyun laku bener ya, di request 2 kali berturut-turut!

So, ini dia~ Cho Kyuhyun dan Choi Gi Na 😉 Semoga suka!

Warning: POV nya berubah-ubah, maaf ya ><

Yang mau coba request click here! Check juga page baru di Recommended Page! Ada Recommended FF, K-Dramas, K-Movies, sama Books yang mengandung unsur Korea. Books on Sale! juga page baru yang berisi buku-buku bekas yang di jual murah, tergantung dengan quality nya. Beberapa mungkin masih Coming Soon karena waktu yang aku punya untuk menghias page itu cukup terbatas. So just check it, you won’t regret it!

P.P.S. Happy anniversary yang ke 7 SJ! 7 Years of Super Junior! 

____________________________________________________________

By Zaskia Aruni (@zaskiarunim)

Attention: Ini hanyalah fanfiction, bila FF ini mirip dengan cerita lain hal ini hanyalah ketidak sengajaan, Gamsahamnida.

DO NOT TAKE WITHOUT PERMISSION AND FULL CREDITS, Please leave a comment~

____________________________________________________________

There’s always a rainbow after the storm – Unknown

Janji
Sesuatu yang harus di tepati.

Perpisahan
Sesuatu yang menyakitkan.

Kenangan
Sesuatu yang sulit di lupakan.

Waktu
Sesuatu yang terus berjalan dan tidak bisa di putar balik.

Tapi kenapa semua itu dianggap mudah? Janji yang tidak di tepati, perpisahan yang terlalu cepat sehingga rasa sakit itu tidak ada, kenangan selama bertahun-tahun yang hilang begitu saja, sedangkan waktu hanya dianggap sebagai aksesoris.

Ah, ada satu hal lagi…

Cinta
Sesuatu yang mencakup semuanya.

Orang bilang, yang kau butuhkan hanyalah cinta.
Aku sendiri tidak mengerti kenapa, yang aku tahu cinta menghancurkan semuanya.

Semuanya.

2001

How did we at such a young age
Meet each other, I don’t even remember how

Aku sendiri tidak tahu bagaimana kami pertama kali bertemu.
Aku sudah lupa…

Atau mungkin sengaja melupakannya.

Yang kuingat, aku mengenalnya karena rumahnya bersebelahan denganku, ketika aku baru menginjak sekolah menengah pertama.

“Namaku Choi Gi Na! kau?” Senyum lebarnya, rambut hitam pekat yang di ikat poni, dan matanya yang bersinar, ia memperkenalkan dirinya dengan bersemangat.

Tidak ada satu katapun yang keluar dari mulutku, seperti tertahan. Beberapa kali kucoba untuk menelan tapi tidak keluar juga.
Aku tahu saat itu aku gugup.

Akhirnya aku menghembuskan nafas karena dadaku serasa akan meledak.
“Kyuhyun… Namaku Cho Kyuhyun.”

2002

At first friends then next as lovers

Sahabatku ini menjadi namja yang populer dalam sekejap.

Dia pintar, dia tampan, latar belakang keluarganya pun baik, apa yang kurang?
Oh, ada satu yang kurang… Sifatnya!

Tidak mau kalah, jahil, dingin, tidak peduli dengan sekitarnya, tapi namja seperti itu lah yang di kejar oleh yeoja-yeoja satu sekolah ini. Semua yeoja mengejarnya, bahkan ketika aku sedang berbicara dengannya yeoja-yeoja mengerikan itu mendorongku agar mereka mendapat tempat di sebelah Kyuhyun. Mengerikan, sungguh mengerikan.

Karena itu lah aku tidak suka dengan predikatnya sebagai namja terpopuler di sekolah.
Selain itu karena aku… tidak mau dia dekat dengan yeoja lain.
Aku tidak suka, dadaku seperti di tekan dengan kencang ketika ia bersama yeoja lain.

Di tengah tahun, aku baru sadar bahwa sedikit demi sedikit aku menyimpan rasa pada Kyuhyun. Berkali-kali aku mencoba untuk menyangkalnya. Tapi, semakin aku menyangkalnya semakin aku sadar bahwa aku menyukainya.

Aku tidak tahu harus bagaimana, aku ini tipe orang yang tidak suka memendam rasa lama-lama. Kalau terlalu lama dipendam, rasanya ingin meledak. Tapi yang membuatku bingung, aku ini adalah sahabatnya. Aku hanya sebatas sahabatnya, dan dia hanya sebatas sahabatku, tidak lebih. Hal lain yang membuatku bingung adalah sifatku yang kurang percaya diri. Aku ini bukan yeoja tercantik di sekolah, otakku tidak seencer yeoja yang sering berada di peringkat teratas, aku tidak punya aegyo, aku tidak bisa berdandan, aku tidak punya sesuatu yang lebih. Aku merasa berdiri di garis ‘biasa saja’, tidak ada yang mampu mendorongku keatas.

