[Requested] Because I Love You

Poster2

Requested By: Minrin

Hell0! 
So, I’m back~

HOLIDAAAAY!
Maaf banget setelah tertunda selama 1 minggu karena UAS, di tambah dengan aku baru selesai nulis sekitar 1 minggu 4 hari. Tadinya aku mau post ini hari Kamis tanggal 20 kemarin, tapi aku nginep di rumah saudara yang nggak ada wifi di rumahnya, so i can’t post it there. But i’m home now~^^

Well let’s just get to the story…
Ini pertama kalinya aku nyoba buat nulis FF tentang dancing. Since the main cast is LEE HYUK JAE~ Jadi maaf kalau kurang hmm… ‘berpengalaman’, hahaha!

I also add a song~
It’s Original Soundtrack of Step Up 4: Revolution – To Build A Home

OH YA! (for Minrin) tentang catatan yang kamu tulis di form mungkin aku nggak bisa penuhin sepenuhnya.

First, I’m still amateur… Jadi kalau konfliknya nggak serumit/misterius yang kamu pengen, i’m sorry~ Aku lagi coba terus buat konflik yang sulit…

Second, about PG-16… Mungkin rated cerita ini nggak sampe PG-16, i tried to make this story PG-16, but i don’t know…  I tried though~

That’s all, i hope you like it 🙂

p.s. tolong promote ya Fanfiction Request nya! Hehehe, Gamsahamnida~^^ 

____________________________________________________________

By CIA (@zaskiarunim)

Attention: Ini hanyalah fanfiction, bila FF ini mirip dengan cerita lain hal ini hanyalah ketidak sengajaan, Gamsahamnida.

DO NOT TAKE WITHOUT PERMISSION AND FULL CREDITS,
Please leave a comment~

_____________________________________________________________

I will do anything for you,
even if I have to change myself,
because I love you.

“Bukan! Bukan seperti itu! Kenapa kau terus mengulangi kesalahanmu?!”

Lelaki paruh baya itu berkacak pinggang di hadapan seorang lelaki muda yang kepalanya tertunduk. Bahu lelaki muda itu naik turun tidak beraturan dan keringat yang bercucuran, sejak tadi ia harus mendengarkan omelan yang tidak ada habisnya.

“Setelah sesi ini selesai, kau temui aku di ruanganku.”

Korea National University of Arts, Department of Dance Performance terbagi menjadi tujuh fakultas, 2 fakultas Korean Dance, 2 fakultas Modern Dance, 1 fakultas Ballet, dan 1 fakultas Dance Music.

Setiap fakultas memiliki professor, dan sekarang Lee Hyuk Jae, yang biasa di panggil Eunhyuk itu sedang menghadap professor fakultas Modern Dance, yaitu Park Gyosunim (Professor)

“Hyuk, aku tahu ku ini berbakat, skillmu juga salah satu yang terbaik di sini. Tapi, kalau kau terus seperti ini semua bakat dan kehebatanmu itu tidak ada gunanya.”

Meskipun Park Gyosunim, adalah guru besar di fakultas Modern Dance, tapi ia bukan seorang guru killer yang hanya bisa memarahi muridnya. Tapi ia adalah guru yang mau turun tangan untuk membantu muridnya dan juga dekat dengan semua murid-muridnya, begitupun dengan Eunhyuk.

Sayangnya kali ini Eunhyuk mengecewakannya dan Eunhyuk akhirnya di panggil ke ruangan Park Gyosunim. Akhir-akhir ini entah kenapa perilaku Eunhyuk berubah, ia jarang berlatih, malas-malasan, lebih kasar, sering absen, dan sebagainya. Karena itu lah Eunhyuk di panggil oleh Park Gyosunim, tariannya pun semakin tidak beraturan, sering melakukan kesalahan dan yang pasti tidak lentur. Benar apa kata Park Gyosunim, semua bakat yang Eunhyuk punya lama lama bisa terkubur bila ia terus begini.

“Maafkan aku.” Sahut Eunhyuk yang masih tertunduk. Park Gyosunim menghela nafasnya berat.

“Maaf saja tidak cukup, Hyuk.” Euhyuk yang sedikit kaget mengangkat wajahnya dan menatap Park Gyosunim, sedangkan Park Gyosunim menatap balik Eunhyuk dengan dalam.

“Jadi, apa yang harus ku lakukan?”

“2 minggu, hanya 2 minggu…” Eunhyuk menatap Park Gyosunim dengan kebingungan “… kau tidak boleh absen dari semua kelas. Ditambah, kau harus ikut beberapa kelas balet.”

“Ne?!” Eunhyuk terkejut bukan main. Ia belum pernah dengar ada murid yang di hukum untuk mengikuti kelas fakultas lain. “Gyosunim… apa bapak tidak salah? Lebih baik aku di hukum membersihkan studio, atau semacamnya daripada mengikuti kelas balet.”

Yang Eunhyuk pikirkan bukan hanya pelajarannya, tapi gurunya juga. Kim Gyosunim, professor di fakultas balet, jauh lebih disiplin dari Park Gyosunim. Ditambah stretching dan pemanasannya lebih ekstrim. Paling tidak itu yang di pikirkan Eunhyuk, memikirkannya saja ia sempat merinding.

“Ini bukan hukuman Hyuk, ini untuk kebaikanmu sendiri.” Sahut Park Gyosunim dari balik mejanya.

“Gyosunim… Jangan memasukan aku dalam kelas balet. Perpanjang saja waktunya, tapi jangan kelas balet, tolong lah Gyosunim…” Nada bicara Eunhyuk semakin memelas.

“Hyuk, aku masih ingat ketika kamu berkata padaku bahwa kau ingin menjadi professional kan? Dengan perilakumu saat ini, kau tidak akan bisa menjadi professional. Tugasku adalah membantumu menggapai impianmu, jadi meskipun ini terdengar sulit atau melelahkan, percayalah padaku bahwa kelak kau akan mendapatkan apa yang akan kau inginkan.”

Eunhyuk tidak bisa berkata apa-apa, ia hanya bisa mengangguk lemah.

“Hyuk, bukannya kau pernah bilang padaku bahwa murid perempuan di fakultas balet cantik-cantik?”

Dalam sekejap senyum di bibir Eunhyuk tiba-tiba mengembang, begitu pula dengan kedua matanya yang berbinar. Sepertinya semangat Eunhyuk yang tadi hampir habis, sekarang seperti terisi kembali.

“Tapi tentu saja, tugas ini tidak boleh kau ambil main. Mengerti?” Suara Park Gyosunim terdengar sangat tegas, kemudian Eunhyuk menyetujui tugas ini.

Pagi itu entah kenapa bunyi alarm terdengar lebih keras. Seperti alarm kebakaran, menurutnya. Dan itu membuat Eunhyuk terlunjak dari tidurnya. Mungkin karena hari ini dia harus datang ke kelas balet tepat waktu. Park Gyosunim sudah mewanti-wanti Eunhyuk sejak kemarin, kelas balet mulai pukul 7 pagi dan semua murid harus sudah siap. Biasanya Eunhyuk bangun pada jam 8, dan sekarang ia harus sudah ada di kampus pada jam 7. Ia harus membiasakannya karena ini lah yang akan ia lakukan di pagi hari selama dua minggu. Cukup menyiksa, mungkin bagi Eunhyuk sangat menyiksa.

Menyebalkan…

Batinnya.

