You Turned My World Upside Down (Chapter 8)

Poster4

Uh, setelah aku ngepost ini, mungkin aku bakal update agak lama. Ada project di sekolah yang harus aku selesaikan sampai februari. BUT! I’ll still write for the next chapter! Masih ada First Love – Eunhyuk setelah ini, aku pasti ngepost tapi mungkin agak lama. So, please understand my condition. Aku bakal berusaha secepat yang aku bisa. 

Sambil nungguin update, bisa check pages yang ada di blog ini. Recommended page nya beberapa ada yang udah di update, tapi mungkin Recommended Movies nya belum sempet di selesain, haha mian~ Kamu bisa juga coba FF Requestnya, Try to check it! 

p.s. to ifa… Sorry! >< Janji update minggu lalu, baru bisa update seminggu setelahnya, hahaha. Sorry banget~ 

So… uhm, truthfully i’m not satisfied with this chapter, but… i’ll try to be better in the next chapter. Okay thank youuu everyone! 

p.p.s. what do you think about the poster? bahaha, for me.. i totally love it~ Not that i’m proud of my own poster, it’s just… Kyu and Hae look so FVCKN GORGEOUS THERE OMGGGG~ 

okay, so let’s just get to the story! 
enjoy~

_____________________________________________________________

By CIA (@zaskiarunim)

Attention: Ini hanyalah fanfiction, bila FF ini mirip dengan cerita lain hal ini hanyalah ketidak sengajaan, Gamsahamnida.

DO NOT TAKE WITHOUT PERMISSION AND FULL CREDITS,
Please leave a comment~

_____________________________________________________________

Everything happens for a reason

“Apa maksud mu mengajakku ke jeju-do?” Tanya Myeonsa setelah ia bisa menetralkan nafasnya.

“Hanya ingin saja… lagipula kau sudah setuju. Yuk, sekarang saja, jarang-jarang ke jeju-do dengan perahu, ya kan?” Sekali lagi Kyuhyun tertawa, tawanya itu membuat Myeonsa kesal setengah mati.

Myeonsa POV

Pada akhirnya aku berakhir di sebuah kapal ferry, meminum hot chocolate dan terombang-ambing di tengah laut.

“Lalu kenapa kau mengajakku ke Jeju-do menggunakan ferry kalau kau mabuk laut?!”

Aku memandang wajahnya yang pucat pasi, sambil meminum teh hangat di tangannya agar tidak terlalu mual. Cho Kyuhyun mabuk laut, aku tidak percaya ini… “Ada ada saja kau.” Lanjutku dengan sinis.

“Hentikan omelanmu, jangan buat aku semakin pusing.”

“Mianhae…” Jawabku dengan wajah jahil. “Tidur saja dulu, perjalanannya masih cukup lama.”

Pada akhirnya Kyuhyun memilih untuk tidur agar dia tidak merasakan mual dan pusingnya.

Sudah cukup lama kami terombang-ambing di atas kapal, dan aku tidak tahu berapa kali Kyuhyun bulak-balik ke toilet. Sebenarnya aku juga merasa kasihan, tapi aku tidak habis pikir kenapa dia mengajakku naik ferry padahal dia mabuk laut. Setelah turun dari perahu itu, aku mengajak Kyuhyun untuk mencari makanan agar perutnya yang isinya sudah ia keluarkan sejak tadi, kembali terisi.

Setelah keluar dari pelabuhan, aku melihat Kyuhyun menunjuk sesuatu. Ia menunjuk sebuah stand makanan ringan, semajam bakpau berisi kacang merah. Di musim dingin seperti ini perutku langsung berbunyi melihat makanan hangat seperti itu. Tanpa aba-aba Kyuhyun langsung menarik tanganku.

Kenapa… Kenapa rasanya ada sesuatu yang menjalari tubuhku? Rasanya hangat meskipun di musim dingin seperti ini.

Setelah berada di depan stand makanan itu, aku melihat wajah Kyuhyun yang terlihat bersinar-sinar. Aku tidak tahan melihatnya dan akhirnya tertawa.

“Kenapa tertawa?” Tanyanya sinis, sedangkan aku masih tertawa.

“Muka mu… hahaha, kau suka sekali dengan makanan ini ya?”

