First Love – Eunhyuk (In Heaven)

FL-EH 3rd Version

Even if I regret, it’s too late
I can’t see you anymore

Wah, udah lama banget ya aku nggak ngelanjutin First Love ini… Semenjak yang Donghae itu… hahaha. Sebetulnya aku udah lama punya ide cerita First Love Eunhyuk ini tapi aku jadi lebih tertarik buat nulis FF request atau nerusin You Turned My World Upside Down. But finally, aku bisa nerusin cerita ini. Udah lama juga ya nggak update, huhu mianhae…

So, poster di atas itu my 1st try making a poster with GIMP (just like photoshop). Aku baru aja buka K-POP FANFICTION POSTER REQUEST, jadi kalian bisa ngerequest poster ke sini, dari pada susah susah bikin poster gimana kalau request aja? It’s free anyway~ Jadi kalau mau coba request bikin poster untuk FF kalian sendiri bisa kunjungin page nya ya! 

P.S. Aku pake foto Lee Hi bukan karena ngeship Eunhyuk sama Lee Hi (BIG NO), tapi karena disini aku suka banget foto Lee Hi and it fits perfectly with the poster, sooo in the end i used her… 

Kalian bisa coba kunjungin poster-poster yang aku pernah buat. Bahkan yang nggak aku jadiin poster bakal aku post. Just like behind the scene nya 😉 

Okay, so FEEL FREE TO REQUEST! enjoy!
With  ♥, Author

_____________________________________________________________

By CIA (@yewookyu)

Attention: Ini hanyalah fanfiction, bila FF ini mirip dengan cerita lain hal ini hanyalah ketidak sengajaan, Gamsahamnida.

DO NOT TAKE WITHOUT PERMISSION AND FULL CREDITS, Please leave a comment~

____________________________________________________________

It wasn’t great. My first love wasn’t as interesting as Donghae’s, or as sweet as Leeteuk hyung’s, mine was bitter.

She’s in heaven.

“Kenapa kau mengatakan itu pada mereka?!”

Tangan kiri Eunhyuk mengepal, ia berusaha meredam amarahnya. Sedangkan lawan bicaranya benar-benar tidak bisa mengeluarkan kata-katanya.

“Dia sudah mencium banyak yeoja?! HAH! Aku tidak percaya itu! Kau sudah melewati batasnya Hae!”

“Maafkan aku Hyuk, aku benar-benar minta maaf.” Donghae menunduk, ia terduduk lemas di atas kasur nya. Pintu kamar mereka tertutup agar tidak ada yang bisa mendengar percakapan mereka.

“Kau kan tahu aku tidak pernah mau mengungkit-ungkit masa laluku itu!”

“Hyuk, aku benar-benar tidak sadar dengan apa yang aku katakan. Maafkan aku…”

Eunhyuk terdiam beberapa saat. Ia memang benar-benar marah pada Donghae dan ia juga bukan orang yang bisa bertahan terlalu lama untuk marah pada seseorang.

“Aku butuh waktu.” Jawab Eunhyuk

“Tapi…”

“Beri aku waktu.” Eunhyuk berjalan ke arah ranjangnya. Kemudian ia berbaring menghadap ke jendela, memunggungi ranjang Donghae. “Selamat malam.”

Donghae merasa sangat menyesal mengatakan hal itu tadi. Ia tidak sadar dengan apa yang ia katakan, dan ia lupa dengan apa yang terjadi pada Eunhyuk dan cinta pertamanya. Cinta pertamanya yang membuat kenangan pahit di ingatannya. Donghae menghela nafasnya, berusaha tertidur dan mengisi energi  untuk schedule yang cukup padat esok hari.

“Hyuk!”

Eunhyuk mengenal suara itu, tapi ia tidak yakin siapa.

“Hyukjae!”

 Suaranya semakin lantang. Ia kenal betul dengan suara perempuan itu.

“Otte? (bagaimana?)”

Eunhyuk melihat seorang perempuan di hadapannya. Ia tersenyum manis dengan rangkaian bunga yang melingkari kepalanya. Di sekitarnya terlihat sangat indah. Rumput hijau dengan bunga berwarna-warni di sekelilingnya.

“Hyuk? Hyukjae!”

Perempuan itu memanggilnya lagi.

BIP! BIP! BIP! BIP! BIP!

BIIIIIIIIIIIIIP!

Tiba-tiba Eunhyuk mendengar suara mesin detak jantung di rumah sakit yang sudah berhenti.

Eunhyuk terlonjak kaget dari tidurnya. Mimpi yang awalnya indah berubah menjadi mengerikan ketika ia mendengar suara itu. Nafas Eunhyuk yang tidak beraturan membuat Donghae terbangun.

“Ada apa Hyuk?” Donghae mengusap-usap matanya.

Eunhyuk terdiam, ia masih kaget dengan apa yang baru saja terjadi padanya.

“Kenapa kau berkeringat?” Tanya Donghae.

“Kenapa aku memimpikannya lagi?”

“Kau memimpikan siapa Hyuk?”

Eunhyuk hanya menghela nafasnya. Ia hanya terdiam dan tidak menjawab pertanyaan Donghae.

Cinta pertamaku.

Eunhyuk terbangun karena alarm Donghae yang berbunyi nyaring. Jadwal mereka dimulai jam 8 pagi, dan sekarang baru jam 6 pagi. Biasanya yang bangun duluan adalah Ryeowook dan Eunhyuk termasuk kedalam kelompok orang yang sering terlambat bangun. Kali ini berbeda, setelah alarm berbunyi Eunhyuk segera bangkit dari tidurnya. Jujur, tidurnya semalan tidak terlalu nyenyak setelah memimpikan hal itu. Kepalanya terasa berat tapi mau bagaimanapun jadwal mereka sudah menunggu.

Seperti yang Eunhyuk kira Ryeowook sudah duduk di meja kopi dengan lattenya yang mengebul dan ponsel di tangannya.

