You Turned My World Upside Down (Chapter 7)

 

Aku post chapter 6 sekitar bulan Juni kan? Wah benar-benar sudah lama ya! 

Mianhaeyo~ *bow90degree*

I have dozens of reasons, but i’ll just go straight, I’m sorry, i’m deeply sorry. 

Can’t blame anyone, well let’s just get to the story.

Kalau sudah agak lupa dengan ceritanya, bisa di check lagi ke Libary, kemudian click di chapter 6 ya~ hehe. 

_____________________________________________________________

By CIA (@zaskiarunim)

Attention: Ini hanyalah fanfiction, bila FF ini mirip dengan cerita lain hal ini hanyalah ketidak sengajaan, Gamsahamnida.

DO NOT TAKE WITHOUT PERMISSION AND FULL CREDITS,
Please leave a comment~

_____________________________________________________________

The questions, answered little by little.

Pinggiran jalan diselimuti oleh putihnya salju, butirannya jatuh satu demi satu, dinginnya cuaca di luar tidak terasa sama sekali karena penghangat ruangan café ini. Sebuah meja kecil yang ukurannya hanya cukup untuk dua orang, di tempati oleh seorang gadis dengan laptop di hadapannya dan orange juice yang sedotannya sedang ia putar-putar. Mukanya terlihat serius, terkadang ia menatap laptopnya, terkadang ia menatap layar ponselnya yang sama sekali tidak bergeming. Jelas ia sedang menunggu sesuatu muncul dari ponselnya, entah itu telepon atau pesan.

Laptop nya terus ia scroll beberapa kali, terdengar beberapa kali juga bunyi ‘klik’ dari laptopnya. Tabs yang ia buka ternyata tidak sedikit, dan semuanya memuat 1 hal yang sama, skandal antara Super Junior Cho Kyuhyun dengan seorang gadis yang namanya masih belum di ketahui.

Foto dirinya yang sedang dirangkul oleh seorang idol bernama Cho Kyuhyun itu bermunculan di berbagai web. Dirinya sendiri, Im Myeonsa.

Setelah Kyuhyun meninggalkannya di Han gang, dia tidak pernah menghubungi Myeonsa sekalipun. Entah apa yang sedang Kyuhyun lakukan, entah apa yang ia rencanakan selanjutnya, Myeonsa tidak ada ide sama sekali.  Sedangkan management yang menaungi Super Junior, yaitu SM Entertainment belum mengeluarkan statement apapun terhadap skandal itu, dan para fans di biarkan bertanya-tanya tentang skandal ini.

Dari pada memikirkan nasib diri sendiri Myeonsa terlihat lebih khawatir dengan Kyuhyun. Mungkin kalau Kyuhyun hanya di marahi manager hyungnya atau bahkan management nya Myeonsa masih bisa tenang. Tapi banyak hal lain yang tidak bisa di permainkan seperti contohnya kontrak. Semua orang tahu bahwa sebuah skandal dapat menghancurkan karir idol yang bersangkutan. Belum lagi keluarganya, semua ini Kyuhyun lakukan hanya karena keluarganya berniat untuk menjodohkannya, dan sekarang ia berulah sebesar ini, orang tua mana yang tidak khawatir bila keadaan anaknya jadi seperti ini.
Itulah yang Myeonsa khawatirkan.

Anehnya, Myeonsa merasa khawatir bukan hanya karena ia seorang ELF – fans Super Junior – tapi karena ia adalah Im Myeonsa. Im Myeonsa yang mengkhawatirkan Cho Kyuhyun, bukan karena statusnya sebagai idol tapi sebagai manusia. Myeonsa sendiri tidak mengerti kenapa tapi saat ini ia benar-benar khawatir dan tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Lebih baik ia diam dan terus mengikuti info terbaru tentang skandal yang menyangkut dirinya itu.

Karena fans di biarkan bertanya-tanya dengan skandal itu, comment di setiap web yang memuat skandal itu terus bertambah tidak ada hentinya. Walaupun tidak seharusnya Myeonsa membaca comment-comment itu karena kata-katanya bisa lebih tajam dari pisau, tapi Myeonsa tetap saja membacanya karena penasaran. Myeonsa terus membacanya, tapi semakin banyak ia baca semakin ia bingung dengan apa yang para fans bicarakan. Comment itu berisi sesuatu yang tidak nyambung dengan apa yang terjadi sebenarnya.

Semua comment itu menjelaskan bahwa skandal ini pernah terjadi dengan perempuan yang sama sekitar 1 tahun yang lalu. Maksudnya, para fans pernah melihat Kyuhyun dengan seorang gadis yang katanya ‘Myeonsa’ itu, entah karena mirip atau apa para fans mengira keduanya adalah orang yang sama. Padahal Myeonsa baru saja bertemu dengan Kyuhyun sekitar beberapa minggu yang lalu, tidak mungkin 1 tahun yang lalu Kyuhyun terlihat jalan bersama dengannya, pasti orang lain.

Comment-comment yang Myeonsa baca kira-kira berisi seperti ini…

“Yeoja ini, yeoja yang sama dengan skandal Kyuhyun waktu itu kan? Mereka masih berhubungan?”

“Skandal Kyuhyun dengan seorang yeoja tahun lalu itu? Sampai sekarang masih berhubungan?”

Dan masih banyak lagi yang membahas skandal baru ini dengan skandal tahun lalu. Jadi comment mereka tidak menentu, beberapa berkata positif, beberapa berkata negatif, tapi mayoritas membahas tentang apakah gadis di skandal ini sama dengan yang tahun lalu.

Myeonsa sendiri tahu bahwa tahun lalu Kyuhyun sempat memiliki skandal dengan seorang yeoja yang tidak di ketahui, tapi skandal itu tidak semeledak ini dan redup dalam beberapa saat.