Aku berusaha menghentikan tawaku agar dia tidak mengamuk, tapi rasanya pipiku terus mengembang karena menahan tawa itu ternyata sulit. Kyuhyun tidak langsung menjawab pertanyaanku, ia malah memandangi makanan hangat yang sedang di masak itu.

“Aku lapar…”

“HAHAHAHA”

Sedetik kemudian Kyuhyun menatap ku dengan tatapan membunuhnya, seperti ‘kau ingin mati ya?’. Mengerikan, membuat bulu kudukku berdiri dan tawaku terhenti dalam sekejap. Sekali lagi, hanya kata maaf yang bisa keluar dariku. Tapi sungguh, tadi itu sangat lucu! Aku tidak pernah melihat Kyuhyun sampai kelaparan seperti itu.

Pemandangan langka! Seorang superstar kelaparan, dan sekarang ia sedang menunggu sebuah bakpau kacang merah yang asapnya mengebul hangat. Rasanya aku ingin menulis berita dengan judul seperti itu, hahaha lucu sekali.

Ah, berita…
Skandal itu masih ada ya? Skandal aku dan Kyuhyun. Rasanya dengan semua hal menyenangkan hari ini, aku benar-benar lupa dengan skandal itu. Seandainya aku bisa melupakan semua hal itu, mungkin akan lebih baik.

“Kita mau kemana setelah ini?” Tanyaku. Kyuhyun memberikan satu bakpau padaku, sedangkan ia membeli dua. Anak ini… benar benar lapar ya?

“Entahlah… kau punya ide?”

Aku menatapnya tidak percaya. Tapi ia berlagak tidak bersalah dan mengunyah bakpau dengan santainya.

“Kalau begitu untuk apa kau mengajakku? Kau ini aneh…”

“Menghabiskan waktu denganmu. Kenapa? Tidak boleh?” Masih dengan dua bakpau di tangannya dan pipinya yang entah kenapa sangat lucu ketika mengunyah. Menyebalkan, tapi lucu… Setelah itu aku membayar bakpau ini karena Kyuhyun memintaku untuk mentraktirnya. Apa dia ini benar-benar superstar Cho Kyuhyun?

Aku sempat berbicara beberapa kata pada ahjusshi yang menjual bakpau ini karena dia sangat ramah. Tapi entah kenapa Kyuhyun memandangku dengan aneh. Akupun memandangnya bertanya-tanya.

“Kenapa… kau bisa dialek jeju? Gomapsuda, bangapsuda(terima kasih, senang bertemu dengan anda.. (dialek jeju)

Kyuhyun mengikuti cara bicaraku pada ahjusshi tadi  dengan beberapa tanda tanya di kepalanya.

“Aku hanya bisa sedikit… Aku lahir disini dan masa kecil ku kuhabiskan disini.” Jawabku, diikuti dengan kepala Kyuhyun yang mengangguk-angguk.

“Orang tuamu disini?” Tanyanya lagi. Tumben sekali ia bertanya-tanya tentangku, biasanya jarang sekali.

“Tidak, orang tuaku bekerja di Jepang, kenapa kau ingin berkunjung ke rumahku di sini?”

Wajah Kyuhyun terlihat seperti menimbang-nimbang tawaranku. Itu bukan ide yang buruk juga untuk menghabiskan waktu di rumah dari pada keluyuran di cuaca yang semakin sore semakin dingin saja. “Sebetulnya bukan rumahku, tapi rumah neneku. Bagaimana, kau mau?”

“Bolehkah?” Tanyanya.

“Tentu saja, kaja!”

“Omo! Myeoni!”

Halmang~!

Halmang adalah nenek dalam dialek Jeju. Ketika aku datang wajahnya terlihat sangan gembira, begitu pula denganku. Biasanya sebulan sekali aku mengunjungi Halmang ke Jeju, tapi 2 bulan ini aku belum sempat mengunjunginya karena uang transportasi yang cukup mahal. Karena Kyuhyun juga aku bisa mengunjungi Halmang. Dia yang membayar tiket ferry nya, terima kasih~

“Eiii~ Uri Myeoni sudah besar ya, siapa yang kau bawa ini?” Tanya Halmang dengan wajah jahilnya.