“Pagi” Sapa Eunhyuk pada Ryeowook.

“Oh? Eunhyuk hyung? Tumben bangun pagi.” Ryeowook tertawa.

“Tidak bisa tidur.” Jawab Eunhyuk sambil mengusap wajahnya. Kemudian ia berjalan ke arah kamar mandi.

Eunhyuk menatapi bayangannya di cermin.

Sudah lama aku tidak memimpikan hal itu. Padahal sudah cukup lama tapi kenapa kembali lagi?

Ia menghela nafasnya kemudian mencuci mukanya. Awalnya Eunhyuk berniat untuk meminum kopi bersama Ryeowook, tapi ketika ia keluar dari kamar mandi tiba-tiba seseorang menahan lengannya.

“Donghae?”

“Aku akan memberi tahu Leeteuk hyung tentang masa lalumu agar mereka tidak membicarakannya lagi.” Terang Donghae dengan berbisik.

“Sudahlah Hae, lupakan saja. Mereka tidak akan ingat, biasanya mereka sudah lupa dengan apa yang kita bicarakan kalau sudah terlalu fokus pada pekerjaan.” Eunhyuk menepuk pundak Donghae. “Jadi lupakan saja.” Ulangnya lagi, kemudian berjalan ke arah meja kopi.

Donghae hanya bisa menghela nafasnya, ia benar-benar khawatir pada Eunhyuk.

Seperti yang Eunhyuk kira, tidak ada satupun dari mereka yang memulai pembicaraan tentang cinta pertama. Beberapa dari mereka hanya mengutak-atik ponselnya, ada juga yang kembali tidur, dan lain-lain. Kecuali Donghae yang cemas kalau saja ada salah satu dari mereka yang memulai percakapan, juga Eunhyuk yang tidak melakukan apapun. Ia hanya menatap lurus ke luar jendela, entah apa yang sedang ia pikirkan.

Jujur, Donghae benar-benar cemas, ia merasa sangat bersalah sudah mengangkat topic yang Eunhyuk benar-benar hindari. Ia merasa bodoh dan menyesal. Saat ini yang ada di kepala Donghae adalah apakah ia harus memberi tahu Leeteuk dan mengabaikan larangan Eunhyuk atau lebih baik diam saja. Donghae takut langkah yang ia ambil ternyata salah. Pada akhirnya Donghae memilih untuk diam.

Tidak lama setelahnya ia melihat Eunhyuk yang sudah tertidur bersender pada jendela mobil. Donghae merasa lega melihat Eunhyuk tertidur dengan tenang tidak seperti tadi malam, tapi hal yang ia takutkan sejak tadi terjadi.

“Yang kita bicarakan kemarin malam belum selesai kan?” Leeteuk tiba-tiba berbicara.

“Pembica– Aah, chot sarang (First Love)?” Shindong kembali mengingatkan semuanya tentang kemarin.

Tubuh Donghae serasa mematung, ia tidak tahu harus apa. Mungkin Eunhyuk tidak mendengar percakapan mereka saat ini, tapi ia takut ada yang mengingat bahwa sekarang giliran Eunhyuk bercerita. Bagaimana kalau mereka memaksa Eunhyuk bercerita? Bagaimana kalau Eunhyuk marah besar? Donghae panik sendiri. Kalau itu sampai terjadi, Donghae merasa dialah orang yang seharusnya di salahkan.

“Bagaimana kalau kita sudahi saja?” Siwon tiba-tiba menyeletuk. Donghae merasa sedikit tenang, ternyata ada juga orang yang berpikiran sama dengannya.

“Tapi kalian sudah berjanji untuk bercerita!” Leeteuk mulai mengeluarkan jurus ampuhnya, janji.

“Angkat tangan yang setuju dengan Siwon Hyung.” Donghae mulai menambahi. Ia tahu bahwa mereka yang belum bercerita tidak ingin melanjutkan pembicaraannya. Sehingga Donghae percaya diri mengatakan hal itu.

Perkiraannya benar, sebagian besar dari mereka mengangkat tangan. Ketika mereka sedang ribut-ribut, Eunhyuk tiba-tiba terbangun dengan tarikan nafas, keringat, dan nafasnya pun tidak beraturan persis seperti tadi pagi.

Donghae mulai panik sendiri. Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi pada Eunhyuk sampai terbangun seperti itu. Sedangkan Leeteuk tidak mau menyerah begitu saja.

“Hyukjae?”

Eunhyuk mendengar suara itu lagi, kali ini suaranya terdengar lemah.

“Mianhae, jeongmal mianhae…”

Dari suaranya Eunhyuk bisa tahu bahwa ia sedang menangis.

“Sudah terlambat…”

Samar-samar Eunhyuk ingat saat-saat ketika ia berkata seperti ini padanya.

“Aku lelah Hyuk…”

BIP! BIP! BIP! BIP! BIP!

BIIIIIIIIIIIIIP!

Eunhyuk mendengar suara itu lagi, suara yang selalu membangunkannya.

Kedua matanya mengerjap-ngerjap. Ia berusaha menenangkan dirinya yang tidak mengerti dengan semua yang baru saja terjadi. Kenapa hal itu terjadi kembali, tidak kah cukup sekali?

Tiba-tiba Eunhyuk mendengar suara Leeteuk.

“Kalian tidak penasaran dengan cerita Eunhyuk yang katanya sudah mencium banyak gadis?” Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Leeteuk. Mata Eunhyuk membulat, sedangkan Donghae merasa di tusuk oleh pisau yang baru di asah. Karena dia mengatakan itu kemarin malam, sekarang Eunhyuk bisa dipaksa Leeteuk untuk bercerita. Ditambah dengan member lain yang terlihat tertarik dengan cinta pertama Eunhyuk. Eunhyuk sendiri kebingungan dengan apa yang sedang mereka bicarakan. Nafasnya mulai stabil, ia pun mengambil botol minum berisi air mineral kemudian meminumnya.

