[Requested] Imperfect

Picture10

Requested By : Moo

Mehehe, finally posted this. 

Aku suka banget sama ide ceritanya, dan akhirnnya jadilah FF seperti ini. 

I really hope you like it, but if you’re dissapointed with this. I’m truly sorry, i tried my best 🙂 

Oh yeah, HAPPY NEW YEAR to everyone, let’s rock 2013 together with our oppars again! 

p.s. tolong promote ya Fanfiction Request nya! Hehehe, Gamsahamnida~^^ 

p.p.s. Anyone… request FF yang main cast nya yesung dong, kangen nulis FF yang main castnya Yesung, hahaha~ Kalau nggak juga nggak apa apa kok, just sayin’ ^^

____________________________________________________________

By CIA (@zaskiarunim)

Attention: Ini hanyalah fanfiction, bila FF ini mirip dengan cerita lain hal ini hanyalah ketidak sengajaan, Gamsahamnida.

DO NOT TAKE WITHOUT PERMISSION AND FULL CREDITS,
Please leave a comment~

_____________________________________________________________

Jika ada yang bertanya padaku ‘Siapakah orang yang paling kau benci di dunia ini?’, maka dengan yakin dan tanpa berpikir panjang aku akan menjawab, ‘orang yang paling kubenci adalah diriku sendiri!’

Suara sirine ambulans maupun sirine mobil polisi terdengar bercampuran, warna merah maupun biru menghiasi malam yang gelap.

Seorang perempuan tergeletak tak berdaya di pinggir sungai dengan tubuh yang basah dan darah yang membuat lengket rambut hitam pekatnya. Orang-orang berkerumun hanya untuk menjawab pertanyaan di kepala mereka ‘ada apa?’.

Terlihat seorang polisi yang sedang mengecek tubuh perempuan itu di dalam mobil ambulans, begitu pula dengan polisi yang berkeliling di sekitar tempat kejadian. Mereka mencari hal yang sama, tanda pengenal untuk menghubungi keluarga korban. Tapi sayang mereka tidak menemukan apapun, tidak ada ponsel, dompet, tas, perempuan itu tidak membawa apapun. Yang mereka temukan hanyalah secarik kertas, semacam surat terakhir.

Polisi-polisi itu berpikiran sama, seperti sudah biasa menangani kasus seperti ini.
Percobaan bunuh diri.

Flashback

Uhuk! Uhuk!

Sudah tidak terhitung berapa kali aku terbatuk karena debu-debu ini. Hanya karena sebuah tugas kuliah aku harus mengaduk-aduk loteng seperti ini, sungguh menyebalkan!

Yang sejak tadi kutemukan hanyalah barang-barang orangtuaku juga kakakku, dimana mereka menyimpan barang-barangku? Sudah 8 kotak kubuka satu persatu, berharap 1 kotak berisi barang-barangku, tapi sepertinya harapanku tidak kunjung terkabul. Pada kotak kesepuluh aku melihat barang yang sangat familiar, ya itu barangku. Tapi sayangnya bukan barang yang kucari, melainkan barang-barangku ketika aku masih berada di SMA.

Cerita pahit manis SMA ku sepertinya terkubur disana, jujur aku penasaran.
Akupun mengambil buku yang paling atas, sebuah buku bercover hitam, ukurannya cukup besar, buku itu adalah bu album fotoku.

Di covernya tertulis, Han Yong Woo.
Namaku.

Aku memang belum lama lulus SMA, ini baru tahun pertamaku masuk ke perguruan tinggi. Tapi sepertinya sudah lama sekali aku menutup album ini dan memasukannya ke loteng. Agar aku tidak bisa melihat isinya lagi. Tapi sekarang ketika aku menemukannya, entah kenapa aku merasa penasaran untuk membukanya. Apa kau pernah mendengar bahwa semakin kau dilarang, semakin kau ingin melanggarnya? Nah kira-kira perasaanku saat ini seperti itu.

Ku hapus debu dari cover album itu, dan sedikit terbatuk karenannya. Kemudian ku buka album itu, awalnya hanya foto graduasi SMP ku, kemudian disusul dengan foto-foto ketika aku masih berada di kelas 1 SMA. Entah kenapa aku merasa aneh dengan diriku saat itu. Terlalu polos menurutku, tersenyum tanpa beban. Aku penasaran di mana album itu berakhir, aku membalik album itu langsung ke bagian akhir. Tapi ternyata album berakhir di tengah-tengah, dan sisanya kosong. Foto terakhirnya adalah fotoku, dengan seorang lelaki di depan pohon natal. Masih dengan senyum polosku.

Itu memang aku, tetapi aku yang berbeda. Singkat cerita, lelaki itu mengkhianatiku. Lebih parahnya dia tidak mencintaiku sama sekali, dia hanya mempergunakanku untuk menjadi populer di antara teman-temannya dengan mengencaniku. Dulu aku popular di sekolah, karena wajahku. Semua orang mengatakan aku cantik. Aku serius, semua orang selalu berkata begitu sejak aku kecil. Saking seringnya, terkadang aku bosan dengan kata itu, seakan-akan mereka hanya memandangku dari luar, bukan dari dalam. Ya, semua orang, kecuali satu. Satu orang yang membuat dirinya terlihat ‘berbeda’ di mataku.

Aku menutup album itu, memasukannya kembali ke box itu, kemudian kembali mencari barang yang kucari. Tidak lama setelahnya aku menemukannya, dengan secepatnya aku turun dari loteng karena aku butuh udara segar.

Aku berniat untuk mengambil air minum di dapur, tapi aku mendengar pintu apartemenku terbuka. Dengan gelas di genggamanku, aku melihat kearah pintu.

“Yong Woo, eonni pulang!”