“Ahaha, halmang bisa saja. Ini Kyuhyun, dia ini…” Aku tidak melanjutkan kalimatku. Aku bingung harus memanggilnya sebagai apa. Teman? Kenalan? Artis? Yang pasti aku tidak akan menyebutnya sebagai pacarku dan berbohong pada Halmang.

“Aku namja chingunya Myeoni~” Nada suara Kyuhyun terdengar sangat di tekankan. Berani-beraninya dia memanggilku Myeoni!

“Ya! Apa-apaan kau!” Aku memukul bahu Kyuhyun dengan cukup kencang, sehingga ia terlihat sedikit meringis.

“Aigoo, kalian berdua sangat mesra. Ayo masuk! Diluar sangat dingin.” Halmang menyuruh kami masuk, lalu Kyuhyun berjalan di duluan. Tanpa disangka dia menjulurkan lidahnya padaku. Apa-apaan itu?! Setelah berada di dalam beberapa kali aku menjelaskan pada Halmang kalau Kyuhyun bukan pacarku, tapi Halmang tetap saja menggodaku dengan betapa gantengnya Kyuhyun dan betapa sopannya dia. Parahnya Halmang mengatakan aku dan Kyuhyun serasi. Menyebalkan, aku ingin mengatakan bahwa semua yang Kyuhyun lakukan adalah palsu, tapi aku tidak punya bukti. Sehingga akhirnya aku hanya bisa memendam rasa kesalku.

“Halmang~ Makanannya sangat lezat! Gomapsuda!”

Aku hanya bisa memandang Kyuhyun dengan tajam. Seenaknya saja dia makan disini dengan bermuka dua seperti itu. Di tambah dengan dialek Jeju dadakannya, aku menyesal membawanya kemari.

“Ya~ Myeonsa! Kau besar di rumah ini?” Tanya Kyuhyun, sambil menyuap beberapa sendok sup yang hangat.

“Ne, wae?” Ku ucapkan dengan sesinis-sinisnya.

“Kau beruntung ya. Sejak kecil aku ingin sekali tinggal di rumah tradisional seperti ini.” Jawabnya dengan polos. Aku ini orang yang gampang merasa bersalah. Mendengar alasannya bertanya seperti itu aku jadi sedikit bersalah karena sudah menjawabnya dengan sinis.

“Tinggal di rumah tradisional memang lebih nyaman dari pada di apartemen.”

Aku bingung dengan sifat Kyuhyun, kenapa selalu berubah-ubah? Terkadang dia membuatku kesal setengah mati, terkadang membuatku merasa ingin tahu lebih banyak tentangnya, terkandang ia membuat jantungku berdetak tidak karuan. Kenapa ia seperti ini? Bahkan aku jadi tahu bahwa sahabat seatap ku adalah mantan pacarnya Lee Donghae karena aku bertemu dengan Kyuhyun.

Rasanya hidupku tercampur aduk seperti bibimbap karenanya.

Kira-kira… apa Seonra baik-baik saja ya? Aku jadi khawatir padanya.

“Karena menunggu itu sesuatu yang melelahkan, Donghae…” Seonra menghela nafasnya dan memandang sinar matahari di celah dedaunan. “Apa lagi bertahun-tahun.”

 “Maafkan aku…”

“Untuk apa?” Seonra tiba-tiba memandangku.

“Membuatmu menunggu.” Sedangkan aku berusaha untuk memandangnya, tapi rasanya sulit.

“Apa hanya ini yang ingin kau katakan padaku sampai menyuruhku bertemu di Mokpo?” Ia tertawa kecil.

Donghae POV

Tidak, tentu saja tidak. Aku ingin sekali bertanya banyak hal padanya, tapi saking banyaknya aku tidak tau harus mulai dari mana.

“Apa yang kau lakukan selama ini?”

Aku berusaha mencari topik agar suasananya tidak terlalu canggung.
Seonra terlihat berpikir sebentar.

“Setelah lulus SMA aku meneruskan untuk kuliah di Seoul. Sampai saat ini aku masih kuliah bersama Myeonsa.” Seonra memandangku dengan wajah yang lebih cerah.

“Aku sempat  mencarimu ke mokpo. Tapi kau tidak ada, seluruh keluargamu tidak ada, rumahmu kosong. Apa semuanya tinggal di Seoul?”