Donghae kebingungan, ia tidak tahu bagaimana lagi ia harus melindungi Eunhyuk. Hanya ada satu cara, yaitu memberi tahu Leeteuk tentang apa yang sudah Eunhyuk alami di masa lalunya. Kursi Leeteuk dengan Donghae cukup berjauhan, sehingga ia memilih untuk mengirim message pada Leeteuk.

To: Leeteuk Hyung

Hyung, jangan paksa Eunhyuk bercerita tentang cinta pertamanya. Cinta pertamanya sudah meninggal, ia tidak mau ada yang mengungkit-ungkitnya lagi.

Benar, sayangnya cinta pertama Eunhyuk memang sudah tidak ada di dunia ini. Tidak lama setelahnya, Leeteuk menerima message yang Donghae kirim di ponselnya. Donghae bisa melihat bahwa Leeteuk tiba-tiba terdiam ketika membacanya.

“Ya sudah, aku menyerah. Kita sudahi saja pembicaraan ini.” Leeteuk tiba-tiba mengatakan itu pada semuanya. Kedua mata Leeteuk menatap Donghae penuh arti. Leeteuk sendiri tidak menyangka bahwa Eunhyuk yang seceria itu bisa mempunyai masa lalu yang cukup berat.

“Eo? Hyung, kau aneh. Biasanya kau tidak pernah menyerah, kau kenapa hyung?” Celetuk Ryeowook.

“Sudahlah Wook, yang penting Leeteuk hyung sudah menyerah.” Jawab Kyuhyun polos. Pada akhirnya semua kembali ke aktifitas masing-masing. Donghae berniat untuk memasukan ponselnya kedalam sakunya tapi ponsel miliknya itu tiba-tiba bergetar.

From: Eunhyuk

Gomawo.

Donghae tersenyum menatap layar ponselnya. Pada akhirnya ia berhasil membereskan semuanya.

Ah, belum semuanya. Masih ada satuhal yang mengganggu pikiran Donghae. Kenapa Eunhyuk terbangun seperti ia dikagetkan sesuatu. Donghae memutar otaknya, kalau ia menjadi Eunhyuk apa yang akan membuatnya kaget seperti itu? Tidak lama setelahnya, mata Donghae membulat. Ia menemukan satu jawaban.

Mimpi buruk.

Donghae melihat Eunhyuk tertidur di sofa ruang tunggu. Hari ini mereka melakukan photo shoot untuk CF SPAO Super Junior terbaru. Mereka menunggu giliran mereka satu persatu. Akhirnya Donghae mendekati Eunhyuk, kemudian duduk di kursi yang ada di sebelahnya. Tiba-tiba Donghae mendengar nafas Eunhyuk yang menderu keras seperti tadi di mobil, tubuhnya terlihat tegang, dan keringat mengucur di pelipisnya.

“Hyuk?”

Donghae mulai panik melihat Eunhyuk seperti itu. Perlahan ia berusaha mengguncang-guncangkan tubuh Eunhyuk agar ia terbangun. Tanpa Donghae sadari, tiba-tiba air mata Eunhyuk meluncur begitu saja dari sudut matanya. Eunhyuk menggumam kecil, tapi Donghae tidak bisa mendengarnya.

“Hyukjae, bangunlah…”

Tiba-tiba Eunhyuk bangun dan menarik nafasnya, persis seperti tadi malam juga ketika di mobil. Eunhyuk bangkit, kemudian duduk bersandar di sofanya.

“Hyuk, kau baik baik saja?”

Eunhyuk merubah posisi duduknya, dan menoleh ke arah Donghae.

“iya.” Jawab Eunhyuk singkat, matanya tidak menoleh pada Donghae. Ia menatap lurus kedepan.

 “Kau yakin baik-baik saja?” Ulang Donghae.

“Tidak.” Eunhyuk menghela nafasnya.

“Kau mimpi buruk mu? Tadi malam, juga tadi di mobil, kau terbangun karena mimpi buruk kan?”

Eunhyuk terdiam, ia tidak bisa berkata apa-apa. Ia bingung bagaimana bisa Donghae tahu semua itu. Akhirnya Eunhyuk mengangguk kecil.

“Aku… kembali memimpikannya dan itu mengerikan.”

Donghae menoleh pada Eunhyuk, terukir jelas di wajahnya bahwa ia kebingungan dengan apa yang Eunhyuk maksud.

“Kenangan masa lalu bersamanya, kenangan ketika ia jatuh sakit, dan… ketika ia meninggal. Semua itu seperti terulang kembali. Setiap aku tertidur pasti mimpi itu kembali lagi.” Terang Eunhyuk.

Donghae merasa sangan prihatin pada Eunhyuk, dan demi Tuhan ia sangat menyesal telah membuat sahabat seumurannya ini kembali di hantui masa lalunya.

“Maafkan aku…”

“Ini bukan salahmu sepenuhnya. Sepertinya aku memang harus bercerita, kalau tidak mimpi itu akan terus menghantuiku.”

Awalnya Donghae sedikit ragu dengan perkataan Eunhyuk, tapi wajahnya terlihat meyakinkan dan ini kemauannya sendiri. Lagipula biasanya kalau ada sesuatu yang membuat hati kita sesak, kita harus mengeluarkannya. Kalau tidak kita akan meledak begitu saja seperti balon. Pada akhirnya Donghae mengangguk setuju. Donghae merasa ini salahnya dan ia harus memperbaikinya.

Photo shoot hari ini berjalan dengan lancar. Semua member sudah mendapat gilirannya berfoto dan juga membuat CF. Sekarang mereka akan kembali ke dorm menggunakan van mereka seperti tadi, tapi ada yang berbeda denan tadi pagi.