Myeonsa semakin penasaran dengan gadis di skandal tahun lalu itu. Kemudian Myeonsa terus mengobrak-abrik internet sampai ia menemukan foto gadis yang katanya mirip dengannya itu. Tidak lama kemudian Myeonsa menemukannya foto itu, wajah si gadis tidak terlalu kelihatan tapi postur tubuhnya memang mirip dengannya. Setelah di cari lebih dalam lagi, wajah gadis itu terlihat jelas. Wajahnya benar-benar mirip dengan Myeonsa, terutama matanya. Di foto itu terlihat punggung Kyuhyun yang wajahnya hanya sedikit terlihat sedangkan wajah gadis itu terlihat jelas sedang tertawa bersama Kyuhyun di sebuah café.

Setelah mengetahui semua ini Myeonsa semakin bingung dan juga khawatir. Apa Kyuhyun sebelumnya menggunakan cara yang sama untuk menghentikan agar dia tidak di jodohkan? Mungkin juga begitu…

Entah kenapa perasaan Myeonsa bercampur aduk, yang pasti Myeonsa ingin sekali bertemu dengan Kyuhyun secepatnya untuk membahas semua benang kusut ini dan apa yang harus ia lakukan selanjutnya?

Myeonsa sudah tidak tahu harus bagaimana lagi sehingga ia berakhir mengirim sebuah pesan singkat pada Kyuhyun.

To: One Trillion Rules
Bisakah kita bertemu?

 

Kriing~ Kriing~

Myeonsa yang baru saja merebahkan dirinya di sofa apartemen nya, harus kembali bangun untuk mengambil ponselnya yang bergetar di dalam tasnya. Ia bangun secepat kilat untuk mengambil ponselnya, berharap bahwa telepon itu berasal dari… Kyuhyun.

Baru kali ini ia merasa seperti ini.

Tapi harapannya sirna ketika nama yang terpampang bukanlah ‘One Trillion Rules’, tapi nomor yang tidak di ketahui. Myeonsa tadi nya enggan untuk mengangkat nya karena nomornya tidak di ketahui, tapi entah kenapa ia malah mengangkatnya.

Yobeoseyo?”

“Myeonsa-ssi?

Ne? Nuguseyo?”

“Lee Donghae…”

Deg.

Suaranya memang mirip, tapi biasanya hal seperti ini hanya terjadi di mimpi. Myeonsa tidak langsung menjawabnya dan malah terbengong-bengong sendiri.

“Ada apa, Donghae-ssi?”

“Kan sudah kubilang panggil saja oppa.”

Jantung Myeonsa berdetak semakin kencang ketika mendengarnya. Bolehkah ia memanggil Donghae dengan oppa? Biasanya Myeonsa memanggil Donghae dengan oppa hanya ketika fangirling. Tapi sekarang bolehkah ia memanggilnya langsung dengan oppa? Benar-benar seperti mimpi.

“D,donghae… O,oppa? Bolehkah aku bertanya sesuatu?” Suara Myeonsa terdengar sedikit gugup.

“Ne~” Donghae menjawabnya dengan nada yang bersemangat.

“Bagaimana… keadaan Kyuhyun?”

Biasanya orang berbasa-basi dulu sebelum menanyakan intinya, seperti ‘apa kabar?’ atau ‘tahu dari mana nomor teleponku?’, dan lainnya. Tapi entah kenapa Myeonsa memilih untuk langsung menanyakan keadaan Kyuhyun, dirinya sendiri tidak sadar dengan itu.

“Kyuhyun? Entahlah… Dia selalu menjawab tidak ada apa-apa kalau kami bertanya.” Donghae menghela nafasnya kemudian melanjutkan kalimatnya, “Padahal tadi aku mau menanyakan keadaanmu duluan, bagaimana dengan kau?”

Myeonsa tersenyum kecil karena itu. Aneh juga… Padahal dulu ia hanya bisa menatap Donghae dari kejauhan, tapi sekarang Myeonsa bisa mendengar suaranya jelas, dan bahkan menanyakan keadaannya.  Tapi setelah itu pikiran Myeonsa kembali ke lelaki yang sedang ia khawatirkan saat ini, Kyuhyun.

“Aku? Aku baik-baik saja, terima kasih. O,oppa… Apa Kyuhyun ada?”

“Kyuhyun? Yang sedang meneleponmu itu Lee Donghae lho, kenapa kau menanyakan Kyuhyun?” Donghae tertawa, ia hanya bercanda.

“Ah, aniyo… Hanya saja… dia tidak menjawab pesan dan teleponku.”

“Kau menkhawatirakannya ya?”

Myeonsa berpikir sebentar dengan perkataan Donghae. Mungkin iya? Entahlah…

“Entahlah, mungkin…” Hanya jawaban itu yang ada di kepala Myeonsa, dan itu membuat Donghae tertawa agak keras padahal Myeonsa sedang serius. “Oppa… Kenapa meneleponku?” Myeonsa akhirnya bertanya.

“Ah, iya aku  jadi lupa. Begini…” Donghae menghela nafasnya cukup keras sehingga Myeonsa bisa mendengarnya. “Apa kau sudah di ceritakan oleh Kyuhyun tentang… Seonra?”

“Iya, Kyuhyun sudah menceritakannya padaku.“

FLASHBACK

“Kau… Tahu dari mana?”

“Kenapa kau merahasiakannya padaku?”

Myeonsa menatap Seonra dengan tatapan penuh arti, sedangkan Seonra menatap Myeonsa dengan tatapan bersalahnya, kemudian Seonra menunduk.

“Mianhae Myeonsa… Jeongmal mianhae…”

 Myeonsa juga menunduk beberapa saat, tapi kemudian Myeonsa kembali menatap wajah Seonra.

“Aku juga minta maaf karena tidak memberi tahumu tentang aku dan Kyuhyun, ini karena Kyuhyun memintaku untuk merahasiakannya.” Myeonsa menghela nafasnya, “Tapi apa alasanmu merahasiakannya padaku, setelah selama ini kita bersahabat dan tinggal di atap yang sama?”