Dengan mata yang setengah terbuka Eunhyuk memasuki studio balet 15 menit sebelum kelas dimulai. Dari langkah pertama ia memasuki studio, semua murid yang juga mengikuti kelas itu memandang Eunhyuk dengan heran, beberapa berbisik-bisik, dan Eunhyuk hanya bisa berjalan risih dengan tangannya yang menggaruk lehernya yang tiba-tiba terasa gatal karena suasana ini.

Keadaan di studio balet tidak jauh berbeda dengan studio Modern Dance. Sebelum kelas di mulai, semua anak-anak selalu berbincang berkelompok-kelompok. Mereka semua melingkar berkelompok dan duduk bersila dengan baju ketat mereka. Baju yang di pakai kelas Modern Dance memang beberapa ada yang ketat, tapi tidak seketat itu. Melihatnya saja sudah menyiksa, jadi  Eunhyuk hanya memakai baju yang biasa ia pakai. Asalkan nyaman, yasudah.

Kedua mata Eunhyuk mengamati seluruh ruangan, mencari tempat duduk yang pas untuk dirinya sendiri tanpa di ganggu tatapan mata murid-murid di kelas ini. Tatapannya jatuh pada sisi kanan ruangan yang cukup kosong, hanya ada seorang perempuan yang sedang mengutak-atik ponselnya dengan earphone di kedua telinganya. Pada akhirnya Eunhyuk duduk 2 meter di sebelah kanan perempuan itu. Eunhyuk hanya bisa menghela nafasnya.

Eunhyuk POV

Terdapat 4 sesi dalam sebuah kelas balet,barre, center, adagio, dan allegro. Sesi pertama ku kulakukan dengan setengah mati. Pemanasan yang seharusnya mudah entah kenapa menjadi lebih sulit daripada biasanya. Sepertinya niat Park Gyosunim memasukanku ke kelas balet selama 2 minggu adalah agar tubuhku lentur kembali dan lebih disiplin. Benar-benar tempat yang tepat untuk menyiksa badan yang kaku.

Gerakan-gerakan yang tidak biasa kulakukan membuatku semakin tersiksa. Gerakan pemanasan basic seperti Plie atau tendu mungkin aku masih bisa, tapi kalau kaki sudah terangkat satu seperti Ron de Jambe yang juga termasuk pemanasan basic sudah membuatku oleng ke kanan dan kekiri.

Pemanasan basic di barre saja sudah tidak benar, apa lagi sesi selanjutnya. Gerakan itu kulakukan dengan susah payah, tapi tetap saja terlihat seperti orang bodoh. Sungguh memalukan.

Satu yang membantuku adalah perempuan yang berada di depanku, perempuan dengan earphone yang tadi pagi duduk di sekitarku.  Gerakan perempuan ini terlihat lebih lentur dari yang lainnya sehingga, sedikit-sedikit aku mengikuti gerakannya. Selama kelas berlangsung aku selalu berusaha berada di dekatnya agar aku bisa melihat dan mengikuti gerakannya. Percaya atau tidak aku ini seseorang yang bisa belajar dengan cepat, dengan melihat orang lain aku sudah bisa. Tapi mungkin sekarang sedikit berbeda, karena jarang latihan tubuhku tidak mau menurut seperti biasanya.

Jarum jam sudah berada di angka 9 tepat. Setelah keempat sesi itu selesai, semuanya beristirahat selama 15 menit. Aku kembali ke tempat duduk ku yang tadi, begitu pula dengan perempuan yang sejak awal tadi ku perhatikan. Anaknya terlihat pendiam, bahkan ia tidak begitu bergaul dengan yang lainnya, entah kenapa tapi perempuan itu menarik. Seperti magnet, ada sesuatu yang menarikku untuk memperhatikannya sejak tadi. Setelah waktu istirahat habis, Kim Gyosunim memanggil semuanya untuk berkumpul. Aku hanya bisa mengikuti mereka dan duduk di paling belakang.

Sesi terakhir ini adalah sesi unjuk kebolehan. Di kelas Modern Dance pun ada yang seperti ini, inti dari sesi ini bukannya untuk sombong atau malah berubah menjadi dance battle, tapi sesi ini bertujuan agar guru tahu sampai mana seorang murid menguasai teknik yang sudah di ajarkan.  Satu persatu murid kelas balet maju. Tidak terkecuali aku, tapi Kim Gyosunim memperbolehkan ku untuk menari seperti biasanya, bukan balet.

“Minrin, silahkan maju kedepan.”

Kim Gyosunim memanggil nama pertama yang keluar dari undian. Tiba-tiba perempuan earphone tadi berdiri kemudian maju kedepan. Tunggu, siapa namanya tadi? Minrin? Jadi perempuan itu bernama Minrin?

Entah kenapa nama itu terus mengiang-ngiang di kepalaku.
Minrin.

Minrin mengawali gerakannya dengan beberapa teknik dasar, tapi semakin lama tariannya semakin sulit tapi sangat indah. Kedua mataku terbelalak takjub, perempuan ini menari seperti seorang professional. Tariannya begitu lembut dan menawan, seakan-akan ada nyawa di dalam tariannya. Meskipun ini hanya latihan di dalam studio tapi aku merasa tariannya seperti yang di tampilkan di atas panggung. Magnet penarik itu semakin lama semakin kuat, rasanya seperti terhisap kedalam tariannya kemudian tenggelam. Ada yang aneh dengan perempuan bernama Minrin ini, kenapa ia begitu… Menarik?

Setelah sesi terakhir selesai, aku berniat untuk menyapa perempuan bernama Minrin itu. Dengan cepat ku ambil tasku kemudian ku edarkan pandangan ku ke seluruh ruangan, tapi perempuan itu sudah pergi entah kemana, yang pasti ia tidak ada di ruangan ini.

Tok, Tok, Tok!

Beberapa kali Eunhyuk mengetuk pintu ruangan Park Gyosunim. Professor fakultas Modern Dance itu kemudian mempersilahkan Eunhyuk masuk.

“Park Gyosunim?” Kepala Eunhyuk menyembul dari pintu, kemudian ia masuk dan duduk di depan meja Park Gyosunim.

“Eunhyuk-ah? Ada apa?” Tanya Park Gyosunim.

“Gyosunim… Sedang sibuk tidak?”

“Tidak juga, memangnya ada apa?” Ulangnya lagi.

“Eung, Tadi aku baru menyelesaikan kelas balet, lalu… eung, kelas Modern Dance mulai jam berapa?”

Tiba-tiba Park Gyosunim tertawa dengan lantang.

“Aku yakin bukan itu yang mau kau tanyakan padaku. Jadual bisa kau lihat di luar, jadi sebenarnya ada apa?” Park Gyosunim masih saja senyam-senyum karena Eunhyuk.

“Sebenarnya… Apa gyosunim tahu dengan murid kelas balet?” Entah kenapa suara Eunhyuk terdengar agak berbisik.

“Maksudmu, kau tertarik dengan seseorang?” Jawab Park Gyosunim dengan to-the-point, membuat Eunhyuk gelagapan.

“Baiklah…” Eunhyuk menyerah karena ia sama sekali tidak bisa berdebat dengan guru besarnya ini, kemudian melanjutkan kalimatnya lagi. “ Apa gyosunim tahu dengan murid kelas balet yang bernama… Minrin?”

Selama beberapa detik, Park Gyosunim terlihat sedikit berpikir.