“Tidak, mereka bekerja di Jepang. Bersama dengan orangtua Myeonsa, maka dari itu kami tinggal bersama di Seoul. Bagaimana denganmu, apa yang kau lakukan setelah menjadi Lee Donghae Super Junior?”

Entah kenapa aku tidak suka ia menyebutku seperti itu. Seakan akan aku sudah menjadi orang yang berbeda.

“Aku masih sama dengan yang dulu, Seonra…”

Seonra tidak menjawab apa-apa dan malah tertawa sambil memandang ke atas pepohonan. Aku tidak mengerti maksud dari tawanya itu, dan… wajah cerahnya terlihat berubah lagi.

“Ah, apa kabarmu dengan…”

Aku menoleh dan memandangnya dengan heran. Ia seperti ragu-ragu untuk mengatakannya. “Dengan siapa apa?”

“hmm… Jessica?”

“Jessica?!” Demi apapun aku kaget mendengarnya. Apa maksudnya dengan Jessica? “Apa hubungannya Jessica denganku?”

Seonra tidak menjawab apa-apa, ia malah menatap mataku dan sedikit memiringkan kepalanya ke kanan. Sudah lama sekali aku tidak melihat kebiasaannya itu, Seonra memiringkan kepalanya ketika ia sedang memikirkan sesuatu. Sejak kecil aku selalu memperhatikannya hingga aku hafal dengan kebiasaannya. Aku tahu ketika Seonra berbohong ia selalu membuat lingkarang-lingkaran kecil dengan telunjuknya, memainkan kuku jarinya ketika ia gugup, menggigit bibirnya ketika ia ingin menangis, mengepalkan tangannya ketika ia menahan amarahnya, atau mengetuk-ngetukan jari-jarinya ketika ia sedang menunggu hingga membuat nada.

Aku benar benar rindu padanya.

Seonra mengambil segenggam salju putih kemudian memainkannya.

“Ah, tidak… Lupakan saja lah.”

Aku hanya mengiyakannya saja karena aku sendiri tidak mengerti apa yang Seonra maksud dengan Jessica. Tapi entah kenapa aku terus memikirkannya.

“Seonra…”

Ia menengok padaku sambil tersenyum.
Cantik… Cantik sekali…

Seonra masih memainkan salju, ia mengubur kakinya. Masih sama seperti dulu, setiap musim dingin seperti ini aku selalu melihatnya sedang mengubur anggota tubuhnya dengan salju. Entah itu kakinya, tangannya maupun tubuhnya, ia pasti mencoba untuk menguburnya meskipun ia sendiri tahu seberapa dingin nya salju di bulan Desember.

Aku hanya tertawa kecil melihatnya.

“Kenapa kita harus berpisah selama ini?” Tanyaku, aku penasaran dengan apa yang Seonra pikirkan.

“Hmm, karena kau harus menggapai cita-citamu dan appamu juga.”  Seonra menjawab tanpa melihat wajahku. Aku memang menunggu jawabannya, tapi sayang bukan jawaban itu yang aku mau.

“Hanya itu kah?”

Selama beberapa saat Seonra terdiam dan kembali memiringkan kepalanya ke kanan. Tidak lama kemudian ia menatap mataku sambil tersenyum. “Entahlah, tapi ada seseorang yang pernah mengatakan padaku bahwa semuanya terjadi karena sebuah alasan. Jadi tidak mungkin kita berpisah selama ini hanya karena hal yang tidak di sengaja, pasti ada maksudnya meskipun aku sendiri tidak tahu itu apa.”

Ini jawaban yang ku harapkan, aku tidak pernah terpikir hal seperti ini. Jujur, aku masih mencintainya, dan masih ingin bersamanya sebagai lebih dari teman, tapi sepertinya Seonra masih menjaga jarak denganku. Entah kenapa, tapi itu membuatku sedih. Apakah aku harus berkata jujur padanya?

Aku benar-benar masih mencintainya, seperti yang aku janjikan di masa lalu. Perjanjian yang kami buat sebelum aku meninggalkannya di Mokpo.

Seonra mengajaku ke ayunan yang ada di sekolah itu. Dulu ketika kami masih SD, aku dan Seonra selalu berlari setiap jam istirahat hanya untuk berlomba siapa yang mencapai ayunan terlebih dahulu.
Itu sangat menyenangkan.

