Why did You Come Now? (왜 이제야 왔니?)

Why Did You Come Now

Woah, it’s been forever since the last time i posted something! Hahaha~ Well, akhirnya aku mengembalikan kemauanku untuk menulis cerita lagi. Selama ini aku cuma update Poster Request dan Recommended Pages nya, tapi aku nggak pernah ngepost cerita. Well, i’m sorry, i don’t have the desire to write anything. Tapi sekarang aku kembali dengan some kind of song fict. Akhir-akhir ini aku lagi addicted banget sama K-Dramas. This year’s best drama goes to I HEAR YOUR VOICE!  Park Soo Ha~ Song fict ini terinspirasi dari OST nya I Hear Your Voice, yang dinyanyikan Jung Yeop – Why did You Come Now. Well, aku nggak bakal basa-basi lebih lama lagi. Setelah lama nggak nulis, semoga ceritanya masih bisa dimengerti, hehehe. Song fict ini optional bias. Jadi terserah cowoknya siapa. Mau bias kamu, mau siapapun itu silahkan~ Sesuaikan dengan imajinasimu sendiri!

P.S. Poster Request akan buka lagi Desember minggu kedua.

With ♥, Author

____________________________________________________________

By CIA (@yewookyu)

Attention: Ini hanyalah fanfiction, bila FF ini mirip dengan cerita lain hal ini hanyalah ketidak sengajaan, Gamsahamnida.

DO NOT TAKE WITHOUT PERMISSION AND FULL CREDITS, Please leave a comment~

____________________________________________________________

Kenapa kau datang sekarang?
Kenapa kau datang di hari yang murung? Langit terlihat sangat gelap, sebentar lagi hujan…

Kenapa kau datang sekarang?
Kenapa kau datang di hari ketika aku terlihat buruk? Bosku baru saja mencaci-maki ku. Air mata yang tak terbendung ini merusak maskaraku, sehingga wajahku terlihat tidak karuan.

Kenapa kau datang sekarang?
Kenapa sekarang kau terlihat lebih tampan?
Sedangkan aku seperti ini dari dulu. Mungkin bertambah buruk karena pekerjaan yang membuat wajahku terlihat stres dan kurang tidur.

Kenapa kau datang sekarang?
Kenapa kau datang di saat hujan turun dengan deras? Hujan deras membuat kita berdua sama-sama terjebak di perhentian bus ini.

Ah… kau membawa payung!
Jangan pergi…

Jantungku berdebar, rasanya lebih sesak dibadingkan dengan biasanya.
Apa aku merasa sedih?
Jangan pergi…

Ketika kau berdiri, aku merasa sedih.
Ketika kau membuka payungmu, dadaku terasa sesak.
Kau berdiri tegap. Aku menatap matamu yang menatap lurus kedepan.

Aku ingin tahu apa yang sedang kau pikirkan hingga membuatmu tersenyum seperti itu.
Sudah lama aku tidak melihat senyuman itu. Senyuman yang tidak pernah gagal membuatku ikut tersenyum.

Syukurlah… kau menutup payungmu lagi dan kembali duduk. Entah apa yang kau lihat tadi, tapi aku bersyukur kau tidak pergi.

Kau mungkin tidak sadar akan keberadaanku karena kita duduk berjauhan. Ditambah dengan kedua earphone yang menyumbat telingamu. Aku ingin tahu lagu apa yang sedang kau dengarkan. Aku ingin tahu bagaimana kabarmu sekarang. Aku ingin tahu bagaimana reaksimu ketika kau melihatku. Aku ingin tahu segalanya tentangmu.

Aku tidak ingin hujan ini berhenti. Biarkan aku menatapnya lebih lama lagi. Tapi takdir tidak berjalan seiring dengan kemauanku. Perlahan-lahan langit menunjukkan cahayanya. Samar-samar aku melihat pelangi menghiasi langit.

Tanpa sadar aku terlalu nyaman menatapmu sejak 1 jam yang lalu. Aku terlalu nyaman menatapmu, sehingga aku lupa akan keinginanku untuk menyapamu. Bisakah kau tetap diam seperti itu selamanya?

Aku merasa geli dengan keinginanku yang tidak mungkin terjadi itu. Tentu saja ia tidak akan diam di perhentian bus ini selamanya. Begitu pula denganku… Baiklah, aku cabut keinginanku tapi bolehkan aku berharap bahwa kau yang menyapaku duluan?