“Kemana Eunhyuk?” Tanya Leeteuk. Ia sudah terbiasa untuk mengecek semuanya mulai dari para member sampai barang-barang mereka.

“Dia pulang duluan. Katanya sih tidak enak badan, benarkan Hae?” Jawab Shindong, meyakinkan dirinya dengan bertanya pada Donghae.

“Iya, tadi dia minta di bawakan mobilnya kemudian pulang sendiri.” Terang Donghae.

“Kau yakin ia pulang?” Nada suara Leeteuk terdengar cemas. Selama beberapa saat Donghae tidak menjawab. Jujur ia tidak yakin tapi ia percaya pada Eunhyuk.

Beberapa saat yang lalu…

“Hyung, gomawo!” Eunhyuk menangkap kunci mobil yang di lempar oleh salah satu manager hyung super junior. Ia sudah menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat dari yang lain. Ia benar-benar ingin meluruskan pikirannya yang cukup kacau saat ini. Eunhyuk selalu berkeliling Seoul setiap ia merasa seperti ini. Terkadang ia menepi di warung pinggir jalan untuk makan ttokppoki di temani soju, atau pergi ke dataran yang lebih tinggi untuk menatap cahaya berkelap-kelip dari kota, dan sebagainya. Kali ini ia menepi di pinggir hangang (sungai han) dengan segelas kopi panas yang ia beli tidak jauh darinya.

Eunhyuk menutup kedua matanya, merasakan angin sepoi sepoi yang menerpa wajahnya. Sedangkan kedua tangannya menggenggam hangatnya kopi. Ketika ia memejamkan mata, seluruh bayangan dan kenangan masa lalu tiba-tiba berputar begitu saja. Sama seperti ketika ia tertidur sebelumnya, kenangan masa lalunyalah yang membuat dirinya selalu bermimpi buruk dalam tidurnya.

Eunhyuk membuka matanya kembali berusaha mencerna kenapa semua itu terjadi padanya. Ia beberapa kali meneguk kopinya.

“bogeoshipeo… (I miss you…) jaljinhaesseo?” Bisik Eunhyuk sambil memandang langit. “Sepertinya aku memang harus memperkenalkanmu pada mereka… Aku benar-benar merindukanmu.” Lanjutnya lagi.

“Eunhyuk?” Donghae membuka pintu apartemen Super Junior.

“Hyukjae!” Leeteuk yang sejak tadi khawatir dan cemas padanya segera mengecek kamar Eunhyuk. “Dia… Dia… tidak ada.” Ia tidak menemukan Eunhyuk di kamarnya. “Hyuk!” Ulangnya lagi.

Tidak ada jawaban dari Eunhyuk, Leeteuk hanya bisa menghela nafasnya.

“Ada apa sih ribut-ribut?”

“Hyuk?” Donghae menoleh ke arah Eunhyuk yang sedang mengusap rambut basahnya dengan handuk.

Leeteuk tersenyum, ia bisa bernafas lega ketika melihat Eunhyuk ternyata sudah berada di apartemen sejak tadi. Ia cukup takut dengan kejadian seperti ini, bagaimana kalau ia minum-minum dan tidak bisa pulang, bagaimana kalau besoknya ia ditemukan paparazzi ataupun fans, dan banyak hal yang bisa membuat setiap member khawatir.

“Syukurlah kau ada di sini…” Leeteuk mengusap dadanya lega.

“Kau membuat kita khawatir.” Giliran Donghae yang mendekati Eunhyuk.

Eunhyuk terdiam memandangi mereka satu-satu. Mulutnya terasa terkunci, ia tidak tahu harus berkata apa.

“Ada yang ingin kau ceritakan pada kami? Aku sudah mendengarnya dari Hae. Aku tidak akan memaksa, ini terserahmu.” Leeteuk berjalan ke arah sofa tempat mereka biasa berkumpul. Seperti kemarin ketika mereka memulai pembicaraan tentang cinta pertama ini.

Eunhyuk menghela nafasnya, kemudian ikut duduk di sofa bersama dengan yang lainnya. Beberapa duduk di atas, dan sebagian lagi duduk bersila di bawah.

“Memang ada yang ingin aku ceritakan pada kalian. Ini cerita tentang cinta pertamaku yang tidak semenarik cinta pertama Hae, atau tidak semanis cinta pertama Leeteuk hyung. Cinta pertamaku adalah kenangan pahit…”

I was a jerk back then.

Aku yang sekarang dan yang dulu sangat berbeda. Seorang anak laki-laki yang masih belum mengerti seberapa pentingnya dunia, juga kehidupan. Menghabiskan waktunya dengan hal-hal tidak berguna. Aku terkenal dengan kenakalanku. Teman-temanku sama brengseknya denganku. Sebagian perempuan membenciku, tapi entah bagaimana sebagian lagi tergila-gila padaku.

Apa yang Donghae katakan waktu itu benar. Meskipun ia keceplosan, tapi itulah kenyataannya. Aku memang banyak mencium yeoja, tapi aku tidak pernah sampai melewati batasnya dengan melakukan hal itu. Aku masih sadar akan batasnya.

But then, I met her. She made me realize about everything by slapping reality on my face.

Mungkin banyak yang kesal pada kelakuanku, benci padaku, tapi tidak ada satupun dari mereka yang berani melarangku.

Entah apa yang sedang kupikirkan saat itu. Saat itu ujian akhir semester baru saja berakhir. Malam harinya teman-temanku mengajakku ke noraebang (karaoke), dan mereka mengajakku minum-minum. Sebelumnya aku memang pernah mencoba minuman keras, tapi tidak pernah sebanyak hari ini. Aku masih merasa sadar, tapi rasanya tubuhku mengajakku untuk melakukan hal yang gila. Teman-temanku yang sepertinya merasakan hal itu juga mengajakku berjalan-jalan, dan sampailah kami di depan gerbang sekolah.