Ya, yang datang adalah eonniku, Han Yoo Jin.
Tapi ia tidak sendiri, ia bersama namja chingunya.

“Leeteuk oppa? Kenapa kau kemari lagi sih?”

“Ya! Neolbeun ima! (Dahi lebar) Apa aku tidak boleh sering-sering mengunjungi adik iparku?”

Eonni hanya tertawa saja mendengar candaan yang mungkin menurutnya romantis itu. Kulihat ia pergi meninggalkan aku dengan Leeteuk oppa di ruang tamu.
Tapi menurutku candaannya itu…
Hanya dia yang pernah mengejek fisiku. Dia adalah orang yang kumaksud. Leeteuk oppa tidak pernah mengatakan aku cantik. Aku merasa dia berbeda, dan dia membuatku berbeda.  Aku memasang muka cemberut dan membenarkan poni yang menutupi dahiku. Aku menggunakan gaya rambut seperti ini karena dia selalu mengejekku karena dahiku yang lebar. Tidak seperti orang lain, ia selalu membuatku menjadi bahan tertawaannya. Dan yang paling menyebalkan, aku merasa senang karenanya. Fakta yang paling menyebalkan, membuatku semakin bingung dengan diriku sendiri. Setiap aku merasa seperti itu aku selalu berusaha menekankan pada diriku sendiri bahwa Leeteuk oppa, adalah pacar, eonniku.

“Adik ipar? Seenakmu saja!” Aku meneguk air minum di gelas yang sejak tadi kugenggam, kemudian aku berniat untuk membawanya ke lantai atas, lebih tepatnya ke kamarku. Dengan tujuan untuk menjernihkan pikiranku. Tapi tiba-tiba tangan Leeteuk oppa menahan pergelangan tanganku.

Entah kenapa wajahnya terlihat serius.

“Kenapa setiap aku datang kau selalu bersembunyi di kamarmu?”

Tidak ada satu katapun yang lewat di kepalaku. Matanya masih menatapku dengan serius, sehingga tubuhku sama sekali tidak berkutik.

“Leeteuk, kemari!”

Suara eonniku terdengar dari ruang keluarga, dan itu membuat Leeteuk oppa tiba-tiba melepaskan cengkraman tangannya di pergelangan tanganku. Tapi ia masih berdiri tegak di hadapanku, seperti menunggu jawabanku. Aku harus menjawab apa?

“A, aku… “ Leeteuk masih menatapku seperti tadi, sehingga aku menghela nafasku agar terbebas dari rasa sesak yang sejak tadi menyeruak di dadaku. “Aku tidak bersembunyi, aku hanya tidak ingin mengganggu kalian.” Kalian yang kumaksud adalah Leeteuk oppa dengan Yoo Jin eonni. Kemudian aku berputar balik untuk kembali ke kamarku. Tapi Leeteuk oppa tiba-tiba membisikan sesuatu yang cukup keras untuk kudengar, karena aku belum terlalu jauh darinya.

“Terkadang aku berharap kau mengganggu kami.”

Aku tidak berhenti dan tetap berjalan menuju tangga, berpura-pura tidak mendengar perkataannya. Kalimat itu membingungkan. Aku tidak mengerti sama sekali maksudnya, tapi kalimat itu terus mengiang-ngiang di telingaku.

Apa maksudnya?

Aku merebahkan tubuhku di kasurku. Hari ini cukup melelahkan dengan semua hal di kampus, di tambah dengan kejadian dengan Leeteuk oppa tadi.

Aku sudah cukup lama mengenal Leeteuk oppa, karena Yoo Jin eonni sudah berteman dengannya sejak SMA, tapi mereka baru mulai berkencan sejak 5 bulan yang lalu. Aku tahu kapan mereka mulai berkencan karena Yoo Jin eonni selalu bercerita padaku, kami memang sangat dekat sejak kecil. Yoo Jin eonni yang selalu mengurusiku sejak masa kecil ku hingga sekarang aku sudah masuk ke perguruan tinggi, bukan orang tua ku. Appa dan eomma ku masih ada, tapi mereka bekerja terlalu sering sehingga melupakan kedua putrinya.
Maka dari itu aku sangat dekat dengan Yoo Jin eonni, sampai-sampai banyak orang yang menyebut kami kembar. Umur kami hanya selang 1 tahun, wajah kami berdua juga mirip, pantas saja mereka menyebut kami kembar.

Jujur, banyak hal yang sama-sama kita sukai. Eonni menyukai bunga, aku menyukai bunga, kami menyukai film dan drama yang sama, genre music yang kami dengarkan hampir semuanya sama, seperti itu. Hampir semua yang ia sukai akupun menyukainya. Termasuk… tipe lelaki.

Leeteuk oppa.

Aku tahu ini tidak benar. Aku sedang berusaha untuk menghapus kebiasaan itu.
Tapi, aku merasa sifat kami sangat berbeda.
Eonni selalu jujur apa adanya, sedangkan aku selalu menyembunyikan perasaanku. Selalu.

Tidak lama, mataku terasa sangat berat dan akhirnya aku tertidur hingga keesokan harinya.

Neolbun Ima!”

“Omo! Yaaa, Leeteuk oppa~ kau mengagetkanku!”

“Shh, ini perpustakaan, kau tidak seharusnya berisik.”

Aku melihat ke sekelilingku, dan beberapa memang terlihat terganggu dengan suaraku tadi.

“Ini salahmu oppa!” Aku mengatakannya dengan berbisik, kemudian memukul pundaknya ringan.

“Hahaha, baiklah. Kau sedang apa?” Leeteuk oppa menggeser posisi duduknya menjadi lebih dekat denganku. Itu membuatku risih dan canggung.

Eonni dimana? Kenapa aku tidak melihatnya?” Mungkin karena terlalu canggung, aku malah tidak menggubris pertanyaannya dan malah mengubah topiknya.