Seonra duduk di ayunan sebelahku.

“Selama ini aku selalu jauh darimu, aku sangat merindukanmu.” Aku ingin berkata bahwa aku masih mencintainya, tapi sepertinya tidak bisa. Aku tidak punya cukup keberanian.

“Aku juga merindukanmu, tapi… jujur… aku tidak jauh darimu.”

Perkataan Seonra membuatku bertanya-tanya, “Apa maksudmu?”

Seonra tidak langsung menjawabnya, tapi ia tertawa selama beberapa saat.
“Aku tidak pernah jauh darimu, aku selalu melihatmu tapi kau tidak pernah melihatku.”

Jawaban Seonra membuatku semakin bingung. Mungkin karena melihat raut wajahku yang semakin kebingungan Seonra kembali tertawa.

“Jujur, aku selalu mengikuti schedulemu di Super Junior. Aku sudah seperti fans kalian, menonton konser, menonton comeback kalian, dan sebagainya.” Seonra berhenti berbicara ketika melihat wajahku yang shock, ia malah tertawa. “Sebelum aku mengirim surat perpisahan itu, aku tidak pernah absen mengikuti schedule kalian dan sampai sekarang itu sudah menjadi kebiasaanku meskipun aku sudah mengirim surat perpisahan itu tapi aku tidak bisa menghentikan kebiasaanku mengikuti schedule Super Junior. Termasuk… Fan Signing Event Album ke 5 waktu itu, bersama dengan Myeonsa.”

Aku merasa wajahku terlihat semakin shock. Ia ada di Fan Signing Event waktu itu? Benarkah?! Bodohnya aku tidak melihatnya.

“Kau datang di fan signing event waktu itu?! Kenapa aku tidak melihatmu?”

Seonra yang sejak tadi tertawa-tawa, melihat wajahku yang shock sekarang menjadi terdiam.
“Aku… selalu bersembunyi darimu.”

Aku ingin bertanya kenapa, tapi raut wajah Seonra menunjukan bahwa ia tidak ingin ditanya lebih lanjut tentang itu. Meskipun aku sangat penasaran. “Kau mengantri untuk meminta tanda tangan siapa?”
Seandainya Seonra mengantri untuk meminta tanda tanganku berarti aku yang bodoh dan tidak melihatnya. Tapi kalau ia mengantri untuk tanda tangan member lain, kuharap orang itu bukan…

“Eunhyuk.”

Ah, menyebalkan.
Aku berharap Seonra tidak mengantri di barisan si ikan teri itu.
“Aku tidak percaya ini… Kau memilih untuk meminta tanda-tangan orang lain dibanding tanda tangan temanmu sejak kecil ini?!”

Seonra kembali tertawa, rasanya aku ikut senang ketika aku melihatnya tertawa seperti ini. Seonra memutar matanya, “Percaya dirimu masih sangat tinggi ya, tidak pernah menurun sekalipun?”

“Tentu saja tidak, aku ini Lee Donghae!”

“Ya, Lee Donghae yang masih sering mengompol di kelas satu SD.”

“YA! Itu aib terbesarku!! Kau tidak pernah menyebarkannya pada fansku kan?”

Seonra hanya tertawa, dan berusaha menghentikan serangan gelitikanku yang selalu menjadi senjata ampuh sejak dulu.

Aku benar-benar rindu padanya.

Author POV

“Apa kau bilang?!”

“Temani aku minum! Memangnya kenapa? Ada yang salah?”

Kyuhyun terlihat serius dengan tujuannya. Jujur, ia memang sedang ingin minum dan melupakan semua beban yang akhir-akhir ini mengisi kepalanya. Menurutnya ini memang waktu yang tepat, tidak ada manager hyung atau member yang memarahinya karena mabuk. Meskipun ini sudah cukup malam tapi esok hari pun dia tidak ada jadual. Niatnya sudah bulat untuk minum malam ini.

“Ayo cepatlah, beri tahu aku di mana kedai terdekat dari sini?”

“Kau bercanda… Aku tidak akan membiarkanmu mabuk!”

“Sedikit saja? Ayolah, lagi pula besok aku libur.”