“Minrin? Ah, iya Minrin yang ada di fakultas balet itu! Ya, aku tahu, dia kan yang sering memenangkan kompetisi balet di dalam maupun luar negeri. Kau tidak tahu?”

Eunhyuk terdiam. Sehebat itu kah dia?

“Jadi karena itu dia terlihat seperti professional?” Tanya Eunhyuk, Park Gyosunim hanya tertawa ringan.

“Kau benar-benar tertarik padanya ya?” balas Park Gyosunim di ikuti dengan tawanya yang unik.

Entahlah, aku sendiri tidak tahu.

Hanya kalimat itu yang ada di pikiran Eunhyuk.

“Hyuk, sebaiknya kau segera masuk ke kelas Modern Dance mu, kau harus sudah ada di kelas tepat pukul 11 siang.” Sahut Park Gyosunim, setengah jahil, setengah serius.

Eunhyuk pamit, kemudian bergegas menuju studio Modern Dancenya.

Seusai kelasnya, sekitar jam 3 sore Eunhyuk berniat untuk mencari cemilan di kantin. Bersama dengan teman satu fakultasnya Eunhyuk yang bernama Lee Donghae, mereka berjalan menuju kantin. Sebelum sampai di kantin, sayup-sayup terdengar suara lagu dari suatu studio. Eunhyuk yang penasaran mencari arah suaranya, dan Donghae pun ikut mencarinya. Mereka berdua terus menyusuri satu persatu ruangan yang ada di lorong panjang itu, tidak lama kemudian Donghae berhenti di satu ruangan, studio balet.

“Eunhyuk, disini!” Donghae mengintip studio dari kaca yang cukup kecil.

Studio balet itu bukan studio yang sama dengan studio yang di masuki Eunhyuk tadi pagi. Studio balet yang ini lebih kecil, dan lebih kedap suara. Eunhyuk yang penasaran ikut mengintip dari jendela kecil di pintu itu.

“Ada orang!” Seru Donghae, di ikuti dengan suara Eunhyuk yang memprotes Donghae karena suaranya terlalu keras. Eunhyuk mendorong Donghae agar ia bisa melihat lebih jelas. Entah kenapa sekarang Eunhyuk semakin penasaran dengan murid di fakultas Balet, terutama…

“Minrin?” Eunhyuk berbisik kecil, tapi Donghae masih bisa mendengarnya.

“Kau kenal dengannya?” Tanya Donghae.

Eunhyuk tidak langsung menjawab, sisi bibirnya malah terangkat satu.

“Donghae… Lihat saja, akhir minggu ini dia pasti sudah jatuh cinta padaku.”

Donghae tidak sepenuhnya kaget dengan perkataan Eunhyuk. Eunhyuk memang biasanya seperti itu, playboy fakultas modern dance, begitu panggilannya. Semakin hari kelakuannya semakin menjadi.

Entah kenapa Donghae tidak yakin dengan yang satu ini.

“Berani bertaruh?” Kata itu tiba-tiba meluncur dari mulut Donghae.

“Tentu saja.” Eunhyuk menjawabnya dengan enteng. Perlahan Eunhyuk membuka pintu studio itu. Eunhyuk meninggalkan Donghae di luar, akhirnya Donghae memilih untuk pulang, dan menunggu hasil taruhannya di akhir minggu.

Kemudian Eunhyuk berjalan kearah Minrin yang tidak sadar bahwa ada seseorang yang masuk. Musik masih terus mengalun dengan indahnya. Ia tahu bahwa lagu ini adalah salah satu lagu original soundtrack dari salah satu film kesukaannya, Step Up terbaru yang berjudul To Build a Home.

Cahaya yang menyusup masuk dari kaca studio, lagu yang mengalun, tarian yang lembut, pemandangan ini terlalu indah. Perlahan perasaan hangat menyeruak di tubuh Eunhyuk, perasaan yang sudah lama sekali Eunhyuk rasakan, bahkan ia sudah lupa dengan perasaan ini. Perasaan ketika Eunhyuk menari pertama kali, menari karena ia jatuh cinta dengan dunia tari menari.

Minrin, masih menari dengan lembut dan ringan, tanpa menyadari keberadaan Eunhyuk di sekitarnya. Tubuh Eunhyuk diam dan kedua matanya terpaku pada Minrin. Satu yang Eunhyuk sadari, Minrin yang setahu dia selalu menarikan classic balet dengan music yang juga classic, seperti lagu-lagu komponis genius sejenis karya Beethoven, Bach, dan yang lainnya. Kali ini Minrin menarikan balet yang lebih modern dengan lagu yang juga lebih modern. Eunhyuk sama sekali lupa dengan niatnya mendapatkan Minrin dalam 1 hari juga taruhannya.
Seperti tenggelam kedalam tarian Minrin.

Tanpa Eunhyuk sadari, Minrin berputar dan tersadar akan kehadiran Eunhyuk. Minrin nyaris terjatuh karena kaget, tapi ia bisa menahannya.

“K, kau… sedang apa disini?” Tanya Minrin yang masih kaget.

“Aku juga mau bertanya hal yang sama padamu. Bukankah kelas balet sudah lama berakhir, kenapa kau masih disini?” Eunhyuk berjalan mendekati Minrin, lagu yang Minrin pakai masih mengalun dengan lembutnya. Semakin Eunhyuk mendekat, Minrin semakin mundur kebelakang. Langkah mundur Minrin terhenti karena punggunya menabrak kaca.

“K, kenapa kau disini? K, kau mau apa?” Minrin semakin gugup dengan Eunhyuk yang semakin mendekat.

Sudut kanan bibir Eunhyuk terangkat. “Aku tertarik dengan tarianmu.” Langkah Eunhyuk terhenti ketika wajahnya dan wajah Minrin sudah berjarak sekitar 30 cm. “Yang kutahu kau hanya menarikan balet klasik… tapi ternyata kau bisa juga menari balet yang lebih modern.”

Kedua mata Minrin tidak dapat menatap wajah Eunhyuk, jelas ia ketakutan. Diruangan ini hanya ada dirinya dan Eunhyuk, ditambah dengan ruangan ini adalah rangan kedap suara yang membuatnya semakin takut. Bagaimana kalau sesuatu terjadi padanya, kalau ia berteriak apa masih terdengar? Ia tahu bahwa Eunhyuk ini adalah murid yang ‘kurang baik’ di fakultas Modern Dance.

“A, aku hanya mencoba hal baru.”

Eunhyuk tertawa setelah Minrin menjawab pertanyaannya. “Kau tidak usah setegang itu, aku hanya bertanya.” Eunhyuk pergi menjauhi Minrin yang tadi tersudut, dan sekarang ia mendekati Itouch milik Minrin yang di pasang di speaker. Kemudian ia menekan tombol replay, dan lagu itu berputar dari awal lagi.

“Ulangi tarianmu dari awal, aku ingin melihatnya lagi.”

Eunhyuk mempersilahkan Minrin untuk menempati tempatnya tadi. Masih sedikit takut, Minrin berjalan perlahan menuju barre yang tadi ia gunakan. Tapi tiba-tiba Eunhyuk menghalanginya.

“Jangan gunakan barre, gunakan aku, anggap aku pasangan menarimu.”

Entah kenapa jantung Minrin berdetak lebih cepat, mungkin karena ia tegang, atau takut? Ia sendiri tidak mengerti kenapa. Minrin masih belum membalas ajakan Eunhyuk dihadapannya, ia masih bingung.