Seonra tidak menjawab apa-apa, ia tetap diam dan menunduk. Perlahan ia duduk di sofa yang ada dan mulai menatap wajah Myeonsa.

“Alasannya… karena sampai saat ini aku tidak pernah berani mengatakannya padamu. Awalnya aku tidak berani, tapi ketika aku berani aku bingung mau mulai dari mana. Semakin lama semakin bingung bagaimana caranya agar aku bisa memberitahumu di waktu yang tepat. Tapi waktu itu tidak pernah datang dan aku pikir hubungan ku dan dia sudah berakhir, tidak perlu di ungkit-ungkit lagi. Jadi sampai saat ini aku tidak pernah memberi tahumu. Mianhae Myeonsa, tolong jangan marah padaku…”

Suara Seonra benar-benar terdengar seperti memohon. Seonra tidak mau kehilangan sahabatnya hanya karena ini. Kemudian Myeonsa mengambil sebuah kursi, lalu ia duduk di hadapan Seonra.

“Aku tidak pernah marah padamu kalau kau sudah meminta maaf dan menjelaskan alasannya. Untuk apa aku marah padamu? Dan kau tidak marah padaku kan?” Myeonsa tersenyum lebar. Rasanya semua beban yang ada pada Seonra terangkat begitu saja, tidak ada lagi batu yang mengganjal di hatinya.

“Tidak…” kata Seonra sambil menggeleng. Kemudian mereka berdua berpelukan sambil tertawa-tawa.

“Aku tidak menyangka sahabatku adalah mantan pacar biasku… Ceritakan padaku bagaimana kau bisa berpacaran dengannya?”

Kemudian Seonra pun menceritakan semuanya pada Myeonsa.

FLASHBACK ENDS

“Aku meneleponmu untuk meminta bantuanmu agar kau bisa mempertemukan aku dan Seonra, apa bisa?”

“Oppa… Sebetulnya waku itu aku bertanya pada Seonra apa dia mau bertemu dengan oppa lagi atau tidak, tapi Seonra bilang ia tidak perlu bertemu dengan oppa lagi, karena semuanya sudah jelas. Aku tidak mengerti apa maksudnya dengan semua sudah jelas…”

“Ia tidak mau bertemu denganku?”

“Seonra menjawab tidak perlu, bukan tidak mau. Itu beda oppa.”

Donghae menghela nafasnya lagi, “Tolong lah pertemukan aku dengannya Myeonsa, kemudian aku juga akan memaksa Kyuhyun untuk bertemu denganmu, aku akan melakukan segala cara! Jadi mau kah kau membantukku?”

Myeonsa terdiam cukup lama, ia bingung. Seonra adalah sahabatnya, tadinya ia memilih untuk tidak bertemu dengan Kyuhyun tapi Donghae kembali mengeluarkan suaranya.

“Aku yakin pasti ada kesalah pahaman antara aku dan Seonra, beri aku kesempatan 1 kali untuk meluruskannya.” Donghae terus memohon pada Myeonsa, dan akhirnya Myeonsa luluh juga.

“Baiklah, 1 kali saja dan berjanjilah padaku untuk mempertemukanku dengan Kyuhyun secepatnya.”

Myeonsa POV

Donghae oppa sudah berjanji padaku untuk mengajak Kyuhyun ke kona beans pagi ini. Aku duduk di kursi yang sama seperti waktu itu ketika kami membuat perjanjian pacar palsu ini.

‘Tring’

Pintu Kona Beans terbuka, dan aku yakin sekali itu adalah Kyuhyun dan Donghae. Entah kenapa jantungku berdebar lebih kencang. Apa reaksi nya ketika ia melihat ku? Apa yang akan ia lakukan setelah ia melihatku? Apa ia akan dingin terhadapku atau bertingkah seperti tidak ada apa-apa? Atau bahkan aku tidak akan melihat semua itu karena Kyuhyun sudah berputar balik sebelum bertemu denganku? Aku tidak mau itu terjadi, tidak mau.

“Ah, ada barang yang tertinggal di mobilku, sebentar Kyu kau duduk duluan saja.”

Ku yakini itu suara Donghae yang sedang mengelabui Kyuhyun. Aku tidak mendegar Kyuhyun mengatakan apapun tapi langkah kakinya terdengar semakin keras. Semakin dekat, jantungku berdetak semakin tidak karuan. Bagaimana ini?

Langkahnya terdengar semakin jelas, tiba-tiba sosoknya sudah melangkah melewatiku. Mungkin ia kira aku ini hanyalah seorang pelanggan biasa. Apa dia tidak tahu? Jam segini belum ada pelanggan yang boleh masuk. Aku di perbolehkan karena Donghae memberiku izin.

“Kyuhyun…”

Langkahnya berhenti, kemudian ia menengok.

“Myeonsa… apa yang kau laku…” Belum selesai ia berbicara, Kyuhyun tiba-tiba melihat ke arah jendela, lebih tepatnya ke arah parkiran yang kosong, mobil Donghae sudah pergi. “Ah, sial!”

“Kau benar-benar tidak inginnya bertemu denganku ya?” Pertanyaan yang kulontarkan secara tidak sengaja itu terdengar menyindir. Entah kenapa ucapannya tadi membuat dadaku terasa agak sesak. Pertanyaan itu terus terulang di kepalaku, apa dia benar-benar tidak ingin bertemu denganku?

Kyuhyun duduk di hadapanku dengan enggan, dan itu membuat dadaku semakin aneh. Seperti ada yang menekannya.

“Kau dan Donghae bersekongkol kan?” Ucapnya dingin, sedingin udara di luar café.

“Iya, karena kau sulit untuk ku hubungi, banyak yang ingin kutanyakan padamu.” Jawabku tidak kalah dinginnya. Mataku terus menatap matanya, lebih tepatnya ke kantung matanya. Wajahnya benar-benar terlihat lelah, make up yang ia gunakan pun tidak terlalu tebal. Matanya masih agak memerah, entah karena dingin, baru bangun, atau terlalu lelah. Rasanya aku ingin membuat wajah itu kembali cerah.