Sudah kubilang aku tidak suka memendam perasaan.
Akhir-akhir ini aku menghindari Kyuhyun. Biasanya aku pergi dan pulang ke sekolah bersamanya, mengerjakan pr bersama, tapi sekarang aku selalu beralasan untuk tidak bertemu dengannya, di kelas pun aku duduk di bangku yang jauh dengannya. Aku tahu ini tidak baik, tapi kalau aku terlalu lama bersamanya, bisa-bisa aku memuntahkan perasaan ku dengan berteriak sekencangnya. Aku tidak mau itu terjadi. Di rumah aku sering menangis seperti orang bodoh.

Sepulang sekolah aku tidak melihat Kyuhyun di manapun. Syukurlah, aku tidak perlu mencari alasan bodoh lagi. Dengan cepat aku berjalan pulang ke rumah. Aku terbiasa berjalan dengan menunduk, bukan melihat lurus kedepan. Alasannya sih karena aku tidak suka menginjak sesuatu yang  seharusnya tidak di injak. Tapi alasan tetaplah alasan, pasti ada sesuatu di baliknya. Jujur, aku menunduk karena tidak percaya diri.

Tiba-tiba seseorang menarik pergelangan tanganku, kemudian tubuhku terbanting ke arahnya dan orang itu memelukku dengan erat. Ketika aku berniat untuk berteriak, orang itu membisikan sesuatu di telingaku.

“Ssh.. Gi Na…”

Suara itu… Kyuhyun…

Otaku menyuruhku untuk melepaskan diri dan pergi, tapi entah kenap , sekujur tubuhku tidak mau mengikutinya. Akhirnya, aku hanya bisa pasrah, jantungku sudah berdetak tidak karuan, nafasku pun tidak teratur.

“Kau ini kenapa?!” Kyuhyun melepaskan pelukannya dan membentakku sambil memegangi pundakku dengan kedua tangannya. Entah karena kaget atau karena apa, suaraku tidak kunjung keluar.

“Gi Na, jawab aku! Kenapa kau menghindariku? Apa salahku?” Suara Kyuhyun melembut. Lagi-lagi suaraku tercekat, aku bingung harus menjawab apa. Aku tidak bisa menatap matanya, sehingga pandanganku jatuh ke aspal yang keras. Tanpa sadar air mata ku menetes sedikit demi sedikit, kemudian mengalir terus menerus. Aku berusaha memejamkan mataku agar air mata itu berhenti, dan mengunci mulutku agar tidak ada suara yang keluar dan Kyuhyun tidak akan mendengarnya. Tapi dadaku menjadi sakit, semakin aku menahannya semakin keras tekanan yang menekan dadaku, sesak. Tubuhku pun bergetar, dan Kyuhyun melihatnya.

“Kau… menangis?” Kyuhyun terlihat bingung, ia ingin menyentuh pundakku tapi tidak jadi dan menarik tangannya kembali, ia benar-benar bingung dengan situasi seperti ini. Dadaku semakin sesak dan tangisanku pun tumpah.

MianhaeMianhae Kyuhyun… Mianhae…” Hanya kata maaf yang bisa kuucapkan saat itu. Aku tahu aku tidak punya alasan lain, aku harus jujur dengan perasaanku. Sudah cukup, aku tidak mau memendamnya lebih lama lagi.

Aku menjelaskan semuanya ketika tangisanku mereda. Sejak tadi ia memelukku dan menenangkanku. Sekarang, aku tidak peduli apa jawabannya, aku bersyukur bisa menjadi sahabatnya, dan aku bersyukur dia adalah sahabatku.

Na do saranghae, Gi Na.” Itu lah kalimat yang keluar dari mulutnya setelah aku mengeluarkan seluruh perasaanku.

Dia menjelaskan tentang perasaannya padaku, tentang pertemuan pertama kita tahun lalu, dan yang lainnya. Ia juga berkata bahwa ia beruntung mempunyai sahabat sepertiku dan ia juga berharap lebih dari sekedar sahabat.

Akhir yang indah?

Belum.

2003

They said saying goodbyes are painful
But I didn’t even have time to feel that
I just thought this is the way staying composed

But I cried

Hubungan kami tersebar luas. Awalnya, yeoja-yeoja berisik itu berteriak-teriak tidak karuan, sedangkan teman-teman ku menggodaku setiap aku bersama Gi Na. Sepertinya banyak yang berpacaran di sekolah ini, tapi kenapa ketika aku berpacaran semuanya heboh, sungguh bodoh.

100 hari, 200 hari, hingga satu tahun pun hubungan kami masih berjalan dengan baik.

Tapi entah kenapa dua minggu yang lalu Gi Na tiba-tiba loyo dan sedikit menjauhiku. Aku pikir waktu itu dia sedang datang bulan dan aku memakluminya. Tapi datang bulan tidak mungkin lebih dari 2 minggu, sampai saat ini Gi Na terlihat tidak sesemangat biasanya dan sering diam.