“Percaya padaku.”

Minrin tahu bahwa Eunhyuk bereputasi kurang baik di kampus ini, tapi kalimat yang keluar dari mulut lelaki ini membuat tubuhnya bergerak tidak sesuai dengan pikirannya. Seakan-akan tubuhnya bergerak sendiri dan mengambil uluran tangan Eunhyuk.

Lagu itu mengalun pelan dan indah. Minrin semakin tenggelam kedalam lagu juga tariannya. Menggunakan pasangan memang lebih nyaman dibanding menggunakan barre yang kaku. Eunhyuk pun berusaha mengimbangi tarian Minrin, sedikit demi sedikit tubuhnya ikut bergerak sesuai dengan lagu itu.

Eunhyuk kembali merasakan perasaan yang tadi ia rasakan ketika memperhatikan tarian Minrin. Perasaan yang menyebar ke seluruh tubuhnya, sudah mengambil alih dirinya. Seperti Minrin, tubuh Eunhyuk pun bergerak dengan sendirinya.
Perasaan yang ia rindukan.

Ketika lagu berhenti, tarian mereka di akhiri dengan tubuh keduanya berjarak sangat dekat, nafas mereka seperti menyatu juga detak jantung yang berdegup bersama-sama.

“Masih banyak yang harus kau perbaiki, Minrin. Tarianmu kurang maksimal, tidak semaksimal ketika kau menarikan balet classic di kelas tadi pagi.”

Minrin hanya bisa mengangguk lemas.

“Aku tahu banyak tentang tarian seperti ini, aku bisa mengajarimu. Sedangkan basic ku sangatlah kurang dan kau menguasai itu, kau bisa mengajariku. Kita bisa jadi partner!” Seru Eunhyuk dengan senyuman lebar yang tersungging di bibirnya.

“Kenapa…?”

“Maksudmu?” Eunhyuk kebingungan dengan perkataan Minrin. Kemudian Minrin melanjutkan kalimatnya lagi.

“Kenapa, aku harus mempercayaimu? Kenapa aku bisa menari dengan nyaman bersamamu?”

Eunhyuk baru menyadari sesuatu dari perkataan Minrin. Kenapa? Kenapa dirinya seperti berbeda ketika menari dengan Minrin? Jujur ia pun merasa nyaman. Eunhyuk hanya bisa tersenyum.

“Kau benar… Kau tidak harus percaya padaku, tapi aku ingin agar kau percaya padaku akan sekali saja, selanjutnya terserah kau mau percaya atau tidak.” Eunhyuk menarik nafasnya, kemudian melanjutkan kalimatnya. “Tolong percaya padaku satu hal ini, ketika aku menari bersamamu tadi, aku merasa seperti kembali ke masa-masa ketika aku baru memasuki dunia tari menari. Aku kembali merasakan semangat juga passion yang pernah aku punya dulu. Ketika aku jatuh cinta dengan menari.”

Minrin tidak bisa berkata-kata, tidak ada satu katapun yang mau keluar dari mulutnya.

“Hanya itu saja. Sampai besok…” Eunhyuk menyampirkan tas ranselnya di salah satu bahunya, kemudian melambaikan pelan tangannya pada Minrin yang masih terdiam.

Dia tidak seburuk yang kukira.
Apa kata-katanya serius? Atau hanya hanya bualan?
Apa aku saja yang terbodohi oleh kata-katanya?
Apa aku harus percaya padanya?

Satu yang ada di pikiranku saat ini,
aku nyaman menari bersamanya.

Eunhyuk bangun sekitar pukul 6 pagi, pergi menuju kampus dengan terburu-buru, dan masuk ke kelas balet pada pukul 7 pagi. Kurang lebih pagi ini sama seperti kemarin.
Yang berbeda adalah, sekarang ia sudah mengenal Minrin.

Pagi ini ketika Eunhyuk memasuki studio kelas balet ia melihat sesuatu yang aneh. Seorang laki-laki sedang mengobrol dengan Minrin. Bukan mengobrol biasa, melainkan mendekati Minrin. Apa sih yang tidak di ketahui oleh seorang playboy seperti Eunhyuk?

Tanpa basa-basi Eunhyuk mendekati Minrin dan laki-laki yang sedang berduaan itu.

“Pagi, Minrin-ah.” Eunhyuk berusaha menyapa Minrin seakrab mungkin, dan lelaki itu merespon dengan pandangan agak sinis dan dahi yang berkerut heran. Jelas ia tidak suka dengan Eunhyuk yang mengganggu acara ‘pendekatannya’.

“Pagi.” Jawab Minrin dengan dingin, dan laki-laki itu memandang Eunhyuk dengan pandangan ‘aku menang, dan kau tidak bisa mendekatinya.’ Agar suasananya tidak begitu canggung, dengan enggan Eunhyuk menyapa lelaki itu.

“Pagi… eung, namamu?”

“Hangeng.” Jawab lelaki itu, masih sinis.

“Pagi, Hangeng.” Eunhyuk mengulangi ucapannya dengan sedikit ditekan, rahangnya sedikit mengeras.

“Ada lagi yang kau butuhkan?” Minrin memotong percakapan canggung ini dengan bertanya pada Hangeng. Hangeng terlihat memikirkan hal lain agar ia tetap bisa bersama dengan Minrin, tapi sepertinya ia kehabisan ide, dan raut wajah Minrin terlihat seperti, ‘tolong pergi jika tidak ada yang kau butuhkan lagi.’ Minrin memang selalu seperti itu, makannya dia sering menyendiri. Akhirnya Hangeng pergi dan bergabung dengan teman-temannya yang lain.

“Minrin-ah, hari ini kita latihan bersama lagi ya.” Sahut Eunhyuk.

“Setiap hari aku memang selalu latihan di studio itu.” Minrin hanya memandang Eunhyuk sebentar dan ia pun kembali menatap buku yang sedang ia baca sejak tadi.

Tidak lama setelah itu, kelas balet segera di mulai. Kim Gyosunim menyuruh semua murid untuk pemanasan di barre seperti biasa. Setelah itu ia tidak langsung memulai pemanasan sesi ke-2 tapi malah mengumpulkan semua murid.

“Seperti yang kalian tahu, School of Dance Concert akan di adakan pada hari Jum’at, 2 minggu lagi.”

Semua murid di studio bertepuk-tangan dan terasa sangat bersemangat dengan acara itu. School of Dance Concert adalah pertunjukan yang di adakan oleh School of Dance, yaitu gabungan dari ke-7 fakultas menari, seperti Korean Dance, Modern Dance, Ballet, dan Dance Music. Itu adalah pertunjukan besar yang diadakan setiap tahun.

“Sekarang aku akan mengelompokan kalian semua agar bisa segera membuat konsep, koreografi dan latihan.” Kim Gyosunim melihat sejenak daftar nama yang ada di tangannya. “Ah iya, Eunhyuk kau akan membahas ini di kelas Modern dance mu nanti ya, jadi tidak apa-apa kalau kau tidak mengikuti sesi ini.” Lanjut Kim Gyosunim. Eunhyuk terlihat seperti berpikir, tak lama kemudian ia mengangkat tangannya.