Jujur, wajah nya yang cerah terlihat menyebalkan, tapi wajahnya yang sayu dan lelah ini terlihat menyedihkan dan membuat dadaku seperti ditekan. Aku tahu wajahnya yang lelah itu karena pekerjaannya ditambah dengan skandal ini. Mungkin karena itu dadaku terasa seperti ditekan.
Merasa bersalah? Sepertinya bukan kata yang tepat. Prihatin? Bukan juga… ah entahlah, yang pasti aku ingin merubah wajah sayu Kyuhyun ini, menjadi lebih cerah.

Kupikir-pikir yang lebih menyedihkan lagi, aku yang juga terlibat di skandal ini malah tidak bisa apa-apa. Tidak bisa meringankan beban Kyuhyun, tidak bisa membantu Kyuhyun, tidak bisa menggantikan posisi Kyuhyun. Seandainya aku bisa, mungkin aku sudah sering berganti posisi dengannya.
Semua beban berada padanya, dan itu membuatku sedih.

Sejak tadi Kyuhyun masih diam saja dan memperhatikan gerak-gerik ku sambil melipat kedua tangannya di dada.

“Aku tidak tahu harus mulai dari mana…” Kyuhyun masih diam dan memperhatikanku, sehingga aku melajutkan kalimatku. “… Apa kau baik-baik saja?” Kyuhyun mulai bergerak dan merubah posisi duduknya, tangannya sudah tidak terlipat dan wajahnya tidak sedingin tadi.

“Kau butuh jawaban yang jujur atau jawaban yang simple?” Dia kembali bertanya, kukatakan padanya bahwa aku membutuhkan jawaban yang jujur. Entah kenapa Kyuhyun menarik nafas nya dalam dalam.

“Aku… tidak baik-baik saja. Semua ini melelahkan dan tidak ada habisnya. Aku hanya bisa tidur selama 4 jam, mungkin kurang dan esoknya pihak management selalu mendatangi ku atau aku yang harus mendatangi mereka, kemudian mereka menanyakan semuanya sedetail-detailnya. Mereka semua sudah tahu bahwa kita hanyalah pura-pura. Awalnya mereka tidak setuju denganku karena bagi mereka tidak ada untungnya, tapi aku bilang skandal ini bisa membuat drama pertamaku yang masih di produksi meledak. Setelah itu mereka setuju denganku, dan pihak management akan membantuku dan kau, mereka juga tidak akan mengeluarkan statement apapun untuk membuat fans penasaran dengan skandal ini dan akan sangat menguntungkan bagi dramaku.  Jadi kau tenang saja, aku sudah mengurus semuanya. Apa ini menjawab seluruh pertanyaan mu?”

Kyuhyun menjelaskan semuanya panjang lebar, padahal aku hanya bertanya bagaimana kabarnya. Tapi ia langsung menjelaskan semuanya, seperti ingin cepat-cepat pergi dari sini, pergi jauh-jauh dariku. Entah kenapa rasanya dadaku jadi sesak dan sakit, tidak seharusnya aku seperti ini… Aku tidak boleh begini.

“Ya, tapi ada satu hal lagi…” Aku menahan kalimatku, dan berusaha menatap kedua matanya. “… Ini siapa? Netizen di internet semuanya membicarakan tentang foto ini, katanya perempuan ini mirip denganku, dan mereka bilang foto ini sudah ada sekitar 1 tahun yang lalu. Jadi, ini siapa?” Kusodorkan foto yang sudah kupersiapkan sebelum datang ke sini. Ku cetak foto yang kutemukan di internet itu, foto Kyuhyun dengan seorang perempuan di sebuah café.

Kyuhyun mengambil foto yang berada di tanganku, ia menatapnya cukup lama. Dan aku terus memandang ekspresi wajahnya ketika melihat foto itu.

“Dari mana kau mendapatkan ini?” Tanya nya.

“Kan sudah kubilang, para netizen bilang perempuan di foto tadi mirip denganku, jadi mereka mengira perempuan itu dan aku sama. Aku juga sadar beberapa bagian dari wajahnya mirip denganku, posturnya kurang lebih sama denganku. Yang membuatku penasaran, siapa perempuan ini Kyuhyun?”

Kyuhyun masih belum juga menjawab, ia masih memperhatikan foto itu dan sesekali melihat ke arahku. Kemudian ia kembali menghela nafasnya.

“Pada akhirnya kau memang harus tahu ini ya…” Kata-katanya membuatku semakin bingung. “Aku tidak perlu memberi mu banyak detail, tapi intinya perempuan ini dulu adalah pacarku, orang yang di bicarakan keluargaku waktu itu, Yoon Ji.” Setelah menjelaskan itu sesingkat mungkin, ia menatap jam yang tertempel di dinding kona beans dan menatap wajahku. Jantungku mulai berdetak tidak karuan lagi.

“Kau kemari menggunakan apa?” Tanya Kyuhyun dengan suara yang tidak terlalu terdengar.

“Scooter, kenapa?”

“Scooter di musim dingin? Kau gila?!” Kedua bola matanya terbelalak, sedangkan aku hanya bisa mengangguk. Aku hanya punya scooter, dan aku tidak mau bersusah payah naik bis atau kereta.

“Kenapa tidak menggunakan bis atau kereta saja?” Tanyanya kembali.

“Entahlah… malas… Kenapa kau tiba-tiba bertanya?”

“Bisa kah kau antarkan aku ke gedung SM Entertainment? Aku harus segera kesana sekarang juga. Aku kesini tidak bilang dulu pada manager hyung. Kalau aku minta di jemput di sini, bisa-bisa aku habis di marahi oleh mereka.”

Myeonsa hanya bisa menatap Kyuhyun heran.