Saat ini jam makan siang sudah tiba, tapi Gi Na masih duduk di bangkunya entah sedang memikirkan apa.

“Gi Na!” Aku mengejutkannya dari belakang.

“Ya!” Gi Na terlihat kaget dan memukul ku beberapa kali.

“Kau sedang apa? Tidak makan?” Aku duduk menghadapnya di bangku yang ada di depan bangku Gi Na.

“Ah ani, aku tidak sedang apa-apa.” Ia tertawa kecil tapi terdengar canggung. Aku tidak bodoh, pasti ada sesuatu di balik ini.

“Kyuhyun, ada yang ingin aku bic…”

“CIEEEEEEE!” Sampai saat ini anak-anak di kelas masih sering menggodaku dan membuat keributan. Karena kesal aku malah mengejar anak itu.

Saat itu aku tidak sadar bahwa aku meninggalkan Gi Na di kelas. Sungguh bodoh ya?

Selesai makan siang aku di panggil wali kelas ke ruang guru karena aku lah ketua kelasnya.

“Kyuhyun, kau… sudah tahu kan? Bisa kah kau mengumumkannya di kelas hari ini?”

“Sudah tahu apa?” Entah kenapa raut wajah wali kelas terlihat tidak baik.

“Tentang Gi Na…”

Jantungku terasa berdetak lebih cepat, aku merasa berita ini tidak terlalu baik.

“Kenapa dengan Gi Na?”

“Gi Na belum memberi tahumu?” Lagi-lagi raut wajah nya menunjukan sesuatu yang salah.

“Memberi tahu apa?”

“Minggu ini adalah minggu terakhir Gi Na di sekolah ini, ia akan pindah ke luar negeri.”

Tubuhku serasa membeku sedingin es, sekaku patung, dan pikiran ku kosong.
Gi Na… pindah ke luar negeri? Kenapa? Dan kenapa ia tidak memberi tahu ku?

Aku berlari ke kelas dan meninggalkan ruang guru begitu saja. Hanya satu tujuanku yaitu Gi Na.

“Kenapa kau tidak memberi tahuku?” Itu kalimat pertama yang keluar dari mulutku setelah bertemu dengan Gi Na. Sedangkan Gi Na terlihat kaget, tidak ada satu katapun yang keluar dari mulutnya.

“Kau hanya bercanda kan?” Dadaku terasa sesak, aku menggoyang-goyangkan tubuh Gi Na yang mulai mengalihkan pandangannya dariku. Aku tidak suka ketika Gi Na mengalihkan pandangannya dariku karena pasti ada sesuatu yang salah. Tapi Gi Na tetap tidak mengatakan apapun.
Tubuhku lemas, nafasku rasanya tertahan. Minggu ini minggu terakhirnya? Sekarang hari apa? Ah, Rabu. Berarti hanya tinggal 5 hari lagi dengan hari ini?! Aku tidak percaya ini…
Kututup mukaku dengan kedua tanganku, kepalaku terasa berat. Ketika aku hendak membalikan tubuhku Gi Na menahan pergelangan tanganku.

“Kyuhyun…”

Gi Na masih menundukan wajahnya, poni nya menutupi wajahnya, tapi aku tahu dia sedang menangis. Ketika seseorang menangis tanpa suara, berarti hatinya benar-benar sakit. Hati Kyuhyun hancur berkeping-keping melihatnya. Kemudian Kyuhyun memeluk Gi Na dengan erat, menatap langit-langit sekolah dan berharap semua ini tidak nyata, meskipun ia tahu ini nyata.

Ini lah kenyataannya.

2004 – 2006

We said we’d stay as friends even if we separated
During those 3 years spent alone
We contacted each other sometimes

Even if I met someone else again
Even if I loved again
Whenever I was sad I would call you without a word just tears falling
You have to meet a good person

Hubungan kami berakhir saat itu, tapi kami berjanji untuk saling menghubungi dan tetap menjadi teman dekat.

Di tahun pertama kami masih sering menghubungi satu sama lain meskipun tidak terlalu sering karena biaya interlokal yang mahal. Entah kenapa meskipun kami setuju untuk kembali menjadi teman tapi suasananya jadi berbeda, agak canggung. Jujur, terkadang aku meneteskan air mataku saking rindunya. Aku tahu ini berlebihan, tapi begitulah faktanya.

Masa-masa SMA sungguh menyita waktu dengan tugas-tugasnya dan aktivitas yang tidak ada habisnya sehingga kami semakin jarang menghubungi satu sama lain. Semakin jarang sampai tidak sama sekali. Padahal kami berjanji untuk tetap menjadi teman dan saling menghubungi meskipun kami terpisah jauh, tapi itu tidak semudah yang dikatakan.

Kuhabiskan 3 tahun sendirian. Aku berharap Gi Na baik-baik saja disana. Meskipun aku bertemu orang lain lagi, meskipun aku mencintai seseorang lagi, dia harus bertemu dengan orang yang lebih baik dari ku.