Salah satu temanku mencari jalan masuk di sekitar sekolah, dan ia mendapatkannya. Salah satu jendela aula sekolah tidak terkunci. Pada akhirnya kami masuk kedalam sana. Saat itu panggung di aula sudah tertata rapih karena besok ada penampilan dari klub teater. Penuh dengan properties, juga kostum-kostum yang sepertinya sudah lengkap. Salah satu temanku yang tadi masuk duluan, mulai mencoba kostum-kostum itu di ikuti beberapa temanku yang lainnya. Aku hanya tertawa melihat kelakuan mereka tanpa memikirkan dampaknya.

Lama kelamaan mereka mulai tidak terkendali. Beberapa properties patah, kostum yang sobek, dan hal hal lainnya. Aku merasa hal itu lucu, mungkin karena aku di bawah pengaruh minuman keras ini. Tapi saat itu aku masih sadar. Setelah bosan mereka mengajakku kembai ke noraebang, tapi aku menolaknya. Selain kepalaku mulai pusing, aku masih ingin beristirahat sendiri di tempat sepi dan tenang seperti ini.

Tapi ternyata, aku tidak sendirian…

“A, apa-apaan ini?!”

Awalnya kukira seorang satpam atau guru yang datang memergoki keadaan ruangan ini, tapi ternyata bukan. Dia hanyalah seorang perempuan yang berada satu kelas denganku, yang namanya tidak begitu kuingat.

“KAU SIAPA?!” Perempuan itu berteriak lebih keras, dan sepertinya ia membawa sebuah stick di tangannya. Perlahan perempuan itu mendekat padaku. Aku tidak tahu harus apa, yang kulakukan hanya terdiam sendiri.

“Lee.. Hyukjae? Kau… APA YANG SUDAH KAU LAKUKAN?!”

Pada saat itu, aku ingin mengelak bahwa bukan aku yang melakukannya. Tapi aku sadar bahwa aku sudah ikut campur. Memang teman-teman ku yang melakukannya, tapi aku juga tidak melarang mereka. Entah kenapa aku merasa sangat menyesal. Aku tidak pernah berada dalam keadaan seperti ini. Aku tidak tahu apa itu kata maaf, jadi aku benar-benar tidak tahu apa yang harus ku katakan.

Dan dengan bodohnya aku mengatakan…

“Memangnya kenapa?”

Perempuan itu membulatkan matanya dan kedua tangannya mengepal.

“Seberapa penting ini bagimu?”

Aku tidak bermaksud mengatakan hal seperti itu, tapi entah bagaimana seperti itu lah yang keluar dari mulutku. Sungguh bodoh.

Perempuan itu terlihat benar-benar kesal, nafasnya pun terdengar beraturan.

“MENURUTMU SEBERAPA PENTING INI BAGIKU?!”

PLAK!

Aku tidak pernah ditampar siapapun. Apalagi seorang perempuan yang tidak begitu aku kenal. Tapi perempuan ini berbeda. Saat itu pipiku terasa panas dan nyeri. Aku sendiri tidak mengerti kenapa ia menamparku.

“AKU SUDAH MUAK DENGAN SEMUA KELAKUANMU! Aku masih bisa menerima kalau kau memang tidak pernah membantu siapapun, atau mempedulikan apapun! Tapi kau sudah melewati batasnya Hyuk Jae, kau sudah menghancurkan semuanya! INI SUDAH KELEWATAN!” Perempuan itu hanya bisa berteriak di depan wajahku, dan aku bisa melihat matanya yang berkaca-kaca meskipun dalam cahaya yang remang-remang. Suaranya pun terdengar serak. Detik itu juga aku merasa aku telah melakukan hal yang benar-benar salah.

“Aku kira kau masih punya perasaan… Tapi ternyata isimu benar-benar kosong… Aku membencimu.”

Entah kenapa aku merasa jantungku ditusuk dengan sangat dalam. Sudah cukup sering aku mengecewakan orang lain, tapi baru kali ini seseorang mengatakan aku adalah manusia tak berhati.

I do not know how to say sorry nor thank you.

Dari hari ke hari aku semakin bingung. Tidak ada satupun yang mengetahui kejadian itu, dan pertunjukan di hari besok berjalan dengan lancar-lancar saja. Pada hari itu aku mengira perempuan itu akan meminta pertanggung jawaban, tapi ternyata tidak. Kemudian aku semakin tertarik untuk mencari tahu siapa perempuan itu. Beberapa hari setelahnya aku baru tahu bahwa perempuan itu adalah anak dari kepala sekolah, dan itu membuatku semakin bingung. Bisa saja ia mengadukanku pada kepala sekolah, kemudian memanggil kedua orang tuaku, atau bisa saja mengeluarkanku dari sekolah ini.

Entah apa yang harus aku lakukan. Aku merasa semakin bersalah tapi aku tidak tahu bagaimana caranya meminta maaf. Aku ingin berterima kasih, tapi aku rasa itu bukan kata yang tepat.

I’m invisible

Sudah sekitar satu minggu dari kejadian itu. Apa yang perempuan itu katakan masih mengiang-ngiang di kepalaku. Terutama…

Aku membencimu.

Pada akhirnya aku berniat untuk meminta maaf padanya. Aku berusaha mencari waktu yang tepat. Waktu itu ia sedang duduk di kursi taman sekolah, ketika aku mencoba mendekatinya seseorang datang dan menghampirinya terlebih dahulu. Kemudian aku mencari cara lagi. Sepulang sekolah aku berharap ia pulang sendirian, tapi seberapa besarpun aku berharap ia terus ditemani seseorang. Aku tidak bisa mendekatinya sedikitpun.

Aku tahu aku tidak bisa begini seperti ini terus, ia akan semakin membenciku. Pada akhirnya aku mengambil resiko untuk mengajaknya berbicara meskipun ia sedang bersama seseorang.