“Gyosunim, aku punya permintaan.” Sahut Eunhyuk, kemudian Kim Gyosunim mempersilahkannya berbicara. “Boleh tidak kalau… aku menari berdua dengan Minrin?” Kim Gyosunim terlihat sedikit bingung, tapi Eunhyuk melanjutkan kalimatnya. “Tidak apa-apa kan kalau menyatukan dua tarian yang berbeda menjadi satu. Ini akan menjadi sesuatu yang luar biasa Gyosunim!”

“Balet dengan Modern Dance? Kau boleh juga… Minrin, apa kau setuju?”

Kedua mata Minrin terbelalak kaget. Ia tidak perca bahwa Kim Gyosunim menyetujui pendapat Eunhyuk begitu saja. Sebagian dari hatinya menolak untuk menari bersama Eunhyuk, tapi sebagian hatinya yang lain berpikiran terbalik. Minrin bingung, yang jelas ia ingin menampilkan yang terbaik di konser itu.

“Minrin-ah? Bagaimana menurutmu? Begini saja, sebaiknya kalian menunjukan konsep kalian dulu padaku, kalau bagus aku akan memasangkan kalian.”

Pada akhirnya Minrin mengikuti keputusan Kim Gyosunim.
Tidak ada salahnya juga ia mencoba hal baru. Dengan orang yang tidak seharusnya ia percaya.

“Jadi konsepmu seperti apa? Kau punya ide?” Tanya Minrin yang sedang berdiri di hadapan Eunhyuk yang bersila. Saat ini mereka berdua sedang berlatih bersama seperti kemarin, bedanya saat ini mereka sedang mendiskusikan konsep yang akan mereka tunjukan di hadapan Kim Gyosunim.

“Kita gunakan lagu yang kau pakai kemarin, konsepnya… passion? Bagaimana?” Tanya Eunhyuk.

“Passion? Terhadap apa?”

“Menari dan cinta.”

“Apa maksudmu?” Minrin masih tidak mengerti dengan yang Eunhyuk maksudkan. Eunhyuk menghela nafasnya kemudian ia bangkit dan mengambil tasnya. Eunhyuk mengeluarkan ipad yang ada di tasnya kemudian menekan beberapa tombol dan terbuka sebuah video.

“Kira-kira seperti ini.” Eunhyuk menekan tombol play, setelah itu muncul seorang wanita dan pria yang Minrin kenal sebagai Kathryn McCormick dan Ryan Guzman, pemeran utama Step Up terbaru. Video itu menampilkan potongan video tarian dari film itu. Di video itu tarian Kathryn McCormick terlihat sangat lentur dan lembut, begitu pula dengan Ryan Guzman. Tiba-tiba Minrin baru ingat bahwa konsep yang Eunhyuk maksud adalah tarian seperti di video itu, tarian dengan skinship yang lebih. Tarian yang benar-benar membutuhkan passion dan… cinta.

“M, maksud mu kau ingin kita menampilkan tarian seperti ini?!” Sahut Minrin, matanya masih terpaku di layar ipad Eunhyuk.

“Iya, aku serius.” Suara Eunhyuk memang terdengar tidak seperti sedang bercanda, dan itu membuat Minrin semakin gugup.

“T, tapi…”

“Minrin-ah, akan ku tunjukan padamu seperti apa tarian ini.” Eunhyuk menggenggam tangan Minrin, kemudian menuntunnya ke tengah ruangan. Eunhyuk menekan tombol play di speaker yang tersedia, setelah itu Eunhyuk berjalan mendekati Minrin dan berdiri di belakangnya.

Saat lagu di mulai tangan Eunhyuk memeluk pinggang Minrin dari belakang, kemudian memulai tariannya. Tarian yang Eunhyuk tunjukan tidak jauh berbeda dengan tarian yang Minrin lihat tadi.
Anehnya, Minrin sudah berkali-kali menari berpasangan dengan laki-laki, tapi ketika ia menari dengan Eunhyuk rasanya berbeda. Minrin bisa mencium harum tubuh Eunhyuk, dan itu membuat jantungnya berdetak tidak karuan, entah kenapa ia juga merasa hangat, ia tidak pernah merasakan hal seperti ini ketika ia menari dengan laki-laki yang lain.

“Percaya padaku.” Eunhyuk membisikan kalimat itu lagi di dekat telinga kanan Minrin, membuat sekujur tubuhnya merinding. Mata Minrin bertemu dengan mata Eunhyuk, kemudian Eunhyuk mengangkat pinggang Minrin, dan berputar seperti tarian balet yang sudah sering ia lakukan.

“Kau sering melakukan ini dengan perempuan lain?” Entah kenapa kalimat itu melompat keluar begitu saja dari mulut Minrin, jelas Minrin menyesalinya. Untuk apa ia bertanya seperti itu?

“Menurutmu? Bukankah kau juga sering menari dengan lelaki lain?” Eunhyuk tertawa kecil, dan tersenyum menatap Minrin.

“Tapi denganmu berbeda.” Minrin mengatakan kalimat itu dengan volume suara paling kecil, lebih kecil dari berbisik. Eunhyuk pun tidak mendengarnya.

Seperti orang bodoh saja.

Batin Minrin.

Sudah kurang lebih tiga hari Eunhyuk dan Minrin berlatih dan mengatur koreografi bersama. Kim Gyosunim (professor fakultas balet) dan Park Gyosunim (professor fakultas Modern Dance) sudah setuju dengan kolaborasi dua fakultas ini.

Dengan bakat dan juga skill yang di kuasai Eunhyuk dan Minrin, semuanya pun bisa mereka lakukan. Kim Gyosunim juga tertarik dengan konsep mereka, ia sendiri pun tahu bahwa Minrin lebih sering menampilkan balet klasik, dan ia tahu bahwa Minrin pun bisa menampilkan hal baru.
Kim Gyosunim sempat mengatakan sesuatu pada Park Gyosunim, bahwa Minrin dan Eunhyuk sepertinya melengkapi satu sama lain.

Saat jam makan siang, Minrin pergi menuju kantin. Sebelum makan ia mencuci tangannya dulu di wastafel. Ketika sedang mencuci tangan Minrin mendengar seseorang menyebut namanya di dalam toilet laki-laki. Suara yang sepertinya ia kenal.

“Minrin?”

“Iya, kau ingat dengan perjanjian kita kan?”

“Maksudmu, taruhan untuk mendapatkan Minrin?”

“Iya, terakhir kan hari ini. Sepertinya aku yang menang, hahaha.”

“Sudah kubilang aku… Minrin?!”

Kedua orang yang sedang membicarakan Minrin itu pun akhirnya keluar dari toilet laki-laki. Betapa terkejutnya orang itu ketika melihat Minrin sedang berdiri di dekat wastafel yang juga dekat dengan toilet laki-laki. Jelas saja ia merasa mengenal suara itu, karena suara itu milik orang yang selama seminggu ini selalu berlatih dengannya. Eunhyuk.

Tubuh Eunhyuk mematung ketika melihat raut muka Minrin yang terlihat… sangat, sangat, sangat kecewa.

“Bodohnya aku… Sejak awal sudah seharusnya aku tidak mempercayaimu.” Minrin masih menatap mata Eunhyuk dengan tatapan kecewanya, dan tidak ada satu katapun yang keluar dari mulu Eunhyuk. Tidak ada satu katapun untuk membela perkataannya, karena memang semua itu benar. Taruhan yang mereka berdua buat memang benar, dan sudah menghancurkan semuanya.

Ia tidak sempat mengejar Minrin, karena tubuhnya tidak merespon seperti yang ia inginkan.