Tahun 2006 aku semakin sibuk. Aku di terima sebagai trainee di sebuah Entertainment besar yaitu SM Entertainment. Aku sempat berpikir apa kah aku bisa melanjutkan kuliah dengan kesibukan seperti ini? Tapi kedua orang tuaku berharap banyak padaku, terutama appaku. Kuputuskan untuk melanjutkan di Universitas Kyunghee, meskipun aku harus sering mengambil cuti ketika aku debut nanti.

2007

I know…
We had the most pure love
Back then we thought that kind of love couldn’t be done again se we saved it in our memories
Often I feel a cold feeling from you
But now I know you cannot ask anything

Tahun ini aku, Choi Gi Na, kembali lagi ke Korea.

Awalnya aku berniat untuk melanjutkan kuliah di luar negeri juga, tapi ternyata pekerjaan appa kembali di korea, sehingga kami sekeluarga kembali lagi ke korea.

Universitas Kyunghee, seperti mimpi aku bisa masuk ke salah satu universitas swasta termahsyur di korea yang gedungnya terlihat seperti istana, luar biasa. Aku mengambil jurusan Theater & Film di fakultas Art & Design.

Tiga tahun kebelakang aku selalu mengikuti perkembangan-perkembangan yang ada di korea. Begitu pula dengan Industri musiknya, dan aku kaget setengah mati ketika tahu bahwa Kyuhyun debut dengan group beranggotakan 12 orang bernama Super Junior. Rasanya aku ingin berlari ke bandara dan memesan tiket ke korea saat itu juga. Aku tidak menyangka ia benar-benar mewujudkan impiannya. Kyuhyun sering menceritakan mimpinya menjadi seorang penyanyi yang sukses padaku, tapi karena ayahnya menentang keras, ia sedikit demi sedikit memendam mimpinya. Tapi aku bersyukur dia bisa mulai mewujudkan mimpinya lagi.

Setelah kuliah di Kyunghee selama beberapa bulan ini aku baru tahu bahwa Kyuhyun juga kuliah disini. Tapi demi tuhan aku belum pernah melihatnya sekalipun! Banyak yang bilang dia masuk di jurusan Post-Modern Music yang notabene salah satu jurusan di fakultas Art & Design, fakultas yang sama denganku! Aku ingin bertemu dengannya, sangat, sangat ingin bertemu dengannya!

Aku merindukannya.

Akhirnya aku punya waktu untuk kuliah setelah menyelesaikan schedule Super Junior yang penuh dan sangat sibuk. Padahal ini tahun pertamaku di Kyunghee, tapi kenapa aku malah sering mengambil cuti? Bisa-bisa appa marah kalau tahu begini!

Hari ini aku di beri waktu istirahat, tapi entah kenapa aku punya tenaga untuk kuliah, pada akhirnya aku memilih untuk pergi kuliah.

Post-Modern Music.

Seharusnya aku bersyukur dan lebih sering masuk kuliah. Selain karena tes masuk di sini tingkat kesulitannya tinggi, perjuanganku membujuk appa untuk memperbolehkanku masuk ke jurusan musik ini setengah mati!

Pagi ini hanya ada kelas Introduction to Music Theory, sedangkan siang harinya ada kelas Ensemble. Meskipun aku malas untuk bangun pagi-pagi tapi ada sesuatu yang menarikku ke kelas Introduction to Music Theory, entah apa…

Kyunghee benar-benar luas, BENAR-BENAR LUAS. Aku sempat kesulitan mencari kelasnya, pada akhirnya aku menemukan kelasnya yang sudah agak penuh dengan orang-orang.

“Pssst, itu Kyuhyun! Kyuhyun Super Junior!”

“Super Junior? Group dengan anggota yang banyak itu?”

“Yang benar saja? Mana?”

“Itu, disana!”

“Itu Kyuhyun!”

“Dia kuliah disini?”

“Kyaaaa!”

Ternyata benar apa kata manager hyung, suasana seperti ini pasti terjadi. Semua mata tertuju padaku yang sedang mencari kursi kosong. Pasti aku terlihat canggung, kenapa orang-orang itu tertarik melihatku? Aku tahu sekarang aku terkenal, tapi kenapa mereka memandangku seperti melihat kucing berbuntut tupai? Hentikan dan kembalilah pada rutinitas kaliang masing-masing! Ah, menyebalkan.

Aku mengambil duduk di barisan pinggir agar mudah untuk keluar, sebelahnya ada seorang yeoja berambut pirang yang sedang menunduk di tutupi dengan buku. Entah kenapa tubuhnya terlihat familiar, ah hanya bayanganku saja!

Chogiyo (permisi), apakah ada yang duduk disini?” Kutanya pada yeoja berambut pirang itu. Yeoja itu menjawab tidak ada orang tapi masih dalam keadaan menunduk dan buku yang menutupi mukanya. Ada apa dengan yeoja ini? Sungguh aneh. Entah kenap gelagat yeoja itu semakin aneh dan bukunya terjatuh ke lantai dekat denganku. Aku berniat untuk membantu mengambil buku itu tapi yeoja itu juga menundukan kepalanya untuk mengambil buku itu. Mata kami bertemu dan aku melihat wajahnya, wajah yang sangat familiar.