“Ini akan benar-benar dingin, jaketmu cukup tebal kan?” Tanya Myeonsa yang sedang mengencangkan jaketnya di jok depan, Kyuhyun yang duduk di jok belakang terlihat sedikit risih.

“Arrrgh, ini aneh! Biar aku saja yang menyetir! Dulu aku juga punya motor besar, biarkan aku menyetir.” Kyuhyun tiba-tiba mengambil alih scooter Myeonsa. Myeonsa memegang pundak Kyuhyun dan naik ke jok belakang.

“Kyuhyun, pakailah masker ini. Di depan benar-benar dingin.” Myeonsa memberikan masker miliknya pada Kyuhyun. Sementara ia tidak memakai masker.

Jujur, Kyuhyun sudah lama tidak mengendalikan sebuah motor sehingga jalannya kurang mulus. Myeonsa yang sulit duduk dan tergoncang-goncang berusaha memegang pegangan yang ada di belakannya, tapi tetap saja posisinya sulit dipertahankan.

“Mianhae, kau pegangan saja padaku.” Kyuhyun tiba-tiba mengatakannya sambil berusaha menstabilkan scooter Myeonsa. Awalnya Myeonsa hanya memegang ujung jaket Kyuhyun, tapi tiba-tiba motornya sedikit berguncang sehingga Myeonsa reflex memeluk pinggang Kyuhyun, wajahnya yang sedingin es tertempel di punggung Kyuhyun yang terasa sangat hangat. Rasanya Myeonsa tidak ingin merubah posisi itu. Hangat, benar-benar hangat.

Kyuhyun tidak protes dengan itu, malah sekarang scooternya berjalan dengan lebih stabil dan baik, sehingga Kyuhyun bisa memacu kecepatannya lebih tinggi. Myeonsa yang masih menempelkan wajahnya di punggung Kyuhyun, bisa merasakan harum tubuh Kyuhyun, harumnya sama seperti ketika ia dipinjami scarf Kyuhyun waktu itu. Myeonsa selalu menyukai harum ini, entah kenapa, dirinya sendiri pun bingung. Dalam jarak sedekat ini Myeonsa bisa merasakan tubuh Kyuhyun yang naik turun seiring dengan nafasnya, seiring juga dengan nafas Myeonsa dan detak jantung nya.

Myeonsa tidak ingin ini berakhir, ia masih ingin bertahan dalam posisi ini tapi gedung SM Entertainment mulai terlihat jelas. Scooter Myeonsa berhenti di tempat parkir. Tadinya Myeonsa ingin bangkit dari duduk dan turun, tapi Kyuhyun menahan tangannya tetap berada di pinggangnya sehingga kepala Myeonsa  tetap berada di punggung Kyuhyun.

“Sebentar saja…”

Hanya itu yang Kyuhyun ucapkan. Hanya satu kalimat pendek itu bisa membuat dinginnya salju berubah seperti musim semi yang hangat. Myeonsa menutup kedua matanya, bernafas bersama seiring dengan tubuh Kyuhyun.

Keduanya tidak mau lepas dari posisi ini.

Seonra POV

Myeonsa itu tidak pandai berbohong atau pun mengelabuiku. Selama aku bersahabat dan tinggal bersama dengannya Myeonsa selalu gagal untuk menyimpan suatu rahasia dariku. Sedangkan aku adalah orang yang sering menyimpan rahasia dalam-dalam. Kadang aku sering berpikir bahwa aku ini orangnya tidak adil. Myeonsa sering bercerita padaku tapi aku jarang memberitahukannya rahasiaku. Aku hanya pandai menjadi seorang pendengar, bukan seorang pencerita.

Seperti contohnya hari ini. Myeonsa terus melihat layar handphonenya dan bergerak lebih dari biasanya. Aku yakin pasti ada sesuatu yang ia rencanakan, atau sedang ia tunggu-tunggu. Waktu itu aku tidak sengaja mendengar pembicaraan Myeonsa dengan Donghae di telepon. Aku baru pulang kuliah dan suara Myeonsa terdengar cukup keras. Aku tahu Donghae akan terus berusaha untuk bertemu denganku, dan aku berani bertaruh dia memohon pada Myeonsa untuk membantunya.

Jujur selama ini aku memang bersembunyi dari nya, tapi aku terus memperhatikannya dari jauh.

Myeonsa berjalan mendekatiku, ia terlihat gelisah.

“Seonra, aku yakin kau sudah tahu karena aku tidak pandai berbohong…”

Cukup kaget ketika mendengar Myeonsa terang-terangan jujur padaku. Padahal tadinya aku berencana untuk pura-pura tidak tahu, tapi kalau sudah begini mau bagaimana lagi.

“Ya, kau memang tidak pandai berbohong Myeonsa…” Aku tertawa kecil, sedangkan Myeonsa hanya tersenyum sedikit.

“Donghae oppa terus memintaku untuk mempertemukanmu dengannya, bisakah kau bertemu dengannya, sekali saja?” Wajah Myeonsa terlihat sangat memohon, tapi aku menggeleng. Mungkin itu yang membuat dirinya gelisah sejak tadi. Apa yang harus ia lakukan kalau aku menolak. “Sekali saja?” Myeonsa terus memohon.

“Untuk apa?”

“Donghae oppa bilang ia ingin meluruskan sesuatu denganmu.”

“Aku rasa itu tidak perlu, bilang padanya tidak ada yang perlu di luruskan lagi, semuanya sudah jelas.”

Mungkin perkataanku membuat Myeonsa bingung, tapi aku benar-benar tidak perlu bertemu dengannya lagi, sudah cukup…

“Tapi, Seonra… Kurasa lebih baik kau bertemu dengannya walau hanya sekali saja. Donghae oppa menceritakan padaku bahwa kau mengirim surat perpisahan padanya kan? Menurutku kau harus bertemu dengannya sekali lagi.”

“Aku tidak bisa…”

“Kenapa?”