Aku memanggil namanya, tapi tidak ada respon darinya. Aku coba untuk memanggilnya yang kedua kali dan lebih dekat, tapi temannyalah yang menoleh sedangkan ia tidak.

“Hei, h, hyukjae memanggimu.”

“Ah! Bukankah tadi kau mau ke kantin? Aku ikut ya!”

Dia jelas-jelas tidak mempedulikan keberadaanku. Dia menarik temannya, mungkin menyeretnya ke kantin. Aku hanya seperti angin yang berlalu lalang di sekitarnya, dan entah kenapa itu membuat ku merasa… aneh? Entah kesal atau sedih, tapi aku merasakan seseuatu yang belum pernah ku rasakan sebelumnya.

Aku mencoba memanggilnya lagi, tapi ia terus mengobrol dengan temannya. Pada akhirnya aku menahan lengannya dan Ia menoleh padaku dengan tatapan kesal. Tatapannya membuatku lupa dengan apa yang akan ku katakan. Mungkin temannya mengerti dengan apa yang sedang terjadi, ia meninggalkan kami berdua.

“Ada apa?” Tanyanya dingin, ia mengenyahkan tanganku yang menahannya.

“A, aku…” Jujur aku tidak pernah berbicara dengan gagap sebelumnya. “Maafkan aku.”

“Terkadang maaf itu tidak cukup, Hyuk Jae.”

“Lalu apa yang harus aku lakukan kalau maaf saja terasa sulit buatku.”

“Meminta maaf itu sulit?” Ia menatapku tidak percaya.

 “Ya, baru kali ini aku merasa sangat bersalah pada seseorang. Aku tidak pernah meminta maaf pada siapapun sebelumnya.” Aku hanya bisa menghela nafasku saat itu, dan entah kenapa semuanya keluar begitu saja dari mulutku. “Aku sendiri bingung kenapa. Biasanya aku tidak peduli dengan siapapun yang membenciku, tapi… tapi kau… kenapa kau… berbeda?”

Dia mematung di hadapanku, menatapku dengan kedua mata sipitnya yang membulat. Tapi tidak lama setelahnya wajahnya kembali menjadi dingin.

“Apa maksudmu?”

“Mau kah kau memaafkanku bila aku berubah? Aku mau kau yang mengajariku untuk berubah.”

Aku tahu bahwa aku seharusnya meminta maaf, bukan memintanya untuk melakukan sesuatu. Entah kenapa kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutku.

“Kenapa kau memintaku diantara semua orang yang berada di sekelilingmu?”

“Karena kau berbeda, dan aku mempercayaimu.”

Dia masih menatapku tidak percaya. Mungkin ia menganggap perkataanku hanyalah sebuah candaan, tapi aku serius.

“Kau itu… aneh.”

“Aku punya satu pertanyaan…” Aku menatapnya sebentar, dan ia menunggu jawabanku dengan tatapan dinginnya. “Kenapa kau tidak memberitahu siapapun bahwa aku yang melakukannya?”

“Karena aku tahu bahwa bukan kau saja yang melakukannya, dan aku masih bisa mengatasi barang-barang yang kalian hancurkan.”

“Jadi kau mau membantuku untuk berubah?”

We got closer and closer, I had a feeling for her.
Until one day…

Sudah cukup lama aku terus bersamanya, hingga aku memiliki perasaan khusus padanya. Entah sejak kapan aku mulai berubah sedikit demi sedikit. Aku tidak peduli dengan teman-teman lama ku yang menjauhiku karena aku berubah, justru aku yang menjauhi mereka. Di balik semua sikap dinginnya, dia juga punya sikap hangat yang beberapa kali ia tunjukan padaku, terutama akhir-akhir ini.

Singkat cerita, ia juga menyukaiku dan kami menjadi pasangan yang paling sering di bicarakan orang lain. Sebelumnya aku tidak pernah memiliki hubungan yang serius pada siapapun, tapi kali ini berbeda. Aku benar-benar menyayanginya lebih dari apapun. Aku suka dengan matanya yang berbinar ketika ia tersenyum, juga tawa renyahnya… Semuanya.

Tapi ternyata, selama ini kami bersama ada yang selalu ia sembunyikan. Sebuah rahasia yang tidak pernah ia beri tahu pada siapapun, hanya keluarganya yang tahu.

Suatu hari seorang guru memanggilku untuk izin dari kelas. Aku sendiri tidak tahu kenapa, tapi aku merasakan firasat buruk. Guru itu mengajakku berjalan entah kemana, sampai akhirnya kami berhenti di depan ruang kepala sekolah. Satu yang kupikirkan saat itu adalah kepala sekolah mengetahui aku telah  merusak karya anaknya waktu itu, meskipun memang sudah cukup lama tapi aku tetap tegang.

Aku masuk kedalam ruangan itu, dan melihat pak kepala sekolah yang tertunduk lemas. Pada awalnya aku ragu-ragu untuk masuk, sehingga aku hanya bisa berdiri di depan pintu dengan canggung.

“Ah Hyuk Jae? Ireona…” Suara pak kepala sekolah terdengar lembut, tapi aku merasa ada yang sedang mengganggu pikirannya. Sesuatu yang penting. Pada akhirnya aku duduk di hadapan pak kepala sekolah.

“Aku lihat kau banyak berubah akhir-akhir ini…” Ucapnya. Aku tidak tahu apa yang sedang berputar dalam pikirannya sampai ia tersenyum getir seperti itu.

“Aku senang melihatmu dan putriku, ia semakin sering tersenyum. Tapi…” Senyum pak kepala sekolah pudar begitu saja. “Aku punya satu permintaan padamu…”

Aku tidak mengerti apa yang dibicarakan pak kepala sekolah, aku hanya bisa mengangguk.

“Bisakah kau membujuk putriku agar dia mau ke rumah sakit?”