Gi Na.

Dulu rambutnya panjang hitam pekat, dan sekarang rambutnya berubah 180 derajat. Pendek sebahu berwarna pirang. Aku tidak peduli dengan penampilannya yang berubah, tapi Gi Na terlihat lebih cantik dan lebih dewasa.

“Gi Na…?”

Aku benar-benar kaget seakan-akan tidak nyata, kukira aku bermimpi tapi ternyata tidak. Itu benar-benar Gi Na! Dia tersenyum canggung padaku.

“Kyuhyun… Lama tidak bertemu ya.”

Kau sudah makan? Mau ku antar pulang?

Itu lah kalimat yang sering ku dengar akhir-akhir ini. Kyuhyun selalu mendekati ku, dan menanyakan ke adaanku. Dalam seminggu ini aku sudah melihat Kyuhyun 4 kali dalam seminggu. Padahal sebelumnya, dalam 1 bulan ia hanya datang sekali atau dua kali saja. Aku tahu sesibuk apa artis di korea, apa lagi artis yang baru saja debut seperti dia. Dia selalu bertanya apa saja yang aku lakukan di luar negeri selama 3 tahun yang lalu, juga kenapa aku merubah penampilanku, tapi ketika giliranku bertanya tentangnya ia selalu menjawabnya dengan ‘Aku hanya melakukan apa yang biasa kulakukan, ceritaku tidak menarik, ceritamu lebih menarik.’ Hanya itu. Sungguh menyebalkan.

Dia selalu mau mendengarkan ceritaku. Terkadang aku suka berhenti bercerita di tengah-tengah hanya untuk memandang wajahnya. Karena wajah Kyuhyun, apalagi ketika ia mendengarkan ceritaku, benar-benar… menyejukkan?

Selama tiga tahun kebelakang aku selalu rindu dengan wajahnya, senyumnya, apalagi matanya yang terkadang membuatku tenggelam ke dalamnya. Tidak banyak yang berubah dari nya. Aku sering berpikir, apa hanya aku yang merasa rindu dengannya? Apakah dia rindu juga denganku? Tapi kutepis jauh-jauh pikiran negatif itu.

Aku hanya bisa tersenyum ketika ia mencolekku untuk melanjutkan ceritanya.

Tapi ada satu cerita yang sampai saat ini tidak bisa ku beri tahu.
Ah, bukan tidak bisa, aku tidak tahu bagaimana harus memulainya, dan bagaimana aku harus memberitahunya…

April 2007

After that for a long time I was speechless
Then I cried they were your last words to me
For the only words I wanted to hear was that you loved me

Ada sesuatu yang ia rahasiakan dariku, aku tahu itu.

Biasanya Gi Na bercerita padaku dengan lepas, tapi sekarang ada yang berbeda.

Jujur, aku selalu mencari waktu yang tepat untuk mengatakan bahwa aku masih mencintainya, masih berharap hubungan kita kembali seperti dulu lagi, tapi sampai saat ini aku tidak pernah menemukan waktu yang tepat itu. Aku tidak pernah punya keberanian untuk mengatakannya dan selalu berakhir menelan kata-kata itu kembali.

Sampai pada hari itu, ketika pembicaraan kami entah kenapa mengarah ke sana. Sejenak pikiran ku melayang-layang kesana kemari, memikirkan antara mengutarakannya atau menelannya kebali. Suasananya menjadi agak canggung. Kalau aku memilih untuk jujur padanya, apa aku siap dengan apa yang ia katakan nanti? Kalau  aku memilih untuk menelannya kembali, apa aku siap untuk memendamnya lebih lama lagi? Pertanyaan itu terus melayang-layang di kepalaku, sampai ia memanggil namaku.

“Kyuhyun…” Matanya yang sejak tadi menatap mataku, kini menatap kerasnya meja yang berada di antara kami.

“Selama ini aku selalu menceritakan apa saja yang kulakukan selama tiga tahun kebelakang kan? Tapi ada satu hal yang belum ku beri tahu padamu.” Gi Na berusaha menatap ku tapi dalam sedetik tatapannya jatuh kembali ke bawah.

“Aku selalu mencari waktu yang tepat untuk memberi tahu mu, tapi mungkin aku baru bisa memberi tahumu sekarang. Mianhae…”

“Untuk apa kau meminta maaf Gi Na?” Tanya ku, nada bicara nya semakin aneh. Gi Na terlihat menarik nafas dan menghembuskannya beberapa kali, kemudian ia berusaha menatap wajahku.

“Aku… akan menikah… Aku sudah bertunangan.”