“Karena aku melihat dirinya sedang bermesraan bersama perempuan lain dengan mata kepalaku sendiri.” Ucapanku tadi membuat Myeonsa kaget dan terdiam.

“Dia selingkuh darimu?” Tanya Myeonsa, aku hanya bisa mengangguk pahit. Mengingat kembali kejadian yang ia lihat itu membuat hatinya terasa kembali tertusuk. “Dengan siapa? Apa perempuan itu idol juga?”

“Aku tidak tahu…”

“Kalau begitu kau harus meluruskannya dengan Donghae oppa, agar semuanya jelas. Siapa perempuan itu, apa benar dia selingkuh, dan kalau benar kenapa sekarang dia mengejarmu lagi seakan-akan tidak terjadi apa-apa?”

Aku terdiam dengan perkataan Myeonsa, apa aku benar-benar harus meluruskan semua kejadian pahit itu dengannya? Perlukah?

“Baiklah… Dia memintaku untuk bertemu dimana?” Hanya itu yang bisa kukatakan.

“Eung, O, oppa… Menyuruhmu untuk… bertemu dengannya di…”

“Dimana Myeonsa…?”

“Eum.. Di Mokpo.”

“MOKPO?! KAU SERIUS?!”

Myeonsa mengangguk.

“Apa dia gila? Seoul-Mokpo itu dari ujung ke ujung! Nyaris ke Jeju-do! Aku tidak mau menghabiskan 40.000 won (± Rp. 320.000) ku hanya untuk bertemu dengannya!” Aku melipatkan kedua tanganku di dadaku.

“Maka dari itu, Donghae oppa menitipkan ini padaku untukmu Seonra…” Myeonsa memberikan sebuah amplop putih yang dalamnya terasa seperti tumpukan kertas. “Ini ongkos pulang pergi ke Mokpo, dia benar-benar ingin bertemu denganmu Seonra.”

“Kembalikan uang ini padanya.” Jawabku dingin.

“Tidak bisa, tadikan kau sudah setuju untuk menemuinya!” Myeonsa mulai ngotot, sehinga kami berdua beradu mulut. Pada akhirnya aku yang kalah dan aku harus menemui Donghae di Mokpo dengan uang itu. Mokpo adalah kota yang dulu kami tinggali bersama, di sana aku punya berjuta kenangan dengan Donghae.

Aku tidak mengerti apa yang dipikirkannya.

Lee Donghae POV

Sehari sebelum pertemuanku dengan Seonra, aku sudah duluan ke Mokpo. Udara di Mokpo tidak seperti di Seoul, di Mokpo masih sangat segar. Pagi ini aku berjalan-jalan sambil mengingat ingat masa kecil ku dengan Seonra. Aku mengunjungi sekolah kami, di sana ada suatu tempat terpencil yang sangat asri. Tempat itu sudah seperti markas ku dan Seonra berdua, banyak kenangan yang kami lewati di sana termasuk ketika ia menjadi pacarku. Tempat itu masih seasri dulu, aku sering bolos dan tidur di sana, terkadang Seonra menemaniku, tapi tidak sering. Aku merebahkan lagi tubuhku di rerumputan yang hijau itu. Pohon yang selalu ada sejak dulu terlihat membesar, dan daunnya semakin banyak. Lama-kelamaan aku tidak sadar kalau aku tertidur di sana.

Srek, srek~

Aku merasakan suatu benda menyenggol-nyenggol pundak ku, entah apa. Semakin lama-semakin kencang dan aku mulai terganggu.

“Kalau mabuk jangan tidur di sini!”

Sahut seseorang di belakangku. Aku bangun dan menghadap orang itu.

“OMO! Kim ahjusshi! Bapak masih bekerja di sini?”

Kim ahjusshi itu adalah satpam di sekolah ini yang sudah mengabdi pada sekolah sejak dulu aku masih bersekolah di sini. Sekolah ini komplit, ada SD sampai SMA, dan aku terus-terusan bersekolah di sekolah yang sama. Dulu tidak banyak sekolah yang ada di Mokpo.

Kim Ahjusshi masih melongo melihatku.

“Ah, masa ahjusshi lupa denganku? Aku Lee Donghae! Yang dulu sering tidur di sini!”

Kim Ahjusshi terlihat seperti sedang berpikir.

“Aaaaah! Donghae-ya! Wah kau sudah besar ya!”

“Tentu saja!” Jawabku bangga.

“Waah, kau dulu sering bercerita padaku bahwa cita-cita mu adalah seorang penyanyi, dan kau sekarang benar-benar seorang penyanyi ya! Ini luar biasa! Apa kabarmu?” Kim Ahjusshi tertawa dengan suaranya yang sejak dulu menggelegar, entah karena perutnya yang buncit, atau karena kumisnya yang tebal, hahaha… aku juga tidak tahu. Aku hanya menanggapinya dengan tertawa.

“Ya! Apa kau masih bersama perempuan yang dulu sering bermain denganmu? Ah siapa namanya?” Kim Ahjusshi ikut duduk di sampingku.

“Seonra?”

“Iya!”

“Tidak… tapi aku kemari untuk bertemu lagi dengannya besok.”

Kim Ahjusshi tidak banyak bicara dan manggut-manggut, ia terlihat seperti sedang berpikir.

“Kalau tidak salah sekitar 3 tahun yang lalu, dia sering bulak-balik kemari.”

“Maksud ahjusshi?” Tanyaku penasaran.

“Seingatku, terakhir kali Seonra-ya ke sekolah ini untuk berkunjung, sekitar tahun 2009. Setelah itu dia tidak pernah kemari lagi. Kemana saja kau? Dia seperti sedang menunggu mu.”

“2009? Seonra selalu datang kemari?”

Argh, aku merasa seperti lelaki pecundang… Memang dulu aku pernah berjanji untuk kembali ke Mokpo setelah kesibukanku selesai dan aku memintanya untuk bertemu denganku di tempat ini ketika aku kembali. Itu membuatku merasa bersalah setengah mati ketika tahu bahwa Seonra sering menungguku disini.