“Aku bertanya padamu duluan! Yoo Jin masih di kelasnya. Kau sedang apa?” Kepala Leeteuk berusaha melihat buku yang sedang aku baca sehingga wajahnya terasa sangat dekat.

Dia ini pacar eonni ku sendiri, aku tidak boleh seperti ini.
Dia hanya menganggapku sebagai adiknya saja. Benar, hanya sebagai adik.

“Sedang mencari bahan untuk projek. Oppa pergi saja, siapa tahu eonni menunggumu.” Wajahku kembali menghadap buku yang sedari tadi ku pegang, tapi aku bisa merasakan bahwa wahah Leeteuk oppa berubah menjadi lebih serius.

“Aku ingin bersamamu, Yong Woo…”

Yong Woo…
Dia memanggilku Yong Woo.

Otomatis wajahku menoleh kepada Leeteuk Oppa dengan tampang bertanya-tanya.

“Ne?” Aku mencoba untuk meyakinkan diriku.

“Ya, Neolbun ima! Yoo Jin masih ada kelas 1 jam lagi, biarkan aku membantumu. Lagipula aku ini seniormu, tahun lalu aku sudah mengerjakan projek itu!”

Leeteuk oppa menjitak dahiku dengan cukup keras. Ia kembali menjadi Leeteuk oppa yang selalu jahil padaku…
Kenapa ia bisa tiba-tiba berubah, kemudian kembali lagi ke dirinya semula. Hentikan kekuatan power ranger mu ini, aku tidak suka. Karena setiap kali kau berubah, dadaku selalu terasa aneh. Seperti mengharapkan sesuatu.

Aku dan Leeteuk oppa memang berada di jurusan yang sama, dan ia memang satu tahun diatasku, seperti eonni. Sedangkan eonni berada di jurusan yang berbeda dengan kami berdua. Tapi Leeteuk oppa memang beberapa kali bisa diandalkan, seperti contohnya projek seperti ini. Ia sudah melakukannya tahun lalu, sehingga ia bisa membantuku.

“Sini lihat!” Leeteuk oppa mengambil buku catatanku yang tergeletak di dekatnya. “Neolbi…  (Dahi lebar (singkat)) bukankah ini projek kelompok? Mana teman sekelompokmu?” Tanya Leeteuk oppa setelah membaca bukuku. Pertanyaan itu rasanya tidak perlu ku jawab, ia sudah tau jawabannya. Aku masih menunduk dan membulak-balik buku, berusaha menghindari tatapannya.

“Kau mengerjakan projekmu sendiri lagi?” Tanyanya lagi, di ikuti dengan helaan nafasnya.

“Memangnya kenapa? Bukankah oppa sudah tau aku, memang biasa mengerjakannya sendiri…”

Leeteuk oppa hanya memandangiku, kemudian mengacak-acak rambutku. “Sekali-kali bertemanlah dengan yang lain.” Leeteuk oppa kembali membaca buku catatanku, seperti tidak terjadi apa-apa.

Tidak terasa sudah 1 setengah jam kami mendiskusikan projek ini. Setelah sadar akan waktu, Leeteuk oppa mengajakku untuk mencari eonni, tapi setelah kami selesai membereskan buku-buku yang kami pakai sejak tadi, aku melihat Yoo Jin eonni berdiri  sambil bersender pada dinding di dekat pintu perpustakaan.

“Oppa, itu eonni!”

Leeteuk melihat ke arah yang kutunjuk, kemudian berlari menghampiri eonni.

“Mianhae… Sudah berapa lama kau ada disini?” Tanya Leeteuk oppa.

“Belum lama. Kalian sedang apa?” Mata eonni memandangiku dan Leeteuk oppa secara bergantian.

“Leeteuk oppa membantuku mencari bahan untuk projekku.” Jawabku.

“Ah, begitu ya? Baiklah kalau begitu, aku lapar. Kalian sudah makan?”

Pada akhirnya kami bertiga makan di café kampus tidak jauh dari perpustakaan. Tapi aku merasa ada yang aneh dengan Yoo Jin eonni, meskipun sejak tadi ia selalu tersenyum. Pasti ada sesuatu, tapi aku tidak tahu apa.

Biasanya aku pulang bersama eonni dan Leeteuk oppa, tapi hari ini mereka ingin pergi bersama sehingga aku harus pulang sendiri. Aku berniat untuk menonton film yang baru ku beli sambil bermalas-malasan di sofa dengan popcorn atau kentang goring di tangan. Tapi sepertinya rencana itu harus kuundur, aku melihat sepatu orang tuaku di rak sepatu. Mereka ada disini.

“Yong Woo-ya~” Eomma menghampiriku dengan tersenyum lebar dan memelukku tiba-tiba. Aneh… Aku tidak memeluknya balik. Sedangkan appa sedang meminum kopi di sofa.

“Kenapa appa dan eomma ada di sini? Kenapa tidak memberi tahuku?” Tanyaku dingin.

“Apa kami tidak boleh kemari?” Tanya appa sama dinginnya denganku. Cara bicaranya memang selalu seperti ini, mungkin ia menurunkannya padaku. Eomma berusaha mencairkan suasana dengan tertawa. Terdengar sangat dipaksa.

“Hahaha, kami kemari ingin menghabiskan malam tahun baru dengan kalian.”

“Bukankah kalian selalu menganggap malam tahun baru sebagai malam di hari biasa?” Eomma tidak berkata apapun, ia tidak bisa mengelak karena perkataanku benar. Sedangkan appa masih diam, meminum kopi dan membaca koran hari ini. Akhirnya aku tidak melanjutkan obrolan kami dan akhirnya masuk ke toilet. Kubilang aku ingin mandi karena lelah, tapi sebetulnya aku ingin menghubungi eonni secepat mungkin. Aku tidak ingin bertiga dirumah ini dengan mereka, auranya sangat canggung.