Rasanya tubuhku membeku, dan dadaku terasa sesak. Pernikahan atau pertunangan bukan lah hal main-main, ini sudah menjadi hal yang serius. Aku tidak tahu harus berkata apa, rasanya tidak ada satu katapun yang bisa keluar dari mulutku. Aku hanya terdiam dan memandangnya. Dalam 3 tahun ini hanya aku yang tidak berubah sama sekali, hanya aku yang berharap terlalu banyak, dan hanya aku yang berdiri di tempat. Padahal 3 tahun adalah waktu yang cukup lama. Aku merasa tertinggal terlalu banyak darinya.

Dia berlari, sedangkan aku hanya berlari di tempat.
Dia sudah bertunangan dengan lelaki lain, sedangkan aku masih mencintainya.

Sakit? Iya, sangat sakit, dan aku marah juga kecewa pada diriku sendiri.

Kyuhyun pulang tanpa berbicara apapun denganku. Aku merasa khawatir dan tidak enak padanya. Apa aku salah bicara? Tapi kalau aku tidak memberi tahunya, mungkin dia akan lebih marah dari ini. Sebaiknya kutunggu saja sampai emosinya mereda. Mungkin besok atau lusa dia akan kembali datang ke Kyunghee seperti biasa.

Malam ini, seperti biasa aku selalu mendengar siaran Super Junior Kiss The Radio sebelum tidur, dan ternyata Kyuhyun juga ikut siaran bersama dengan para hyung nya, yaitu Leeteuk, Shindong, dan Eunhyuk. Mereka bercanda bersama-sama sampai pada akhir acara Kyuhyun mengatakan bahwa ia ingin menyampaikan sesuatu kepada temannya.

“Aku tahu kau pasti sedang mendengarkan siaran radio ini… Chukkahae! Chukkahae atas pertunanganmu, pastikan kau menggundangku di hari pernikahanmu ya, chukkahae!”

Itu yang dia katakan lewat radio. Padahal di radio semua orang bisa mendengarnya, padahal dengan berkata seperti itu media massa bisa memuat berita-berita yang tidak masuk akal. Tanpa sadar air mataku sudah menggenang dan menetes sedikit demi sedikit, perasaanku bercampur aduk. Aku tidak mengerti dengan pikirannya, ia selalu melakukan apa yang ia ingin lakukan dan aku iri dengan itu.

Aku ingin bisa melakukan, apa yang ingin aku lakukan.

Drrrrt, Drrrrt, kriiiing~

Aku tahu betul bahwa bunyi alarm ku tidak seperti ini. Ini adalah bunyi ringtone ku ketika ada telepon masuk. Siapa yang meneleponku jam 6 pagi?

Kyuhyun Eomma

Nama itu yang tertera di layar handphoneku. Ini pertama kali nya eommanya Kyuhyun meneleponku semenjak aku kembali ke Korea. Dulu sebelum aku pindah ke luar negeri, aku selalu bermain di rumah Kyuhyun dan sangat dekat dengan keluarga nya. Ini aneh sekali, kenapa eommanya Kyuhyun meneleponku sepagi ini?

Yobeoseyo?” Teleponnya kuangkat sambil berusaha untuk bangkit dari tempat tidur.

“Gi Na-ya? Kudengar kau sudah di Korea ya?”

“Ne, eommeonim. Ngomong-ngomong ada apa ya pagi-pagi begini?” Tanyaku langsung ke intinya.

“Gi Na- ya, bisa kah kau ke Seoul Hospital, sekarang juga?”

“Memangnya ada apa eommeonim?”

“Kyuhyun kecelakaan Gi Na… Keadaannya kritis…”

Dunia seakan akan runtuh, semuanya runtuh. Aku tahu ini berlebihan tapi aku tidak tahu bagaimana harus mengatakan perasaanku saat mendengarnya. Pandanganku kabur, dan aku tidak bisa mendengar jelas apa yang eommanya Kyuhyun katakan setelah itu.
Hanya satu yang aku pikirkan saat itu, aku harus secepatnya pergi ke rumah sakit.

Di rumah sakit, aku melihat Kyuhyun terbaring lemah di ruang ICU. Tidak sembarang orang yang boleh masuk, keluarganya juga menunggu di luar dan hanya bisa melihatnya lewat kaca. Keadaannya masih tidak stabil, dan yang kudengar Kyuhyun lah yang kondisinya paling kritis. Aku tidak kuat melihatnya dalam keadaan seperti itu, kakiku terasa lemas dan air mataku tak henti-hentinya meleleh. Keluarganya terlihat berdoa sedari tadi, sedangkan kakak perempuannya Kyuhyun, Cho Ahra, berlari dan memelukku ketika aku datang. Ahra eonni terus-terusan memanggil nama Kyuhyun dan namaku bergantian, masih dalam pelukanku. Aku tahu seberapa besar sayangnya Ahra eonni pada Kyuhyun.