Kyuhyun menggenggam tangan Myeonsa, kemudian menariknya… ah lebih tepatnya, menyeretnya keluar untuk mengantarnya. Pada akhirnya Myeonsa mengantar Kyuhyun ke kedai terdekat, lagi pula ia sedang ingin ddeokbeoki di kedai langganannya sejak kecil itu. Setelah sampai Kyuhyun dan Myeonsa duduk berhadapan di sebuah meja yang tidak terlalu besar. Lalu mereka segera memesan soju dan ddeokboki.

“Kyuhyun…”

“Ng?”

“Kenapa aku bisa berakhir disini bersamamu?”

Kyuhyun tidak merespon pertanyaan Myeonsa, ia sendiri sepertinya sedang berpikir.

“Apa maksud dari pertemuan kita ini? Aku selalu meyakini bahwa semua hal yang kita lakukan pasti ada alasannya. Tapi aku kesulitan menemukan alasan dari pertemuan kita.”

“Entahlah, menurutmu?”

Myeonsa menatap mata Kyuhyun dengan kesal. “Bukankah aku yang bertanya padamu? Tch…” Myeonsa mengambil gelas kecil di hadapannya dan ia pun menuangkan soju ke dalamnya.

“Kau melarangku minum tadi, dan sekarang kau malah ikut minum? Kau ini aneh.”

Myeonsa memang tidak bisa minum soju terlalu banyak, segelas kecil saja sudah membuat pikirannya melantur. Seperti saat ini, entah kenapa matanya tidak mau bergerak kearah lain, matanya terkunci pada mata Kyuhyun. Ia merasa sangat aneh dengan ini, sehingga ia meminum satu gelas lagi. Tapi sayangnya perasaannya semakin tidak terkendali, jantungnya berdebar tidak seperti biasanya.

Myeonsa berusaha menarik dan menghembuskan nafas beberapa kali, tapi sepertinya tidak berpengaruh banyak. Sedangkan Kyuhyun, mulutnya bungkam. Ia terus menuangkan soju kedalam gelas kecilnya tanpa berkata apapun. Ia tidak sadar bahwa sejak tadi Myeonsa terus memperhatikannya.

Mereka hanya mendengar suara angin dingin yang berhembus, gelas dan botol yang berdentum dengan meja, air yang dituangkan ke gelas, kemudian suara tegukan. Hanya itu… Paling suara tamu yang lain, itu pun tidak banyak. Myeonsa sudah berhenti menuangkan soju pada gelasnya. Ia sudah sadar bila ia terus meminumnya, ia akan kehilangan kesadarannya sebentar lagi. Saat ini ia masih bisa berpikir normal, hanya saja perasaannya seperti tidak terkontrol.

“Kyuhyun…”

Kyuhyun tidak menjawab panggilan Myeonsa, ia masih berkutat dengan minumannya.

“Bagaimana… kalau aku… melanggar peraturan yang kau berikan waktu itu?”

“Bagaimana kalau aku tidak mau mengikuti semua perintahmu lagi, bagaimana kalau aku tidak siap dengan semua ini, bagaimana kalau aku melanggar semua aturan itu dan… mencintaimu?”

Kyuhyun menghentikan gerakan tangannya yang sedang menuangkan soju kedalam gelas, dan kembali menaruh botolnya di meja. Kepalanya menunduk dan matanya terpaku pada gelas kecilnya. Kyuhyun sendiri sudah berada di bawah pengaruh alcohol yang sejak tadi ia minum.

Tangan kanan Kyuhyun terangkat, ia memesan 1 botol soju lagi. Myeonsa tidak melarangnya, ia sendiri hanya bisa diam. Pikirannya rasanya kosong, perasaannya campur aduk,, dadanya terasa sesak.

Tidak lama setelahnya Kyuhyun mengangkat kepalanya, dan sekarang matanya  menatap mata Myeonsa.

“Aku… juga mencintaimu, aku sangat-sangat mencintaimu…”

Myeonsa sadar apa yang di katakana Kyuhyun, jantungnya berdetak lebih cepat lagi. Ia tidak tau harus berkata apa, tapi sepertinya masih ada yang ingin Kyuhyun katakan.

“Aku mencintaimu… Yoon Ji.”