“Rumah sakit?”

Pak kepala sekolah terlihat seperti berpikir. Aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang sedang ia bicarakan.

“Ah, sepertinya aku harus memberitahumu dari awal.”

She’s sick, very sick.
She needs to be operated, but she’s scared if she didn’t make it,
she has to leave the people she loves.

Ia sudah memberi tahu semuanya. Dia sakit, benar-benar sakit. Katanya ia harus secepatnya di operasi, tapi ia takut kalau ia tidak berhasil dia harus meninggalkan orang-orang yang ia cintai. Satu yang membuat dadaku benar-benar sesak adalah saat ia memberitahu ku hal ini…

Dia bahkan berkata padaku bahwa ia sangat mencintaimu, padahal ia selalu merahasiakan orang yang ia sukai.

Tok! Tok! Tok!

Pintu ruangan terbuka tanpa menunggu jawaban dari kepala sekolah. Ternyata Kim seonsaengnim yang menjadi wali kelas di kelasku sudah berdiri di depan pintu dengan wajah yang tegang.

“Pak, putri anda dilarikan ke rumah sakit. Ia pingsan di toilet.”

Saat itu aku benar-benar kaget, semua hal yang di katakan kepala sekolah tadi ternyata benar. Awalnya aku berharap semua itu hanya mimpi buruk. Pak kepala sekolah bangkit dari kursinya kemudian bergegas pergi, tapi sebelum itu ia menoleh padaku.

“Kau ikut?”

Sesampainya kami di rumah sakit, kami segera menuju ruangan UGD. Keadaannya lebih parah dari yang ku duga. Pada akhirnya dia di bawa kedalam ruangan operasi. Semua itu terjadi begitu cepat. Aku tidak bisa berpikir, hanya bisa duduk dan berdoa sambil menunggunya di luar ruang operasi berharap semuanya berjalan dengan baik-baik saja.

The fate came.

Aku terbangun saat mendengar suara orang yang sedang berbicara. Aku melihat dokter yang mengoperasi sedang berbicara dengan pak kepala sekolah. Terkadang kita tidak bisa mengira raut wajah dokter, tapi kali ini aku bisa menebak ada sesuatu yang tidak berjalan seperti seharusnya. Hal itu membuatku tegang, di tambah lagi dengan wajah pak kepala sekolah yang terlihat seperti memohon sesuatu pada dokter itu. Sepertinya memang ada sesuatu yang tidak beres. Pak kepala sekolah mendatangiku dan duduk di sampingku dengan lemas.

“B, bagaimana keadaannya pak?”

“Dia baik-baik saja, tapi…” Aku tidak suka dengan kalimat yang mengandung tapi seperti itu. Kemudian ia melanjutkannya lagi, “penyakitnya masih belum sembuh sepenuhnya, penyakitnya masih ada di tubuhnya.”

Aku merasa sangat lemas saat itu, pikiranku benar-benar kosong. Aku hanya bisa menunggu hingga ia sadarkan diri.

She woke up with a smile, but inside it hurts.

“Hi dad… and… Hyukjae? Kenapa kau disini?” Wajar ia kaget. Selama ini ia merahasiakan penyakitnya dariku. “Kenapa kau bisa tahu… ah dad, kau memberitahunya?”

“Menurutku itu lebih baik, aku tidak mau kau terus-terusan merahasiakannya.

“Mom… masih di luar negeri?” Tanyanya.

“Ia sedang di perjalanan pulang, demi kau.”

“Aku merepotkannya” Ia menghela nafasnya, berbaring lemah di ranjangnya.

“Tidak sayang, kau tidak merepotkannya.”

Saat itu aku merasa kurang nyaman karena merasa mengganggu mereka mengobrol. Aku izin untuk keluar sebentar agar mereka bisa mengobrol lebih bebas lagi. Tapi justru dia meminta ayahnya memberinya waktu sebentar bersamaku.

“Sebelumnya, maafkan aku karena tidak pernah memberi tahumu tentang hal ini sebelumnya.” Ia tersenyum getir.

Aku menggenggam tangan dinginnya yang ditempeli infus. Tidak ada satu katapun yang keluar dari mulutku. Saat itu aku hanya bisa terdiam memandangi wajahnya terus-menerus. Mulai dari matanya yang berkaca-kaca, bibirnya yang memucat begitu pula dengan pipinya, tapi ia masih tersenyum meskipun aku tahu ia sedang berusaha melawan penyakitnya.

“Aku tidak pernah berhasil memberi tahumu, aku tidak berani… Jadi selama ini aku terus menghabiskan waktuku bersama orang-orang yang kusayangi. Aku tidak mau berakhir dengan penyesalan…”

“Apa yang kau bicarakan?” Nada suaraku lebih tinggi dari biasanya, aku kesal mendengar perkataannya. Berakhir? Aku tidak ingin semuanya berakhir begitu saja!

“Aku membuat sebanyak-banyaknya kenangan dengan orang yang kusayangi, termasuk kau.” Terdengar keraguan pada kalimatnya.

Rasanya aku ingin menangis, aku menutup kedua mataku dan menggeleng lemah. “Bukan seperti itu caranya… Kau tidak boleh membuat kenangan sebelum kau mengakhiri semuanya, seharusnya kau membuat kenangan untuk bertahan hidup!” Kepalaku tertunduk, tangannya masih kugenggam dekat dengan wajahku. Aku tidak mau kehilangannya begitu saja.

Aku melihat air mata mengalir melalui sudut matanya. Satu tetes, dua tetes, kemudian ia menutupi mukannya dengan tangan kanannya.