Eunhyuk menyesal, sangat menyesal.

Semenjak hari itu Minrin tidak pernah mau berbicara dengan Eunhyuk, seakan-akan Eunhyuk adalah makhluk transparan. Padahal besok mereka berdua harus sudah siap untuk penampilan mereka di konser. Berbicara saja tidak bisa, bagaimana berlatih bersama?

Setelah kelas balet selesai Eunhyuk berencana untuk berbicara pada Minrin lagi. Eunhyuk melihat Minrin sedang membereskan barangnya, kebetulan sekali seluruh murid sudah keluar dari studio.

“Minrin…”

“Tolong dengarkan aku sebentar saja.”

Minrin tidak menjawab apa-apa dia langsung pergi dengan tas di bahunya. Eunhyuk tidak mau menyerah begitu saja, ia menggenggam pergelangan tangan Minrin. Eunhyuk harus menyelesaikannya segera atau tidak sama sekali.

“Minrin, tolong lah dengarkan aku sebentar saja.”

Minrin berusaha untuk melepaskan genggaman Eunhyuk, tapi semakin ia berusaha semakin erat Eunhyuk menggenggam pergelangan tangannya.

“Aku tahu kau sangat benci padaku, tapi bisa kah kau mendengarkan penjelasanku?”

“Lepaskan aku!”

“Tidak, kau harus mendengarkan aku dulu!”

Minrin terus berusaha melepaskan genggaman Eunhyuk. Ia terus menarik-narik tangannya, dan tiba-tiba Eunhyuk menarik tubuh Minrin kedalam pelukannya dan tanpa sadar bibirnya sudah terbungkam oleh bibir Eunhyuk. Selama beberapa detik Minrin merasakan hangatnya bibir Eunhyuk, dan jantungnya berdetak tidak karuan seenaknya saja. Tapi kemudian ketika Minrin merasakan gerakan Eunhyuk untuk memperdalam ciumannya, Minrin kembali merasakan aliran kebencian terhadap Eunhyuk yang sempat hilang beberapa detik. Otomatis tangan Minrin yang terbebas dari genggaman Eunhyuk menampar wajah Eunhyuk cukup keras.

Cukup keras sehingga tanpa sadar tubuh Minrin oleng ditambah dengan lantai studio yang cukup licin. Pada akhirnya, tubuh Minrin terjatuh cukup keras.

“Aah, aah… Kau, kau…! Akh, sa,sakit…”

Belum sempat Minrin menyelesaikan ucapannya, ia kembali mengerang kesakitan. Dengan sedikit panik, Eunhyuk berusaha melihat kakinya Minrin yang ia pegangi dan melupakan pipinya yang jelas memerah.

“Minrin, maafkan aku, aku tidak bermaksud… Ah, aku akan membawamu ke UKS.”

Tadinya Eunhyuk berniat untuk menuntun Minrin ke UKS, tapi sebelum Eunhyuk sempat menyentuh tubuh Minrin, Minrin sudah menepis tangannya.

“Tidak perlu! Aku tidak butuh, aku bisa sendiri!”

Minrin berusaha bangun tapi rasanya sulit sekali, sehingga beberapa kali ia menyeret tubuhnya. Kedua mata Minrin pun terlihat berair, menahan sakit. Sakit di kakinya, ditambah dengan sakit… di hatinya.

“Minrin, biarkan aku membantumu…”

“Tidak, tidak! Aku tidak akan membiarkanmu masuk kedalam hidupku lagi! Aku tidak akan!”

Minrin tetap bersikukuh untuk pergi ke UKS sendiri, tapi sekali lagi ia hanya bisa menyeret badannya. Pada akhirnya Minrin berhenti dan kepalanya menunduk pasrah ke bawah.

“Sepertinya aku yang lebih bodoh darimu…”

“Apa mak…”

“Dengan mudahnya aku mempercayaimu… dengan mudahnya aku membiarkan hatiku berdetak seenaknya sendiri, karenamu…”

Minrin masih menunduk, sedangkan Eunhyuk, kedua matanya terbelalak kaget.

“Aku tidak seharusnya seperti ini. Sudah cukup sampai disini saja, selamat tinggal Eunhyuk.”

Minrin mengangkat tubuhnya dengan berpegangan pada barre yang ada di dekatnya. Ia bisa berjalan sedikit demi sedikit meskipun masih oleng.

“Apa maksudmu, Minrin? Minrin!”

Meskipun Eunhyuk beberapa kali memanggil namanya, tapi Minrin terus berjalan dengan perlahan, berusaha keluar dari suasana yang menyesakkan di studio ini. Dada Minrin semakin sesak, air matanya nyaris tak terbendung lagi, tapi pandangan matanya semakin tidak jelas, tidak lama kemudian semuanya menjadi gelap.

Suara kicauan burung terdengar indah di telinga Minrin tapi ia masih tidak bisa melihat burung-burung itu, pandangannya tidak jelas dan berbayang. Selain mendengar kicauan burung, Minrin juga merasakan hangatnya selimut yang menyelimuti tubuhnya, empuknya bantal yang ia tiduri, dan hembusan nafas yang terasa dekat di pergelangan tangan kanannya. Setelah pandangannya kembali lagi seperti normal, ia sudah tahu bahwa dirinya sedang berada di rumah sakit, tapi yang tertidur di dekat tangannya ini adalah…

Eunhyuk.

Wajahnya terlihat lelah, tersirat jelas kantung mata di bawah kedua matanya, dan jawline milik Eunhyuk yang selama ini Minrin kagumi. Orang yang sudah menyakitinya, orang yang sudah mengecewakannya ini malah tertidur dengan nyenyak di dekatnya. Minrin merasa kesal, sekaligus prihatin. Apa selama ini ia terlalu keras terhadapnya? Apakah pergelangan kakinya terluka adalah karma karena mengabaikannya?

Ah iya, pergelangan kakiku… tidak mungkin ini salahku. Dia yang salah, dia yang membuatku seperti mainan. Ia mengecewakanku. Dan ah, hari ini konsernya… Pergelangan kakiku terkilir parah seperti ini. Cukup bodoh untuk seorang ballerina yang seharusnya menjaga kakinya dengan amat sangat. Semua ini salah lelaki ini. Lelaki yang sempat masuk ke dalam hatiku tapi kemudian mengecewakanku.

Dan… ia menciumku dengan paksa… Ciuman pertamaku…

Tubuh Minrin mulai kembali di aliri dengan kebenciannya pada Eunhyuk. Setelah Eunhyuk bangun Minrin berniat untuk mengusirnya pergi.

“Permisi, apa saya boleh masuk?” Seorang suster mengetuk pintunya kemudian masuk ke dalam ruangan perlahan.

“Tidak apa-apa, silahkan.” Minrin mempersilahkan suster itu untuk menaruh menu makanan pagi ini juga beberapa pil obat di meja kirinya.

“Nona Lee? Ini makanan pagi ini, setelah itu kau harus meminum obat ini.”

Minrin tidak menyadari Eunhyuk yang sudah terbangun, ia kemudian berterima kasih pada suster itu.

“Minrin…”

Minrin cukup kaget karena Eunhyuk memanggilnya. Tadinya ia sempat berpikir untuk menjawab panggilan Eunhyuk, tapi kebencian itu kembali mengaliri tubuhnya.

“Apa kau sudah agak baikan? Apa yang kau rasakan di pergelangan kakimu? Masih sakitkah?”