To: Yoo Jin eonni
Eonni, appa dan eomma ada di apartemen! CEPAT PULANG SEKARANG JUGA!

Aku menekan tombol kirim. Sambil menunggu jawaban, aku mandi terlebih dahulu.

From: Yoo Jin eonni
Aku sedang di jalan pulang, tunggu sebentar lagi.

Aku bisa bernafas lega setelah menerima pesan itu. Setelah keluar dari toilet aku bergegas masuk kedalam kamarku. Mereka kemari tiba-tiba dan mengajak ku dan eonni merayakan malam tahun baru. Itu sangat aneh, pasti mereka akan meminta kami untuk melakukan sesuatu, entah apa pasti ada yang mereka inginkan.

Aku bisa mendengar suara pintu apartemen yang dibuka dari kamarku. Tadinya aku berencana untuk menyeret eonni langsung masuk ke kamarku untuk membicarakan semua ini. Tapi ternyata eomma sudah mengajak eonni untuk mengobrol di tempat yang sama ketika aku datang tadi, dan mataku membulat ketika melihat Leeteuk oppa berdiri di sebelah eonni. Bukankah biasanya setiap ada appa dan eomma, Leeteuk oppa tidak pernah mengantar eonni sampai masuk kedalam?

Pada akhirnya mereka mengobrol cukup lama. Dan aku mencoba untuk mengirim pesan pada eonni agar segera menyelesaikan obrolan mereka. Tapi sepertinya hal itu tidak ampuh dan aku menunggu di kamar cukup lama.

Tok! Tok! Tok!

“Yong Woo?”

Pintu kamarku yang sejak tadi kututup rapat, segera kubuka karena aku tahu itu suara eonni. Setelah kubuka, mataku membulat sama seperti tadi karena yang masuk bukan hanya Yoo Jin eonni, tapi Leeteuk oppa pun ikut masuk kedalam kamarku. Aku mengira dia akan langsung pulang setelah mengobrol dengan eomma ku tadi. Eonni duduk di tempat tidurku dan aku mengikutinya, wajahnya terlihat serius. Sedangkan Leeteuk oppa duduk di kursi belajarku.

“Yong Woo… Kau tidak akan suka dengan rencana ini tapi sepertinya kita harus melakukannya.”

“Maksud eonni?” Tanyaku. Tanpa sadar eonni menyodorkanku tas kertas dengan brand terkenal terpampang di depannya. “Apa ini?”

“Eomma dan appa mengajak kita untuk makan malam bersama di pesta tahun baru. Pesta ini formal karena yang datang adalah rekan bisnis appa, dan mereka mengundang seluruh keluarga jadi kita harus datang.”

Eonni menjelaskannya dengan singkat dan padat, di tambah dengan ekspresi wajah seperti itu, sepertinya aku memang harus ikut ke pesta ini. Aku tidak pernah mau ikut ke pesta, biasanya eonni yang berakhir untuk mengikuti acara appa dan eomma yang membosankan setiap kali mereka membutuhkan anak mereka untuk datang. Aku selalu berterima kasih padanya karena dia selalu mengalah untukku, aku tahu dia juga tidak suka mengikuti acara semacam itu. Tapi kali ini sepertinya aku dan eonni harus datang bersama.

“Jadi kau dan aku harus ikut acara membosankan itu?”

Eonni mengangguk, “Leeteuk juga di ajak eomma untuk ikut.”

Mwo?”

“Hahaha, entah kenapa eomma mu sangat bersemangat ketika bertemu denganku.”

Leeteuk oppa masih bisa bercanda dengan hal ini, tapi aku benar-benar kaget. “Oppa, lebih baik kau menghabiskan tahun baru mu di luar, dari pada mengikuti acara makan malam ini. Kau akan menyesal.” Sahutku, tapi Leeteuk kembali tertawa.

“Meskipun membosankan, tapi aku mau menghabiskan malam tahun baru ku dengan kalian. Dan aku ingin menjahili mu sepuas-puasnya di akhir tahun ini, hahaha”

Yah, sepertinya malam ini tidak akan terlalu membosankan, karena aku bersama eonni dan Leeteuk oppa. Akhirnya aku mengambil tas kertas itu dan membuka isinya. Aku melihat gaun berwarna putih yang panjangnya sedikit di atas lutut. Ditambah dengan high heels berwarna hitam. Terkadang aku kesal dengan high heels karena kakiku bisa pegal setengah mati. Tapi aku tidak keberatan untuk memakainya, asalkan tidak terlalu lama. Baju dan sepatu ini cukup manis.

“Eonni, kau mendapatkan dress seperti apa?”

“Hampir mirip dengan milikmu tapi milikku berwarna hitam. Aku suka hitam, hahaha.”

Sepertinya kami berdua sama-sama menyukai gaun ini. Sepertinya eomma mulai mengerti apa yang kami suka. Paling tidak ia mengerti sedikit saja, dia terlalu sibuk untuk menghafal apa saja yang kami sukai.

“Aku sebaiknya pulang dan bersiap. Aku akan kembali tepat jam setengah 7 ya.” Sahut Leeteuk oppa yang sudah berdiri meninggalkan kursi mejaku. Eonni mengantarkannya sampai ke depan pintu apartemen. Setelah itu kami berdua bersiap-siap di kamar eonni, karena makeup miliknya lebih komplit dari miliku. Aku hanya memiliki beberapa makeup natural yang warnanya seperti kulitku, aku tidak suka makeup yang tebal.