Setelah suasana kembali normal, Ahra eonni mulai berbicara tentang keadaan Kyuhyun setelah aku pindah keluar negeri. Ahra eonni mengatakan bahwa Kyuhyun sering bercerita seberapa rindunya dia padaku, seberapa kehilangannya dia setelah aku pindah. Air mataku terus mengalir ketika mendengar cerita dari Ahra eonni. Aku menangis tanpa suara sambil terus mendengarkan, rasanya hatiku teriris-iris sedemikian rupa.

Kyuhyun kumohon cepatlah sadar…

Orang tua Kyuhyun, Ahra eonni, dan aku sering bergantian menjaga Kyuhyun. Setiap hari, sepulang kuliah aku selalu meluangkan waktu menjenguknya meskipun aku hanya bisa melihatnya dari luar. Aku selalu berdoa agar dia cepat sadar. Hari demi hari keadaannya membaik dan semakin stabil, meskipun belum sadar, tapi tubuhnya sudah merespon dengan baik. Ia pun di pindahkan ke ruang reguler. Aku benar-benar senang ketika tahu bahwa Kyuhyun akan di pindahkan, itu artinya aku bisa berada lebih dekat dengannya.

Hari ini aku datang ke rumah sakit pada jam makan siang. Aku mengecek sebetar keadaan Kyuhyun, mengusap kepalanya dan memandanginya beberapa saat.

Kyuhyun, kumohon cepatlah sadar, aku ingin melihat senyumanmu lagi. Hari ini aku melakukan hal tergila yang pernah kulakukan seumur hidupku, akan kuceritakan nanti setelah aku selesai makan siang.

Ini lah kebiasaan ku ketika menjenguknya, aku selalu berbicara dalam hatiku. Menceritakan apa saja yang terjadi hari ini, dan berharap Kyuhyun bisa mendengarnya seperti telepati. Setelah itu aku pergi keluar sebentar untuk makan siang.

Aku mendengar bunyi pintu yang dibuka, juga bunyi langkah kaki. Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku sampai aku dalam keadaan seperti ini yang rasanya sangat sulit untuk menggerakan tubuhku atau pun membuka mataku. Tubuhku tidak mau menurut. Tak lama kemudian aku mendengar suara yang kukenal, suara Gi Na.

“Kyuhyun… bagaimana keadaan mu hari ini? Hahaha, sungguh lucu ya setiap hari aku berbicara padamu seperti ini. Aku sendiri tidak yakin kau bisa mendengarnya, tapi kuharap kau bisa mendengar nya. Meskipun hanya dalam mimpimu, tolong dengarkan aku…”

Aku bisa merasakan kehangatan tangan Gi Na yang menggenggam tangan kanan ku. Kemudian aku merasakan kepalanya di tidurkan di pinggir kasur ini. Hembusan nafasnya terasa beberapa kali di tanganku.

“Kyuhyun… Hari ini aku berhasil melakukan apa yang ingin kulakukan…” Ia tertawa kecil.

“Aku akan memberi tahu rahasia terbesar yang pernah aku punya padamu, jadi jangan beritahu siapapun ya? Aku ini tidak pernah hidup sesuai kehendakku sendiri. Aku selalu hidup mengikuti kemauan kedua orang tuaku. Aku sendiri tidak tahu kenapa, sungguh menyedihkan bukan?” Gi Na menghembuskan nafasnya beberapa kali.

“Ayahku selalu berpindah-pindah karena pekerjaannya. Sebetulnya aku tidak suka itu, tapi mau bagaimana lagi. Aku senang bisa bertemu denganmu sekaligus menyesal. Padahal aku berjanji untuk tidak pernah berteman terlalu dekat dengan siapapun, apalagi memiliki hubungan, karena aku tahu setelah itu aku pasti akan pindah lagi. Seumur hidupku kau adalah temanku yang paling dekat Kyuhyun…” Tangan hangat Gi Na mengelus-elus tangan kananku. Rasanya aku ingin segera memeluknya, tapi aku masih ingin mendengar semua ceritanya, sehingga aku memilih untuk diam lebih lama.

“Kyuhyun… Aku… membatalkan pertunanganku. Aku tidak jadi menikah.” Aku bisa merasakan bibirnya yang tersenyum karena ia sedang menempelkan punggung tanganku ke pipinya.

“Aku tidak pernah mencintai namja itu. Ayahku yang menjodohkanku, walaupun namja itu baik tapi hatiku sama sekali tidak berubah, aku tetap mencintaimu.” Detik itu aku berusaha untuk tidak bangkit dan tetap menutup mataku, masih ada yang akan ia sampaikan. Aku harus tetap berada dalam keadaan seperti ini, setidaknya sampai ia selesai berbicara.