Pertanyaan bodoh.
Batin Minrin.

“Terima kasih sudah mengantarkan ku ke rumah sakit, kau bisa pulang sekarang.”

“A, Apa? Pulang sekarang?”

“Iya, untuk apa kau masih disini? Pulang saja.”

Ucapan Minrin semakin dingin, tatapan Minrin mengarah ke dinding langit.

“Aku akan menemanimu.”

“Tidak perlu, pulanglah sebelum aku berteriak untuk menyuruhmu pulang.”

“Tolong jangan usir aku seperti itu, Minrin. Aku masih harus…”

Minrin menghela nafasnya cukup keras. “Apa yang masih harus kau lakukan? Terima kasih sudah mengantarku, tapi aku tidak mau berurusan denganmu lagi. Sudahlah Eunhyuk lupakan semuanya, dan tolong… pergilah…”

Eunhyuk hanya bisa memandangi wajah Minrin beberapa detik, kemudian ia bangkit mengambil jaket dan tasnya yang ia sampirkan di bahunya.

“Jangan lupa makan dan minum obatmu. Sampai nanti Minrin, cepat sembuh.”

Setelah Eunhyuk menyelesaikan kalimat itu, pintu kamar Minrin tertutup rapat.

Sepi.

Ruangan ini menjadi sangat sepi, Minrin sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi padanya setelah ini. Minrin menghela nafasnya dan menggeser meja makannya ke hadapannya. Ia melihat menu-menu rumah sakit yang kurang menggiurkan juga rasa yang terasa hambar.

Minrin berniat untuk mencari ponselnya, tapi kemudian ia menemukan secari kertas di meja sebelah kanannya.

Sekali ini saja, tolong baca sebelum kau membuangnya atau merobeknya.
– Eunhyuk

Minrin membuka kertas yang terlipat itu, kemudian membaca isinya. Yah, sekali saja…

Pertama-tama aku ingin minta maaf padamu.

Maafkan aku, taruhan yang kau dengar kemarin memang benar adanya. Aku tidak bisa mengelak.
Tapi kemarin, saat kau mendengar percakapanku dengan temanku itu, aku sedang berusaha untuk membatalkan taruhan yang melibatkanmu.

Aku merasa bodoh dan menyesal telah menyetujui taruhan itu. Saat itu aku masih menjadi diriku yang lama. Tapi setelah aku melihat tarianmu dan mengenalmu lebih dalam justru kau sudah merubah diriku, juga hidupku. Diriku yang di cap buruk oleh satu kampus, dan hidupku yang semakin berantakan.

Kau tahu? Ketika aku melihat mu menari di studio itu, aku langsung jatuh cinta pada tarianmu. Selama ini aku sudah melupakan cintaku terhadap menari, sehingga hidupku menjadi berantakan dan tidak terarah. Dan kau menari karena kau cinta menari, detik itu juga aku kembali merasakan cintaku terhadap menari. Karena kau, aku bisa kembali menata hidupku.

Sejak saat itu aku semakin tertarik padamu. Dulu aku memang sering mengencani perempuan yang tidak kusukai sama sekali. Tapi kau berbeda dari seluruh perempuan yang pernah dekat denganku. Lama kelamaan aku sudah memendam rasa padamu. Perasaan yang berbeda dengan perempuan lain, karena kau berbeda.

Aku sungguh sungguh mencintaimu.

Tapi dengan bodohnya aku malah mengecewakanmu dan menghilangkan kepercayaanmu padaku. Ketika aku berkata padamu untuk mempercayaiku, aku benar-benar serius padamu. Setelah aku semakin dekat denganmu aku tidak pernah sekalipun berpikir untuk mempermainkanmu.

Aku tidak akan memintamu untuk mempercayaiku lagi, karena aku tahu tidak mudah mempercayai orang yang sudah mengecewakanmu.

Aku minta maaf yang sebesar-besarnya padamu atas semuanya, termasuk karena menciummu dengan paksa kemarin. Aku sangat menyesal. Aku tidak ingin kehilanganmu seperti ini tapi sepertinya aku sudah melakukan kesalahan terlalu banyak padamu. Kalau kau masih tidak bisa memaafkanku, sepertinya kau akan melupakanku dengan mudahnya, karena kemarin adalah hari terakhir ku di kelas balet. Setelah itu mungkin aku akan jarang bertemu denganmu, bahkan mungkin tidak akan pernah. Sedangkan aku mungkin membutuhkan waktu untuk melupakanmu sepenuhnya, Minrin…

Maafkan aku, aku sangat mencintaimu.
– Eunhyuk

p.s. Tentang konser hari ini, sepertinya penampilan kita berdua harus di batalkan. Aku akan berbicara pada Kim Gyosunim juga Park Gyosunim. Maafkan aku karena membuatmu terkilir seperti ini sampai tidak bisa mengikuti konser ini.

Minrin tidak bisa membendung air matanya setelah ia selesai membaca surat itu.

“Park Gyosunim, Kim Gyosunim… Maafkan aku, sepertinya aku dan Minrin tidak bisa menampilkan apa yang sudah kita persiapkan selama 2 minggu ini, karena… Aku tidak sengaja melukai Minrin.”

Yang Eunhyuk maksudkan bukan hanya melukai pergelangan kakinya, tapi juga hati Minrin.

“Ma, maksudmu? Apa terjadi sesuatu pada Minrin?” Kim Gyosunim terlihat sedikit kaget dan khawatir dengan perkataan Eunhyuk.

“Kakinya terkilir parah karenaku, dan sekarang ia sedang beristirahat di rumah sakit. Maafkan aku…”

“Di rumah sakit? Separah itu kah?” Park Gyosunim pun terlihat mulai khawatir.

“Ya…” Eunhyuk hanya bisa menghela nafasnya, menyesali semuanya.

“TUNGGU!” Seseorang tiba-tiba mendobrak pintu ruangan, dan Eunhyuk juga Park Gyosunim dan Kim Gyosunim cukup kaget karena bunyinya, juga orang yang mendobrak pintunya.

Minrin.

“Minrin?! Sedang apa kau disini?” Eunhyuk bangkit, dan refleks memapah Minrin untuk duduk di sebelahnya.

“Apa yang sedang kau lakukan disini? Kenapa kau bisa keluar dari rumah sakit?” Eunhyuk mulai bertanya dengan agak panik, dan sangat khawatir.

“Kita lakukan saja.” Sahut Minrin lantang.

“M, maksudmu?” Tanya Eunhyuk kebingungan, begitu pula dengan Kim Gyosunim dan Park Gyosunim.

“Kita lakukan saja performance nanti malam. Aku masih bisa menari meskipun harus merombak semua koreografinya.”

“Tidak Minrin, kakimu akan semakin membengkak!” Eunhyuk terus memprotes, tapi Minrin membungkam nya dengan satu kalimat.

“Aku akan memaafkanmu, dengan syarat… Membiarkanku melakukan apa yang aku mau, sekali ini saja.”

Beberapa kali Kim Gyosunim dan Park Gyosunim mempertanyakan keadaan Minrin karena khawatir, tapi wajah Minrin terlihat sangat yakin dengan keputusannya sehingga pada akhirnya kedua professor itu berakhir menyetujui pilihan Minrin.

“Eunhyuk, percayalah padaku… Penampilan ini akan berhasil.”