Pestanya benar-benar membosankan. Seandainya aku sudah memiliki rencana untuk menghabiskan malam tahun baru ini mungkin aku akan menolak ikut acara ini secara habis-habisan. Pergi ke club atau semacamnya aku tidak masalah, tapi sayangnya aku sama sekali tidak ada rencana untuk malam ini. Satu-satunya rencana adalah menonton serial film zombie yang baru saja kubeli, dan rencana itu sama sekali tidak akan bisa mengalahkan kerasnya kepala appa.

Satu-satunya yang membuatku bertahan di acara ini adalah makanannya. Jelas, makanan ini buatan chef bintang 5. Setelah mengambil beberapa potong buah, aku mencari Leeteuk oppa. Jujur, ketika aku butuh tertawa aku selalu mencarinya, selalu. Ballroom ini terisi banyak orang, tapi masih mudah untuk mencari seseorang. Sayangnya meskipun aku sudah mencari ke semua sudut ruangan ini Leeteuk tidak ada. Aku kira dia bersama dengan eonni, tapi kulihat eonni sedang di perkenalkan kepada rekan bisnis appa oleh appa dan eomma. Meskipun aku melihat eonni tersenyum, tapi aku yakin ia pasti tidak suka dan ingin cepat-cepat kabur. Sayangnya setiap aku berusaha menarik eonni setiap kali ia sedang di perkenalkan oleh appa dan eomma, eomma selalu menarikku dan aku malah ikut diperkenalkan. Maka dari itu aku selalu sibuk sendiri setiap kali aku ikut ke acara seperti ini, dan yang kena selalu saja eonni karena memang target pertama appa dan eomma adalah memperkenalkan eonni, setelah itu baru aku.

Pada akhirnya aku kembali mencari Leeteuk oppa, karena aku tahu ia sedang sendirian. Tapi… kalau ia sedang bersama orang lain terutama perempuan, aku berani bersumpah akan meninjunya wajahnya. Aku sempat berpikir bahwa Leeteuk berada di luar ballroom, tapi aku melihat sebuah pintu yang tertutup oleh tirai di sudut ballroom. Ketika pintu itu kubuka, aku melihat banyak cahaya yang berkerlap-kerlip dan yang paling jelas terlihat adalah N Seoul Tower. Pintu itu adalah pintu balkon. Aku melihat Leeteuk oppa yang sedang memandangku agak kaget. Sepertinya ia tidak menyangka aku bisa disini.

“Oppa! Aku mencarimu kemana-mana.”

Meskipun cukup gelap, tapi dengan cahaya gedung yang berkerlap-kerlip itu aku bisa melihat Leeteuk oppa yang tersenyum kearahku, sambil menggenggam gelas yang berisi wine. Kemudian aku menutup pintu di belakangku dan berjalan mendekatinya. Entah kenapa aku merasa tidak ingin diganggu oleh siapapun.

“Kenapa kau disini? Bukankah disini dingin?” Tanyaku setelah aku berdiri tepat di sampingnya.

“Aku tidak suka sendirian di tempat yang penuh dengan banyak orang. Yoo Jin selalu di tarik oleh orang tuamu.” Leeteuk oppa tertawa kecil, kemudian meminum wine sedikit nya.

“Kubilang juga apa… tapi ada aku kan?” Aku tertawa kecil, kemudian Leeteuk oppa juga ikut tertawa bersamaku.

“Tapi sejak tadi kau selalu pergi sendiri dan mencari makanan, akhirnya aku sendiri lagi.” Wajah Leeteuk oppa terlihat cemberut dibuat-buat.

“Mianhae! Yang pasti sekarang aku disini bersama oppa.” Setiap kali aku mengobrol dengannya ia selalu membuatku tertawa seperti ini.  Maka dari itu aku selalu senang berada di dekatnya, tapi akhir-akhir ini perasaanku selalu di buat bercampur aduk karenanya. “Oppa, kenapa kau tidak menolak tawaran eomma tadi?” Tanyaku lagi.

Leeteuk oppa tertawa kecil, “Sudah, tapi tidak bisa. Sepertinya sifat keras kepalamu di turunkan orang tuamu ya. Hahaha, jangan beritahu ucapanku pada orangtuamu.”

“Tidak, mereka memang keras kepala. Tapi aku  hanya di turunkan sedikit saja.” Tangan ku menunjukan sekecil apa maksudku.

“Percaya diri sekali, tapi aku senang disini bersamamu.”

Perlahan aku menatap wajah Leeteuk oppa yang sedang meneguk winenya. Aku berpikir untuk menanyakan maksudnya, tapi tidak ada satu katapun yang keluar dari mulutku. Yang ada hanya mulutku yang berusaha mengeluarkan suara, tapi aku kebingungan untuk memilih kalimat yang tepat.

“Kau tahu?” Leeteuk oppa menggeser posisinya lebih dekat padaku, dan pundak kananku bersentuhan dengan tangan kirinya. Leeteuk oppa tidak langsung melanjutkan ucapannya, ia menatap winenya kemudian mengocok winenya dengan memutar-mutar gelasnya. Tapi tidak lama setelahnya Ia kembali menatapku dengan dalam dan lembut.

“Aku menyukaimu.”

Di musim dingin seperti ini seharusnya tubuhku menggigil dingin, tapi kenapa dengan kalimatnya itu tubuhku berubah menjadi hangat. Mataku membulat, masih menatap mata Leeteuk oppa yang terlihat serius.

“O, oppa… Apa maksudmu?”  Nafasku rasanya masih tidak beraturan, tertahan dan sulit di hembuskan lagi.

“Sudah lama… Aku menyukaimu Yong Woo.”

“T, tapi kau… dan eonni?”

“Sepertinya eonni mu tahu. Tadi, kami membicarakannya.” Leeteuk oppa meneguk winenya beberapa kali. Aku yakin ia sama tegangnya dengan diriku. Tapi aku merasa tegang ditambah dengan kebingungan.