Sesak
Rasanya sesak…
Kata-kata itu hanya buat Yoon Ji, bukan buatku. Kenapa aku harus sedih? Sepertinya aku berharap terlalu banyak, seharusnya aku sudah tau itu sejak awal.
Apa aku benar-benar mencintainya hingga seperti ini? Ku harap tidak… Aku berharap ini hanya karena aku berada di bawah pengaruh alcohol ini, tapi aku tidak merasa mabuk.
Sadarlah Myeonsa, ia masih mencintai mantannya. Kau bukan siapa-siapa di mata Kyuhyun.
Tapi kenapa dadaku sesak sekali, Kenapa aku harus merasa seperti ini?
Aku tidak bodoh, aku tahu ini perasaan ketika kau patah hati.

Tapi aku tidak mencintai Kyuhyun.
Setidaknya kuharap begitu.

Selama ini ia hanya menganggapku sebagai pengganti Yoon Ji.
itu fakta yang paling kubenci di dunia ini.

Air mata Myeonsa menetes, ia tidak bisa menahannya lagi. Matanya terasa panas, dadanya terasa sesak, tubuhnya terasa lemas. Pada akhirnya ia tahu bahwa Kyuhyun sudah mengambil sebagian besar dari hatinya. Selama bersama Kyuhyun, perasaan yang Myeonsa punya semakin banyak. Jujur ia merasa bodoh. Myeonsa berharap banyak padanya, padahal ia tidak punya tempat sama sekali di hati Kyuhyun. Hanya Yoon Ji yang bisa menempati hati Kyuhyun, seluruhnya milik Yoon Ji.

“Lebih baik kita pulang sekarang, Kyuhyun.”

Myeonsa berusaha berdiri meskipun tubuhnya terasa lemas. Sedangkan Kyuhyun sudah tidak kuasa untuk berdiri, hanya dengan 2 botol soju alkoholnya sudah mempengaruhi pikirannya. Pada akhirnya Myeonsa membantu Kyuhyun untuk berjalan, tangan kanan Kyuhyun di sampirkan di bahunya, dan Myeonsa membantu Kyuhyun untuk tetap berdiri dengan memeluk pinggannya. Berat memang, tapi ia tidak bisa meninggalkannya sendiri di kedai itu.

Selama berjalan, pikiran Myeonsa melantur kemana-mana.

Terkadang aku berharap tidak pernah mengenalnya seperti ini dan tetap menjadi fansnya. Kenapa ia harus menabrakku waktu itu, kenapa ia yang menemukan diariku, kenapa aku menyetujui tawarannya untuk menjadi pacar palsunya?

Seperti yang kukatakan tadi pada Kyuhyun, aku kesulitan menemukan alasan dari pertemuan kita. Rasanya sia-sia saja seperti ini terus. Yang ada aku malah menyakiti hatiku sendiri.

“Yoon Ji, jangan tinggalkan aku lagi…”

Mendengar Kyuhyun berbisik seperti itu, dada Myeonsa terasa sesak kembali.

Ah Kyuhyun.. kau benar-benar berat… Kenapa kau harus putus kalau kau masih mencintai Yoon Ji sampai seperti ini? 

Sesampainya di rumah Halmang, Kyuhyun di tidurkan di kamar tamu. Wajahnya terlihat lelah, sangat lelah. Entah kenapa Myeonsa tidak mau bergerak dari posisinya sekarang. Myeonsa duduk di samping Kyuhyun sambil memeluk lututnya, memperhatikan seluruh lekukan wajah Kyuhyun.

Kenapa ia harus membawa beban seberat ini?

“Yoon… ji…”

Myeonsa sudah tidak tahan, meskipun itu hanya igauan Kyuhyun tapi ia tahu semua orang mabuk pasti mengutarakan sesuatu sejujur-jujurnya. Fakta itu membuat dada Myeonsa semakin sesak dan tubuhnya lemas, ia hanya bisa berjalan perlahan menuju kamar Halmangnya. Ketika ia sedih seperti ini, terutama ketika masih kecil, ia selalu tidur di kamar Halmang.

Tapi ada sesuatu yang tidak Myeonsa dengar karena ia sudah keluar terlebih dahulu.

“Myeonsa, gomawo…” Kyuhyun membuka kedua matanya. “Tapi tidak ada gunanya kau mencintaiku.”