Tapi kenapa ia berhenti menungguku di tahun 2009?

Ah… tahun itu adalah ketika aku sedang super sibuk dan fans-fans bertambah dengan drastis sehingga itu adalah masa-masa tersibuk kami. Bahkan nomor telepon yang seharusnya menjadi privacy kami, sering di hack, sehingga aku harus mengganti nomor beberapa kali dan itu sangat mengganggu. Tanpa sengaja semua kontak yang aku punya terhapus, begitu pula dengan nomor Seonra, semuanya hilang dan akhirnya hilang kontak.

Apa mungkin dia sangat marah karena aku tidak lagi menghubunginya? Semoga saja dia mengerti dengan penjelasanku.

Aku berpamitan pada Kim Ahjusshi, kemudian berjalan pulang ke rumah orang tuaku yang tidak begitu jauh dari sekolah. Malam harinya aku tidak bisa tidur dan terus melihat waktu. Apa yang harus kukatakan ketika bertemu dengannya? Apa saja yang akan kita bicarakan? Bagaimana kalau Seonra semakin marah, atau bahkan sama sekali tidak mau bertemu denganku? Semua ini menggangguku. Pertanyaan bagaimana kalau… itu sangat mengganggu.

Kemudian ku keluarkan surat dari Seonra yang kubawa. Surat perpisahan yang ia kirimkan padaku tiba-tiba.

Untuk Lee Donghae

Masih ingat denganku? Lee Seonra.
Mungkin kau masih ingat, mungkin kau sudah melupakanku.

Sudah sekitar 5-6 tahun kita tidak bertemu.
Apa kau masih ingat dengang perjanjian kita?
Mungkin tidak…

Sekalipun kau sudah lupa, aku masih mengingatnya.
Sekalipun aku berusaha untuk melupakannya, aku masih saja mengingatnya.
Tidak semudah yang kukira.

Lee Donghae… Chukkae!
Kau sudah berhasil sampai sekarang, dan…
mungkin kau sudah bersama orang lain.

Aku akan selalu mendukungmu,
tapi aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi.
Terlalu lama aku menunggu, dan menunggu itu melelahkan.

Kau sudah bebas karena perjanjian itu sudah tidak ada dan akupun terbebas sama sepertimu.
Cukup adil bukan?

Cukup sampai disini saja,
Terima kasih, aku akan selalu menyimpan kenangan masa kecilku bersamamu.
Karena aku ini orang yang sulit melupakan.

Dari Lee Seonra.
Semoga kau semakin sukses.

Itulah surat yang dikirimkan Seonra setahun yang lalu. Selama setahun aku terus mencari keberadaan Seonra, tapi baru sekarang aku bisa bertemu lagi dengannya.
Jujur aku memang membuatnya menunggu terlalu lama, dan aku merasa begitu bersalah. Seandainya aku datang lebih cepat mungkin semuanya tidak akan menjadi seperti ini.

Aku benar-benar masih mencintainya…

Aku tidak suka ketika aku membaca kalimat ‘mungkin kau sudah bersama orang lain.’ Rasanya sakit sekali membacanya. Hatiku tidak pernah pindah pada orang lain. Aku masih, dan akan selalu mencintainya, dan itu menyakitkan. Aku akan meluruskan semua ini, semua masalah ini, sampai Seonra mau kembali bersamaku. Perlahanpun tidak apa-apa.

Pada akhirnya aku baru bisa tidur tepat tengah malam.

Drrrt~ Drrrt~

Bunyi getaran itu membangunkan tidurku. Siapa yang mengirimku pesan sepagi ini?

From: Kyu’s Myeonsa
Oppa, maaf mengganggu pagi-pagi. Seonra bertanya dimana ia harus bertemu denganmu?

Kenapa aku memberi nama kontaknya seperti itu? Karena sudah ada nama Myeonsa di daftar kontakku, karena takut tertukar jadi kutambahkan saja. Lagipula terlihat lucu kan?

To: Kyu’s Myeonsa
Tidak apa-apa~ Bilang saja padanya, di tempat ia biasa menungguku.

Tidak lama kemudian handphone ku bergetar lagi.

From: Kyu’s Myeonsa
Maksud oppa apa?

To: Kyu’s Myeonsa
Bilang saja begitu pada Seonra, dia pasti sudah mengerti.

From: Kyu’s Myeonsa
Baiklah. Ah, gomawoyo oppa, aku sudah berbicara dengan Kyuhyun.

To: Kyu’s Myeonsa
Kau sudah membicarakan semuanya? Syukurlah.

From: Kyu’s Myeonsa
Belum semua, tapi sebagian besar sudah.

To: Kyu’s Myeonsa
Sekarang giliranku… Doakan ya! Hahaha~

From: Kyu’s Myeonsa
Tentu saja!

Setelah itu pesan Myeonsa tidak kubalas lagi. Anak itu memang sangat baik, dia cocok dengan Kyuhyun… dan dia benar-benar mirip… Yoon Ji.

Aku berjanji bertemu dengan Seonra jam 10 pagi, dan sekarang sudah sekitar jam 9. Dari pada ngelantur tidak jelas, lebih baik aku langsung pergi ke taman di sekolah kami yang kudatangi kemarin.

Maksud dari ‘tempat Seonra biasa menungguku’ adalah taman ini. Seperti yang Kim Ahjusshi kemarin bilang, Seonra sering menungguku disini karena aku dulu berjanji untuk bertemu dengannya setelah kepergianku di taman ini. Taman penuh kenangan antara aku dan Seonra.

Yang ada aku hanya memandang sinar matahari yang bersinar diantara dedaunan, terkadang berguling kesana kemari di rerumputan yang begitu empuk ini.

Aku benar-benar bingung, bagaimana aku harus memulai percakapannya?

Kata-kata yang tepat rasanya tidak muncul di kepalaku, sehingga aku mulai tertidur lagi.