“Kalian… kalian… hubungan kalian…?” Tanyaku tergagap. Aku tidak percaya semua ini, ini… mengerikan.

Leeteuk oppa terlihat menggeleng kecil. “Yoo Jin mengakhirinya tadi.”

Setelah mendengarnya, pikiranku serasa ingin meledak. Semuanya membuatku bingung, saking penuhnya kepalaku aku jadi tidak bisa berpikir apa-apa. Cukup lama aku terdiam, dan sepertinya Leeteuk oppa pun mengerti kenapa aku terdiam seperti ini. Sehingga ia sendiripun terlarut dalam pikirannya.

Kenapa Leeteuk oppa menjalani hubungan dengan eonni kalau dia menyukaiku? Aku memang pernah dengar kalau eonni yang menyatakan perasaannya duluan, tapi kenapa Leeteuk oppa menerimanya? Berbagai pertanyaan seperti itu berlalu-lalang di kepalaku. Ingin meledak rasanya.

“Tidak bisa seperti ini.” Ucapku, lebih tepatnya berbisik. Leeteuk oppa sepertinya mendengarnya sayup-sayup.

“Apa?”

“Oppa… Jujur, selama ini aku juga memendam perasaan khusus padamu. Tapi aku hanya berniat untuk memendamnya karena aku tahu eonni sudah memilikimu. Meskipun aku menyukaimu tapi aku tidak ingin seperti ini. Aku sama sekali tidak mau di cap seperti merebutmu dari eonni. Aku… Maaf oppa…”

Aku tidak bisa diam saja disitu, air mataku nyaris keluar karena aku tidak percaya semua ini terjadi. Perasaanku benar-benar tercampur aduk. Aku berjalan dengan cepat menuju pintu masuk ke ballroom lagi, tapi Leeteuk tiba-tiba memanggil namaku dan entah kenapa kakiku malah berhenti melangkah.

“Yoo Jin sendiri menginginkan aku bersamamu.”

Beberapa detik

Akupun berjalan cepat kembali ke dalam ballroom, dan tanpa berpamitan aku segera keluar dari acara itu dan pulang sendiri dengan taksi. Aku ingin bertanya banyak pada eonni, tapi sepertinya tidak sekarang. Emosiku masih tidak stabil, sehingga aku hanya mengirimkan message pada eonni bahwa aku pulang duluan.

Sampai sekitar jam 9 malam, aku mendengar pintu apartemenku yang terbuka.  Tidak lama kemudian aku mendengar eonni memanggil namaku kemudian mengetuk pintuku. Awalnya tidak ingin kubuka, tapi kemudian aku berpikir untuk meluruskan semua ini pada eonni. Aku takut kalau ia salah paham padaku, aku ingin eonni bahagia bersama Leeteuk oppa, tidak ada secuil pikiranpun untuk merebutnya dari eonni. Yang paling kutakutkan di dunia ini adalah eonni membenciku. Karena bagiku eonni adalah orang yang paling penting, lebih penting dariapa siapapun.

Perlahan kubuka pintu kamarku.

“Eonni?”

“Yong Woo, boleh aku masuk?”

Aku mempersilahkan eonni masuk ke dalam, dan seperti biasa eonni duduk bersila di kasurku. Setiap kali kami ingin mengobrol, curhat, atau bahkan bergosip, ia selalu datang ke kamarku dan duduk di kasurku seperti saat ini.

“Yong Woo…” ia menggaruk belakang lehernya, kemudian melanjutkan ucapannya lagi. “Hmm, bagaimana memulainya ya? Apa… Leeteuk sudah…” eonni tidak langsung mengatakannya dengan jelas, tapi aku mengerti apa maksudnya.

“I, iya. Tapi… Kenapa Leeteuk oppa mengatakan kalau kau ingin aku bersamanya?”

Yoo Jin eonni terlihat memikirkan sesuatu, tapi kemudian ia tersenyum padaku. “Iya, itu benar. Memang aku yang menginginkannya.”

Aku tidak percaya bahwa itu bukan bualan Leeteuk oppa saja. Sebenarnya apa yang mereka bicarakan tadi?

“Tapi… kenapa eonni? Aku tidak mengerti.”

“Bagaimana menjelaskannya padamu ya? Mungkin sudah lama aku sadar, tapi aku baru punya keberanian untuk menanyakan tentang ini pada Leeteuk tadi sore. Seperti yang kau tahu Leeteuk bisa di percaya dan benar-benar baik. Dalam beberapa aspek dia mirip denganmu, hahaha.” Eonni menghentikan kalimatnya sejenak dan merubah posisi duduknya, lalu ia kembali melanjutkan ucapannnya lagi.

“Alasanku mengakhiri hubungan kami, karena ia sudah tidak memiliki perasaan apapun terhadapku, tapi bukan karena aku sakit hati.  Maka dari itu aku ingin kau bisa memiliki seseorang yang dicintai lagi, setelah selama ini kau terus menyendiri dan tidak bisa mempercayai orang semudah itu. Apa kau mengerti maksudku?”

Yoo Jin eonni menarik nafas nya kemudian menghelanya kembali. Sedangkan aku masih terdiam dan berusaha mencerna semuanya.

“Maksudku, aku ingin kau bahagia dengan Leeteuk. Menurutku Leeteuk adalah orang yang lebih pantas untukmu dibanding denganku.”

Eonni mengakhiri ucapannya, tapi… bukan itu yang aku mau.
Bukan…

Itu jauh lebih menyakitkan dari yang ku kira. Lebih menyakitkan di banding ia membenciku karena salah paham. Perasaanku benar-benar di campur aduk. Aku meminta waktu sendiri pada eonni, setelah ia keluar aku kembali merebahkan tubuhku di kasurku.