Kali ini Eunhyuk yang sempat tegang karena setelah ini mereka berdua harus maju dengan koreografi yang baru mereka buat selama 2 jam, berlatih selama 1 jam setelahnya, dan 1 jam terakhir di pakai Minrin untuk mendinginkan bengkak yang terlihat di pergelangan kakinya, kemudian mengoleskan juga menyemprotkan beberapa krim yang membuat kaki tidak akan merasakan sakitnya terkilir selama beberapa saat.

Percayalah padaku…

Kalimat itu terus mengiang-ngiang di kepala Eunhyuk, sampai ketika mereka penampilan kelompok sebelum mereka sudah selesai.

Konsep kali ini masih sama dengan yang mereka rencanakan waktu itu. Tapi kali ini Minrin tidak banyak menari, tapi ia hanya duduk di sebuah kursi yang dapat berputar. Kostum yang dikenakan Minrin berwarna putih ditambah dengan tiara mengkilap di atas kepalanya, seakan akan dirinya adalah Odette, angsa putih dalam kisah Swan Lake.

Ketika lampu sorot di arahkan ke Minrin yang terduduk manis di tengah panggung, musik pun berputar.
Sedangkan Eunhyuk yang masih berada di pinggir panggung berusaha menghayati perannya dan mengingat perkataan Minrin yang ia katakana sebelum ia pergi bersiap ketengah panggung.

Menarilah seperti kau pertama kali menari. Menari lah dengan perasaanmu, menari lah dengan rasa cintamu terhadap menari. Keluar kan semua perasaanmu pada tarianmu. Yang paling penting focus, seperti kau tenggelam kedalam tarianmu.

Hanya itu yang Minrin katakan pada Eunhyuk. Pada detik ke 20, Eunhyuk menari perlahan menuju tengah panggung. Ia benar-benar mengikuti perkataan Minrin. Keduanya terus menari dengan keadaan yang sama, dan kursi yang berputar-putar. Sampai pada detik ke 2 menit 20 detik, ketika lampu panggung di matikan seluruhnya, kemudian kembali dinyalakan 20 detik setelahnya dengan keadaan yang berbeda. Minrin berdiri di atas kursinya, dengan memegang bahu Eunhyuk dan menatap kedua matanya. Minrin menari di atas kursinya, dan melupakan rasa sakit di kakinya. Ini lah yang orang-orang katakan ketika seseorang tenggelam kedalam sesuatu yang dicintainya, ia sudah melupakan semuanya yang ada di sekitarnya, termasuk rasa sakit yang ada di dirinya. Ini yang disebut professional.

Kim Gyosunim dan Park Gyosunim memandang takjub penampilan kedua muridnya ini. Mereka tahu betul seberapa bengkak kaki Minrin, dan mereka tidak menyangka Minrin bisa menari seperti biasa dengan kaki terkilir seperti itu, bahkan diatas kursi sekalipun. Kedua professor ini jelas bangga pada Minrin juga Eunhyuk.

Detik ke 5 menit 17 detik, Eunhyuk mengangkat Minrin dari kursinya dengan ringan, kemudian Minrin menari sebentar untuk menutup penampilan ini. Terakhir, mereka berdua menutup penampilan ini seperti sepasang kekasih.

Kemudian seluruh lampu kembali gelap, dan para penonton berseru-seru dan memberi standing applause terhadap penampilan Eunhyuk dan Minrin. Karena mereka semua tahu penampilan ini adalah kolaborasi antara Modern Dance dan Balet, sehingga ini adalah satu dari beberapa penampilan yang para penonton nantikan. Dan seperti nya penampilan ini tidak mengecewakan para penonton. Sehingga Eunhyuk dan Minrin dapat bernafas lega.

Mereka berdua jalan menuju backstage, disambut beberapa teman yang menyoraki mereka dan Kim Gyosunim dan Park Gyosunim yang sudah menunggu mereka di balik panggung.

Sejak turun dari panggung Minrin dan Eunhyuk terus menautkan jari-jari tangan mereka, seperti tidak mau terlepas sekalipun. Tapi ketika mereka berdua melihat kedua professornya tersenyum bangga di hadapan mereka, Eunhyuk otomatis memeluk professor tersayangnya, Park Gyosunim. Memang awalnya Eunhyuk menolak habis-habis rencana Park Gyosunim mengirimnya untuk mengikuti kelas balet, tapi sekarang ia dengan amat sangat berterima kasih pada Park Gyosunim. Ia benar-benar mendapatkan pelajaran yang berharga selama 2 minggu ini.

Ketika Minrin melihat Eunhyuk yang memeluk erat Park Gyosunim, ia sangat terharu kemudian matanya menatap Kim Gyosunim yang tersenyum ke arahnya. Dengan kakinya yang kembali ngilu, ia berusaha menyeret kakinya dan memeluk Kim Gyosunim kemudian membisikan kata terima kasih. Setelah Minrin melepaskan pelukannya, ia merasakan rasa sakit yang tidak tertahankan seperti di putar paksa, kemudian pandangannya kembali menjadi gelap.

Hanya beberapa kata yang masih terdengar seperti slow motion. Suara yang jelas terdengar hanyalah suara Eunhyuk yang memanggil-manggil namanya.

Aku mencintainya.
Batin Minrin dalam kegelapan.

Minrin POV

Keadaan yang tidak jauh berbeda seperti ketika aku terbangun, kemarin. Hari ini aku tertidur sampai pagi kembali. Termasuk hembusan nafas hangat yang berada di dekat pergelangan tanganku, Eunhyuk. Tapi kali ini aku tidak berniat untuk mengusirnya.

Aku berusaha bangkit tanpa membangunkannya. Entah kenapa tanganku terasa gatal untuk menyentuh rambutnya. Kemudian kurapihkan beberapa helai rambutnya, dan tanganku terus menelusuri pinggir wajahnya dan sampailah tanganku pada rahangnya. Tubuhnya bergerak naik turun seiring dengan nafasnya. Yang kutahu saat ini aku sedang mendekatkan wajahku pada wajahnya yang masih tertidur, kemudian aku menutup kedua mataku.
Aku ingin merasakannya tanpa ada paksaan.

Hangat, manis, lembut, hembusan nafasnya terasa di pipiku, itu lah yang kurasakan saat bibirku menyentuh bibirnya. Meskipun tidak lama, tapi cukup untuk membuat pipiku terasa panas. Sebagian dariku berharap ia tidak terbangun karena itu akan sangat memalukan, tapi sebagian lagi berharap agar dia terbangun dan menyadari bahwa aku sudah memaafkannya dan… aku juga mencintainya.

Tapi sepertinya ia tidak kunjung bangun.

Aku hanya bisa tertawa kecil ketika ia hanya merubah posisi tidurnya, dan kembali tidur.
Aku akan merahasiakan ciuman tadi dari Eunhyuk, karena aku tidak akan memberitahunya apa yang sudah ku lakukan padanya.

Sepertinya hal itu menjadi kebiasaanku.
Menciumnya ketika tertidur, tanpa sepengetahuannya.
Sudah beberapa kali ia memergokiku, tapi kebiasaan itu tetaplah sulit untik di hilangkan.

Tapi mungkin setelah perjanjian sakral ini aku bisa menciumnya ketika ia tertidur setiap pagi.
Dan aku sudah bisa merasakan bahwa anak kami akan sangat berbakat di bidang…

Menari.

THE END

Advertisements

One response to “[Requested] Because I Love You

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s