Sreek, sreek~

Suatu bunyi yang tidak jauh berbeda dengan kemarin, terdengar lagi. Kucoba untuk membuka mataku, dan yang terlihat adalah seorang wanita berambut kecoklatan dengan hiasan bunga di rambutnya.

“Seonra…?”

Ia hanya memandangku dengan senyum kecilnya, yang ku rindukan. Setelah aku bangkit dan duduk, Seonrapun duduk di sebelahku. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya, begitu juga denganku.

“Hai, lama tidak bertemu.” Pada akhirnya Seonra lah yang memulainya duluan.

“Iya, aku kembali Seonra…” Entah darimana kalimat itu keluar dari mulutku, dan itu mebuat Seonra terdiam. “Maaf, aku terlambat.” Sambungku lagi.

“Seandainya aku masih menunggumu mungkin aku akan berkata, kau terlambat beberapa tahun.” Seonra tertawa getir.

“Kau… Sudah tidak menungguku?”

“Kukira kau sudah mengerti dengan surat yang kukirimkan.”

Ya, surat itu, surat perpisahan.

“Kenapa?”

“Karena menunggu itu sesuatu yang melelahkan, Donghae…” Seonra menghela nafasnya dan memandang sinar matahari di celah dedaunan. “Apa lagi bertahun-tahun.”

“Maafkan aku…”

“Untuk apa?” Seonra tiba-tiba memandangku.

“Membuatmu menunggu.” Sedangkan aku berusaha untuk memandangnya, tapi rasanya sulit.

“Apa hanya ini yang ingin kau katakana padaku sampai menyuruhku bertemu di Mokpo?” Ia tertawa kecil.

“Tentu saja tidak, masih banyak yang ingin ku bicarakan denganmu setelah bertahun-tahun.” Kali ini aku memandang Seonra dengan tersenyum. Mungkin hubungan kami tidak bisa kembali seperti semula, tapi paling tidak keadaan kami tidak separah sebelumnya.

Semoga saja…

Author POV

Tanpa sepengetahuan Seonra, Myeonsa membuntuti Seonra sampai Mokpo. Sebagai sahabatnya, Myeonsa rela melakukan apa saja. Myeonsa takut sesuatu terjadi dengan Seonra.

Saat ini Myeonsa juga berada di sekolah tempat Seonra dan Donghae bertemu, ia sedang duduk di ayunan, sambil menunggu Seonra dari kejauhan. Earphone putihnya terpasang di kedua lubang telinganya, kemudian perlahan Myeonsa mengayunkan ayunannya perlahan. Tanpa Myeonsa sadari, ayunan itu terasa semakin kencang, dan terasa seperti ada yang mendorong ayunan itu. Myeonsa ingin berteriak karena ayunan itu terasa semakin kencang, tapi ia takut Seonra sadar dengan keberadaannya.

Sedikit panik, Myeonsa melepas kedua earphonenya dan ia mendengar suara tawa yang familiar.

“Neoguri… Sedang apa kau disini?”

Otomatis Myeonsa melihat kebelakang, dan ia hamper terjatuh ketika tahu bahwa dibelakangnya sudah ada… Cho Kyuhyun.

“Kyu…hyun?”

Myeonsa membenarkan posisi duduknya, kemudian Kyuhyun tertawa lepas.

“Kau benar-benar terlihat panik!”

“Ya! Cho Kyuhyun, hentikan ini. Aku takut!”

“Benarkah? Hahaha. Akan ku berhentikan bila kau setuju dengan apapun yang kukatakan.”

“Maksudmu?” Ayunannya semakin lama semakin kencang.

“Jeju-do tidak jauh dari sini, maukah kau pergi kesana bersamaku?”

“Turunkan aku dulu Kyuhyun! Aku tidak bisa mencerna apa yang kau katakan!”

“Kau harus setuju dulu!” Sahut Kyuhyun tidak mau kalah, ia mendorong Myeonsa semakin kencang.

“Kyaaa~ Baiklah, baiklah! Hentikan sekarang juga!”

Setelah mendengar bahwa Myeonsa setuju, perlahan Kyuhyun menghentikan ayunan itu. Setelah berhenti, Myeonsa menarik nafasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya lagi. Ia benar-benar takut jatuh.

“Apa maksud mu mengajakku ke jeju-do?” Tanya Myeonsa setelah ia bisa menetralkan nafasnya.

“Hanya ingin saja… lagipula kau sudah setuju. Yuk, sekarang saja, jarang-jarang ke jeju-do dengan perahu, ya kan?” Sekali lagi Kyuhyun tertawa, tawanya itu membuat Myeonsa kesal setengah mati.

“Kau sedang apa disini?” Tanya Myeonsa.

“Membuntuti Hae hyung, kau?”

“Membuntuti Seonra, kenapa kau membuntutinya?”

“Alasan yang sama denganmu.”

Myeonsa memandang Kyuhyun dengan tidak percaya.

“Kau serius?” Tanya Myeonsa sekali lagi.

“Tidak, aku ingin bertemu denganmu.”

“Kau serius?” Tanya Myeonsa dengan nada yang semakin di tekan.

“Tidak, aku hanya bercanda, hahaha.” Tawa menyebalkan itu muncul lagi. “Kaja!” Kyuhyun Akmenarik pergelangan tangan Myeonsa sehingga Myeonsa bangkit dari ayunannya.

Dia yang aneh atau aku yang aneh?
Detak jantungku mulai berdetak tidak beraturan lagi, dan entah kenapa aku tidak bisa menahan senyum yang sejak tadi mengembang.
Sepertinya memang ada yang aneh denganku…

Aku tidak boleh melanggar peraturan itu…
Tidak boleh.

To Be Continue

 

Advertisements

3 responses to “You Turned My World Upside Down (Chapter 7)

  1. Daebak eoooon 😀 keren abissss penasaran kyu sama myeonsa mau ngapain hehehe 😀 cepetan chapter selanjutnya yaaa :3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s