Kenapa Yoo Jin eonni selalu merelakan segalanya untukku? Aku tahu seberapa sulitnya hidup tanpa ada orang tua yang ada di sampingmu, dan aku yakin eonni pun merasakan hal yang sama denganku. Mungkin lebih berat karena aku menjadi tanggung jawabnya. Kenapa ia selalu mengalah untuku? Sudah sifat manusia menginginkan sesuatu untuk dirinya sendiri bukan?

Seandainya saja aku bukan lagi menjadi tanggung jawabnya, seandainya eonni bisa melakukan apa yang ia suka tanpa harus memikirkanku lagi, aku ingin eonni bahagia.

Yoo Jin POV

Sudah jam 12 malam dan aku masih belum bisa tidur. Setelah Yong Woo meminta waktu sendiri, aku tidak tahu apa yang kulakukan. Menyalakan TV tapi tidak kutonton, berusaha membaca tapi tidak konsentrasi, mencoba untuk browsing internet tapi yang kulakukan hanya menscroll tanpa membacanya, ingin tidur tapi tidak bisa. Itu hal paling menyebalkan.

Pada akhirnya aku memilih untuk mengecek keadaan Yong Woo. Aku yakin ia pasti kaget dengan semua ini, dan itu yang membuatku gelisah. Perlahan kubuka pintu kamar Yong Woo, berharap untuk melihatnya tertidur nyenyak. Tapi saying, aku tidak menemukan Yong Woo dimanapun. Aku sudah mencari ke seluruh apartemen, bahkan loteng sekalipun, tapi aku tidak menemukannya dimanapun.

Aku segera menghubungi Leeteuk, siapa tahu ia sedang bersamanya.
Bunyi nada tunggu terus berbunyi.

“Yobeoseyo? Leeteuk?”

“Yoo Jin? Wae?”

“Yong Woo… Yong Woo ada bersamamu?”

“Tidak. Ia tidak pulang kerumah?” Nada suara Leeteuk terdengar kaget.

“Tadi ia memang sudah pulang, tapi sepertinya ia pergi lagi entah kemana.”

“Aku akan mencarinya, apa ada tempat yang Yong Woo sering datangi?”

“Entahlah, aku tidak tahu. Aku akan ikut mencari.”

Pada akhirnya aku mencari Yong Woo dengan mobilku sendiri dan Leeteuk dengan mobilnya.

Kring~ Kring~

Hp ku yang terus ku pegang sejak tadi, berbunyi. Kukira telepon itu dari Leeteuk, tapi ternyata nomornya berbeda. Tidak ada nama yang muncul, hanya nomor tidak dikenal.

“Yobeoseyo?”

“Yobeoseyo, apa ini dengan Han Yoo Jin?” Suaranya terdengar seperti bapak-bapak, apa ini berhubungan dengan Yong Woo. Oh aku berharap semoga Yong Woo tidak apa-apa.

“Iya, ini dengan siapa?”

“Ini dari polisi, apa anda kenal dengan seseorang yang bernama Han Yong Woo?”

Tubuhku rasanya membeku. Polisi? Yong Woo? Ada apa ini?
Dengan secepatnya aku meminggirkan mobil ke sisi jalan dan menghentikannya.

“I, iya. Itu adik saya, ada apa ya pak?”

“Han Yong Woo melakukan percobaan bunuh diri. Dia berniat untuk menenggelamkan dirinya sendiri, untungnya ada pejalan yang melihatnya dan ia berhasil dibawa ke rumah sakit. Tapi sampai sekarang kondisinya masih kritis, tolong secepanya datang ke RS X ya. Terima kasih.”

Nyawa ku serasa melayang keluar dari tubuhku ketika mendengar kabar itu. Jantungku berdetak tidak karuan, yang bisa kupikirkan saat ini adalah secepatnya pergi menuju Rumah Sakit itu. Dalam perjalanan, aku menghubungi Leeteuk dan menyuruhnya untuk segera pergi ke rumah sakit yang kumaksud.

Leeteuk sampai bersamaan denganku. Setelah sampai aku berjalan masuk bersama Leeteuk, kemudian aku melihat seorang polisi yang sedang berdiri di lobby rumah sakit.

“Nona Han Yoo Jin?” Tanyannya. Aku mengangguk dan kami segara di bawa menuju ruangang dimana Yong Woo berada.

“Sampai sekarang kondisinya masih kritis tapi tidak separah tadi. Kepalanya yang terantuk batu membuatnya kritis, ditambah dengan dinginnya air di musim dingin seperti ini. Beruntung sekali tengah malam seperti ini seseorang melihatnya dan langsung mencari bantuan.” Jelas polisi itu setelah mempersilahkan kami untuk duduk di luar ruangan ICU Yong Woo. “Oh ya, dan ini… Aku menemukan surat ini di saku celananya.” Polisi itu kemudian menyerahkan secarik kertas yang sudah basah ini.

Perlahan ku buka surat itu, dan meskipun basah tulisannya masih bisa terbaca.

Yoo Jin eonni, mianhae.

Maaf karena selalu merepotkanmu, selalu membebanimu.
Maaf karena aku sering egois.
Maaf karena aku menjadi tanggung jawabmu.
Maaf karena aku harus meninggalkanmu.

Gomawo…

Terima kasih karena sudah menjagaku sampai saat ini.
Terima kasih karena selalu menemaniku.
Terima kasih karena kau rela melakukan apa yang harusnya aku lakukan.
Masih banyak ucapan terima kasih yang ingin aku ucapkan.
Yang pasti, terima kasih atas segalanya, dan terima kasih sudah menjadi eonniku.