“Aku masih dan akan terus mencintaimu Kyuhyun. Alasan ku menerima perjodohan itu karena aku berusaha melupakanmu, dan aku merubah penampilanku seperti ini juga karena berusaha untuk melupakanmu, melupakan semua kenangan ku di Korea, karena kupikir aku tidak akan pernah kembali lagi ke Korea. Tapi ternyata aku salah, ayahku kembali bekerja lagi di Korea dan ternyata aku bertemu lagi denganmu. Hari ini aku membatalkan pertunangan itu, aku berhasil melakukan apa yang ingin aku lakukan. Ayahku memang masih marah besar denganku, tapi aku merasa semua beban di hatiku terangkat begitu saja. Aku senang bisa berada di sampingmu seperti ini, aku akan selalu berada di sampingmu Kyuhyun.” Air mata Gi Na meleleh di tanganku, senyumnya masih mengembang sejak tadi. Aku bisa merasakan kebahagiaannya. Aku tidak menyangka ia punya masalah seberat ini, aku jadi merasa bersalah sebagai teman baiknya.

Aku memlilih untuk menggerakan badanku sedikit demi sedikit, mulai dari tangan kananku yang di genggam oleh Gi Na. Aku membalas genggamannya, Gi Na sedikit kaget dengan gerakan tanganku. Kemudian aku tersenyum. Ketika Gi Na melihatnya, ia memanggil namaku beberapa kali, dan pada saat itu aku membuka kedua mataku. Melihat Gi Na yang matanya berkaca-kaca, masih dengan senyum yang mengembang di bibirnya.

“Kyuhyun, Kyuhyun! Kau sudah sadar? Tolong jawab aku!” Tangannya masih menggenggam tanganku sekarang lebih kuat dari sebelumnya.

“Gi Na… Aku… mendengar semua yang kau katakan…” Aku berusaha berbicara sedikit demi sedikit. Meskipun agak sulit, tapi aku masih bisa mengucapkannya pelan-pelan.

“A, apa kau bilang?”

“Aku sudah tersadar sejak tadi, tapi aku membiarkanmu berbicara dan memilih untuk tidak bangun.”

Wajah Gi Na terlihat kebingungan. “Kau sudah sadar sejak tadi.”

Aku mengangguk kecil sambil tersenyum.

“Choi Gi Na… Tetaplah di sampingku…” Gi Na menedekatkan tubuhnya lebih dekat untuk mendengar apa yang kukatakan dengan jelas. “… aku juga mencintai mu.”

Senyuman itu kembali menghiasi wajahnya, matanya kembali berkaca-kaca dan beberapa butir air mata meleleh dari matanya. Aku ingin menghapusnya, tapi alat-alat kedokteran ini membatasi gerakan ku.

Gomawo Kyuhyun, gomawo, gomawo, gomawo…” Gi Na mengulang-ngulang kata terima kasih itu berulang kali, “Terima kasih Kyuhyun, aku masih bisa melihat senyumanmu, aku masih bisa menatap kedua matamu itu… Terima kasih Kyuhyun… Terima kasih…”

Aku hanya bisa tertawa melihat kelakuannya. Ia mengatakan terima kasih sambil menangis, dan tersenyum, wajahnya lucu sekali. “Kau tahu apa yang ingin aku lakukan sekarang?”

Wajah Gi Na menunjugkan rasa penasarannya. “Apa yang inging kau lakukan?”

“Menciummu.” Aku tersenyum jahil. “Tapi aku tidak bisa karena alat-alat sialan ini membatasi gerakanku.”

Gi Na ikut tertawa karenanya, “Aku harus menghubungi keluargamu dulu.”

“Cium aku dulu.”

“Tidak, menghubungi keluargamu lebih penting.”

“Cium aku dulu!”

Aku dan Gi Na masih bersikukuh dengan pendapat masing-masing. Tapi pada akhirnya Gi Na menyerah dan mendekatkan wajahnya perlahan ke wajahku. Ia berhenti sejenak, dan menatap kedua mataku. Karena tidak tahan, aku yang berinisiatif untuk bangkit sedikit dan mengecup bibirnya dalam sekejap. Gi Na yang sedikit kaget menjauhkan wajahnya dari ku, aku hanya bisa tersenyum melihatnya.

Kini cinta, bukanlah hal yang dapat menghancurkan semuanya dan aku tidak akan pernah menganggap enteng janji, perpisahan, kenangan, maupun waktu lagi. Karena kelima hal itu adalah hal yang harus di jaga dengan serius. Sekarang aku mengerti kenapa setelah badai selalu ada pelangi, karena pada akhirnya badai akan membersihkan semua kotoran dan menghilangkan awan gelap nya, kemudian muncul lah pelangi. Seseorang harus berusaha dulu sebelum sukses dan hidup bahagia, meskipun harus melewati badai sedahsyat apapun.

Cinta, janji, perpisahan, kenangan, dan waktu. Aku akan menyimpan semua barang berharga ini selamanya.

THE END

Advertisements

5 responses to “[Requested] 7 Years of Love

  1. Uwaa, keren.
    Daebak author …
    Crta x persis dgn lirik 7 years of love, tp ending nya berbeda.
    Untunglah !

  2. so sweet banget ff nya, aku kira gi na tunangan karna berpaling..ternyata dipaksa tohh, nice ff thor! pokoknya daebakk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s