Mianhae…

Itu adalah kata terakhir yang Kyuhyun pikirkan. Setelah itu ia langsung tidur terlelap.

“Wae Myeoni?”

“Ani, amugeotdo eobseo. (tidak ada apa-apa)”

Halmang sudah mengerti kebiasaan cucunya ini. Ia tahu benar bahwa saat ini Myeonsa sedang sedih, dan tidak ingin di tanya apapun. Halmang akan membiarkan  cucunya ini menenangkan perasaannya dulu dan memeluknya. Tengah malam biasanya perasaaanya sudah cukup tenang untuk bercerita, jadi bila ini terjadi Halmang akan selalu terjaga sampai Myeonsa siap bercerita.

Kyuhyun…

Sepertinya Halmang dapat menyimpulkan semuanya dengan cepat. Pasti ada yang terjadi dengan Kyuhyun dan Myeonsa.

I fell in love with you, not sure why or even how, I did…

Untuk kembali ke Seoul dari Mokpo menggunakan MRT membutuhkan waktu beberapa lama. Seonra yang lelah sejak tadi berjalan-jalan bersama Donghae di sekitar tempat tinggalnya dulu, sekarang tertidur di bahu Donghae. Awalnya tidak sengaja memang, tapi sampai sekarang Donghae selalu mempertahankan posisi kepala Seonra di bahunya bila ia berubah posisi. Donghae sendiri tidak tertidur sama sekali, meskipun ia sendiri juga mengantuk. Tapi Seonra membuat mata Donghae dapat bertahan untuk terbuka. Sedari tadi ketika Seonra tidur, Donghae menghabiskan waktunya untuk memandangi wajah Seonra. Sudah lama sekali Donghae melihat wajah yang ia sangat rindukan. selama ini Donghae hanya bisa memandangi wajah Seonra dari foto di ponselnya yang sudah lama ia ambil, mungkin sekitar SMA. Tapi sekarang ia bisa memandangi wajah Seonra dari sedekat itu. Mungkin ini terdengar berlebihan tapi Donghae benar-benar merasa seperti mimpi bisa bertemu dengan Seonra lagi.

Tapi ada satu yang menggangu pikirannya sejak tadi, yaitu Jessica. Kenapa Seonra bertanya tentang Jessica? Kenapa ia menelan kembali pertanyaannya? Apa hubunganku dengan Jessica hingga Seonra bertanya kabar Jessica padaku? Semua ini membingungkan, jelas ini semua bukan hanya karena hubunganku dengan Jessica sebagai rekan kerja, tapi melebihi itu.

Semua ini membuatku bingung.

Myeonsa POV

Mau bagaimanapun nama itu selalu ada di pikiranku.

Yoon Ji.

Aku masih bingung dengan semua teka-teki ini. Kyuhyun masih sangat mencintainya, tapi kenapa hubungan mereka berakhir? Masih banyak pertanyaan yang melayang bebas di pikiranku.

Hanya ada satu orang yang bisa kutanyai tentang semua ini. Seseorang yang mengetahui semuanya, dan orang yang berjanji padaku untuk membantuku bila sesuatu terjadi. Satu orang yang bisa kupercaya, dan Kyuhyun tidak akan tahu bila aku bertanya padanya.

To Be Continue

Advertisements

4 responses to “You Turned My World Upside Down (Chapter 8)

  1. Hai, chingu salam kenal !! aku reader baru nih, iseng2 googling rekomendasi ff, yg muncul blog ini, awalnya sih mw lihat rekomendasi ff yg direkomend sma blog yewookyu ini, tp krn penasaran sma ff yg ada di blog ini, akhrnya kutemukan ff yg seruuuu and sweet abis ini. Keep writing ya chingu !! aku slalu menantikan kelanjutan ff ini ehehehhehe

    • Wah, salam kenal juga chingu~ hehehe. Hmm, welcome deh ya! Padahal udah lama aku nggak nerusin YTMWUD… Pengen banget nerusin, tapi nggak ada ide yang ngalir hahaha. Tapi comment dari reader kayak kamu bikin semangat! Semoga aku bisa nerusin kelanjutannya ya ^^ Gomawooo~ Sering-sering main ke sini ya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s