Sejak kecil semua orang menyebutku cantik.
Banyak orang yang ingin sepertiku, sehingga terkadang aku dibenci oleh teman-temanku. Terkadang aku hanya dipergunakan orang lain. Tapi eonni selalu ada disampingku.

Eonni selalu membuat aku kembali bersemangat dan bahagia. Tapi sampai saat ini aku belum bisa membuat eonni bahagia, seperti eonni membuatku bahagia. Aku tidak mau eonni merelakan sesuatu yang eonni suka demi kebahagiaanku. Bukan hanya Leeteuk oppa, tapi semuanya.

Untuk Leeteuk oppa, terima kasih banyak. Selama ini oppa selalu menjagaku dan selalu membuatku tertawa. Aku memang menyukaimu selama ini, tapi aku ingin kau bahagia bersama eonniku. Berjanjilah padaku untuk kembali bersama eonni, setelah aku tidak ada. Sekali lagi terima kasih banyak.

Eonni…
Kalau bisa aku ingin menjadi adikmu lagi di hidupku yang selanjutnya.

Terima kasih banyak.
Tapi sayang, sampai saat ini aku belum bisa memainkan peran sebagai Han Yong Woo dengan baik. Aku akan mengundurkan diri, dan menunggu peranku yang selanjutnya di hidupku selanjutnya.

Sampaikan salamku pada appa dan eomma, terima kasih sudah melahirkanku ke dunia ini. Tapi maaf sepertinya aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi.

Sampai jumpa, eonni.
– Han Yong Woo.

Sudah seminggu Yong Woo masih di rawat didalam ICU. Terkandang keadaannya bisa memburuk tiba-tiba, tapi keesokan harinya membaik seperti tidak terjadi apa-apa. Malam itu aku langsung menghubungi appa dan eomma agar pulang ke korea secepatnya. Syukurlah mereka memilih untuk menjaga anaknya yang kritis dari pada mengurus bisnis mereka. Setiap hari aku terus berdoa agar Yong Woo kembali sehat dan pulang bersamaku. Kejadian ini sepertinya membangunkan appa dan eomma agar lebih sering menghabiskan waktu dengan kami berdua, mungkin aku bisa berharap untuk mempunyai keluarga yang normal.

Tentang Leeteuk, aku sudah kembali bersamanya. Meskipun aku tahu Leeteuk sedikit banyak masih menyukai Yong Woo, tapi sekarang ia sudah mengerti bahwa Yong Woo hanya ingin memendam perasaanya. Jadi dia sendiri sekarang lebih menganggap Yong Woo seperti adiknya saja.

Yong Woo…
Kamu tidak harus membuatku bahagia. Cukup dengan berada disisiku aku sudah lebih dari bahagia. Pernahkah kau bayangkan kalau kau tidak ada, kemudian appa dan eomma bekerja setiap hari, apa yang akan terjadi padaku? Aku pasti akan selalu sendiri, kau tahu sendiri aku paling benci sendirian.
Kau memang tanggung jawabku, tapi aku tidak keberatan dengan itu.
Terkadang aku memang merelakan sesuatu demimu, tapi aku tidak keberatan.
Aku pasti menolaknya kalau aku keberatan. Kau tidak perlu berpikir kalau kau membebaniku, dan kau bukan orang yang egois. Karena sebetulnya aku yang egois, selalu melakukan semauku saja. Maafkan eonni mu ini, dan kembali lah padaku.

Maka dari itu aku membutuhkanmu, jangan tinggalkan aku seperti ini Yong Woo.
Kau harus sembuh, dan aku ingin membangun keluarga yang lebih baik bersama appa, eomma, dan bersamamu.

THE END

Open ending bahaha! I am so evil. ^^
Like it? Punya kritik atau saran? COMMENT di bawah~  

Mau coba request FF? klik disini! Gampang kok, tinggal ikutin stepnya aja 🙂

Advertisements

2 responses to “[Requested] Imperfect

  1. Annyeong Cia ^^ *can i call u like that?*

    First, thx banget uda post ff request ku ini di tanggal 2 jan 2013. Why? Karena tanggal 2 jan adalah ultahku hohoho xD *jangan tanya ultah ke brp ya, malu soalnya uda tua #plakk*

    But, kenapa itu endingnya bisa gantung??? Jd sebenarnya Yong Woo mati atau ngga? *napsu*

    Oh ya, tadinya aku mau request orang ke-4 nya tuh Yeye, tapi kupikir aku kan minta Yong Woo berakhir tragis. Jadi kasian Yeye harus jomblo *peyuk Yeye*

    Last but not least, thx buat author blog ini yang uda buang waktu berharganya buat nulis ff request ku yang gajebo *bow n kiss*

    • Hi! Yes, of course~ I prefer everyone call me Cia 🙂
      Really? Aku ngepost pas ulangtahun mu? Waaaah, happy birthdaaaaay! Hehehe, kok bisa pas ya?

      Uh, maaf ya aku buat open ending. Aku nggak bisa bikin Yong Woo mati, kasian Yoo Jin nya… T~T Tapi aku mau supaya readernya yang nentuin endingnya, jadi aku bikin open ending deh. I feel baaaaad bikin open ending, tapi aku lebih nggak enak lagi kalau Yong Woo nya mati. aku jadi bingung…

      Yeye? ah biarin aja Yeye jomblo, sama aku aja yeyenya! Pfffft… *peyuuuk Yeye*
      Oh iya, harusnya aku nambah info ini di page buat yang mau nambahin sesuatu di formnya, bisa kirim email ke dwijukbakjuk@yahoo.com ^^

      *bow~* Sama-sama! Terima kasih juga udah ngerequest ya hehehe. Nulis FF bukan ngabisin waktu berharga aku kok, kalau ngerjain PR baru ngabisin waktu berharga aku~ hahaha *bow lagi*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s