“Sudah terlambat Hyuk, maafkan aku… Mianhae, jeongmal mianhae… Aku mendengar pembicaraan dokter-dokter itu, mereka tidak bisa menyembuhkan penyakit langkaku. Aku sangat ingin bertahan, tapi lama-kelamaan semua perkataan mereka membuatku pasrah. Aku lelah Hyukjae…”

“Sssh… Kau tidak boleh menyerah. Bukankah kau sangat menyayangi appa dan eomma yang sangat mencintaimu? Keluargamu juga? Dan… aku? Kau pasti bisa, aku memang tidak tahu seberapa sakit yang kau rasakan, tapi kau mau berusaha bersamaku?”

Ia mengangguk kecil, kemudian memelukku sambil meneteskan air matanya. Saat itu aku tidak bisa membendung air mataku lagi, tapi dengan cepat aku mengusapnya. Malam itu aku tertidur di sampingnya sambil terus menggenggam tangannya. Aku benar-benar takut kalau ia tiba-tiba pergi. Saking takutnya aku berpikir bahwa angin bisa membawanya pergi jauh, maka dari itu aku terus berada di sampingnya malam itu.

Unfortunately, it was the last time I saw her smile.

Esok harinya ia harus kembali ke meja operasi, tapi beberapa saat sebelum itu eommanya datang dan memeluknya. Ia terlihat sangat senang bisa melihat eommanya, mungkin karena ia sudah lama tidak bertemu dengannya. Aku meninggalkan mereka bertiga selama beberapa saat, tapi ketika aku berniat untuk turun ke bawah mencari makanan seorang suster memanggilku dan mengabari keadaannya yang kritis. Padahal aku baru saja melihatnya tersenyum bersama dengan kedua orang tuannya, tapi sekarang kedua orang tuanya menangis, terutama eommanya. Aku melihat kedalam ruangan operasi. Semua orang yang berada di ruangan itu terlihat sangat sibuk, aku tidak bisa melihat keadaannya. Aku hanya bisa mendengar bunyi alat detak jantung yang terdengar lemah. Tidak lama setelahnya aku mendengar suara keras yang panjang, suara alat detak jantung itu. Menandakan detak jantungnya yang berhenti.

Saat itu seluruh badanku terasa lemas, termasuk kedua kakiku yang membuatku terduduk lemas. Awalnya aku mengira semua itu bohong, hanya mimpi, tapi sayangnya semua itu adalah kenyataan.

Dia meninggalkan appa dan eommanya saat itu. Juga meninggalkanku yang hanya sempat mengisi hari-harinya selama beberapa saat.

Terkadang aku berpikir, menurut orang yang sudah pasrah membuat kenangan sebelum mati itu jalan yang terbaik. Tapi bagaimana dengan orang yang ditinggalkan? Justru yang terluka adalah orang yang ditinggalkan. Aku memang menyesal hanya bisa menemaninya sebentar, tapi aku juga bersyukur bisa bertemu dengannya yang merubah hidupku.

Karena semua hal yang kita dapatkan pasti ada alasannya, seperti pertemuan kami.

“Kenapa kalian semua menunduk?” Tanya Eunhyuk, memandang semuanya tertunduk ketika mendengarkan ceritanya. “Kalian mengantuk karena ceritaku ya? Mianhae…”

“Bukan itu Hyuk…” Sungmin mengangkat kepalanya. Eunhyuk bisa melihat kedua matanya yang merah. Sungmin termasuk member yang jarang menangis, tapi ketika ia sangat terharu ataupun sedih ia pasti menangis. Memang tidak semua member yang meneteskan air matanya karena cerita Eunhyuk, tapi ada beberapa yang masih berusaha menghapus bukti-bukti air matanya.

Entah kenapa Eunhyuk tertawa melihat tingkah laku mereka semua. Ia tidak mengira ada yang menangis mendengar ceritanya.

“Sudahlah… Lagipula kejadian itu sudah lama terjadi.” Eunhyuk menghela nafasnya, dadanya merasa lebih lega dari sebelumnya. Pada akhirnya ia berhasil mengeluarkan semua cerita yang beberapa hari ini mengganggu tidurnya. “Aku bersyukur pada akhirnya aku bisa menceritakan semuanya pada kalian. Selama ini aku selalu menyimpannya rapat-rapat.”

“Ternyata banyak hal yang masih kita rahasiakan satu sama yang lain ya, seperti cinta pertama…” Sahut Sungmin dengan beberapa tissue di tangannya.

“Kau juga merahasiakan cinta pertamamu hyung?” Tanya Eunhyuk jahil.

“Ah iya! Bukankah beberapa hari yang lalu hyung berkata bahwa kau baru saja bertemu dengan cinta pertamamu?” Seru Ryeowook bersemangat.

“Ah… Aku berkata seperti itu ya?”

(Eunhyuk Story) The End / To Be Continue (to Sungmin Story!)

Advertisements

5 responses to “First Love – Eunhyuk (In Heaven)

  1. annyeong ! aku reader baruu disini ^^
    hiks aku berkaca-kaca baca kisahnya hyuk ini :”(((( tapiii aku ga bisa nemuin cerita first love nya leeteuk disini help me plis unni :3

  2. daebak!! ceritanya klise, and simple tapi bermakna sekali!
    gak nyangka Hyukjae yang casanova itu punya pengalaman cinta pertama yg tragis 😥
    emang bener, cinta pertama itu gak selamanya berjalan manis 😥 😥

  3. daebak!! ceritanya klise, and simple tapi bermakna sekali!
    gak nyangka Hyukjae yang casanova itu punya pengalaman cinta pertama yg tragis 😥
    emang bener, cinta pertama itu gak selamanya berjalan manis 😥 😥

    kira2 ada first love story-nya Kyuhyun gak??!! hehehe 😀

    • Waaah~ Makasih yaaa! Yang Kyuhyun masih di proses sih, hehehe… Mau di kasih special yang Kyuhyun sama Siwon~ Sekarang lagi buat yang Ryeowook. Sempet ketunda dulu sih gara-gara sekolah. tapi lagi dilanjutin sekarang. Sering sering mampir kemari 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s