Lagi-lagi keinginan tidak jelas…

Sejak tadi aku memperhatikan detail seluruh tubuhnya, dari ujung kaki hingga ujung kepala. Kau jauh lebih berkembang dari yang kukira. Dadamu yang semakin bidang, rahang bawahmu yang semakin terbentuk jelas, otot biseps mu yang terlihat kuat dan keras tapi tidak terlalu besar. Aku tidak suka orang yang memiliki otot terlalu besar, justru mengerikan! Aku suka dengan kemeja biru pastel yang kau lipat hingga siku itu, kancing lehermu yang di buka satu.

Kau tampan… sangat tampan! Apa kau tidak sadar dengan orang-orang yang memperhatikanmu sedari tadi?

Aku baru sadar bahwa sejak tadi kau menatap lurus ke gedung berkaca hitam itu… Aku yang sedang kau lihat?

Aku ikut menatap gedung berkaca hitam itu. Ini bukan jalan yang besar. Jarak gedungnya tidak begitu jauh dengan posisiku.

Tunggu sebentar…
Kenapa aku bisa melihat kita berdua di kaca itu?Apa ini khayalanku semata? Ini terlihat seperti mimpi! Ia menatapku melalui pantulan bayangan di kaca hitam itu. Ia tersenyum. Ini mimpi ya?

Lagi-lagi senyuman itu… Aku menoleh ke arahnya. Apa sejak tadi ia sadar bahwa aku sedang menatapnya?

Aku menatapnya dengan penasaran.
Menolehlah…
Menolehlah sedikit…
Menolehlah!

Kali ini takdir berjalan beriringan dengan keinginanku. Ia benar-benar menoleh dan menatapku dengan kedua bola matanya itu. Aku yakin bahwa kedua bola matanya itu mengandung semacam magnet yang mampu menariku. Bisa-bisa aku tenggelam kedalam matanya.
Ah, matanya berwarna cokelat…

Ia tersenyum lebar.
Senyuman yang membuat semua orang terpesona pada pandangan pertama. Mungkin aku berlebihan, tapi tubuhku rasanya seperti meleleh.

Selama 5 menit aku bertahan dalam keadaan seperti itu, begitu pula dengannya. Ia meluruskan posisi duduknya.

“Hai,” Ia tersenyum, “sudah lama tidak bertemu denganmu.”

Hai, cinta pertamaku.

Aku menyukai hujan.

Menunggu di halte bis, memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang, bau tanah yang diguyur hujan, suara gemericik air yang menyentuh aspal. Aku menyukai semuanya.

Sayang, mungkin hari ini langit terlalu sedih sehingga air matanya turun dengan deras. Apa lebih baik aku pulang saja ya? Sepertinya akan lama. Lagipula aku membawa payung.

Sampai ketika aku melihat wanita itu.

Aku melihat bayangan wanita itu yang memantul di kaca gedung seberang. Wajahnya terlihat familiar, aku yakin pernah bertemu dengannya.

Sejak tadi aku memperhatikan semua orang yang berlalu-lalang di hadapanku, begitu pula sekelilingku. Sepertinya aku melewatkan satu orang, wanita yang duduk 2 meter dari sebelah kiriku.

Terlihat jelas bahwa wanita itu sedang memperhatikanku. Aku kembali terduduk. Ekspresi wanita itu berubah-ubah. Terkadang ia memperhatikanku dari sudut matanya, terkadang ia memperhatikanku secara langsung. Mungkin itu yang membuatku tersenyum dengan sendirinya. Aneh… tidak biasanya aku seperti ini.

Wanita itu membuatku semakin penasaran. Tidak terasa aku terduduk menatapi bayangan perempuan itu selama 1 jam. Aku belum ingat di mana aku pernah bertemu dengannya. Itulah yang membuatku bertahan lama memperhatikannya meskipun langit mulai menunjukan cahayanya.

Aku ingin menyapanya, tapi aku terlalu nyaman dengan posisiku sekarang. Ditambah dengan rasa penasaran terhadap wanita itu. Apa yang akan ia lakukan selanjutnya?

Entah apa yang membuat wanita itu menoleh dariku. Ia tiba-tiba menatap kaca hitam gedung di seberang. Sepertinya aku tertangkap basah sedang memperhatikannya melalui kaca hitam itu. Reaksinya sangat lucu. Kedua bola matanya membulat ketika ia memperhatikan bayanganku dengan jelas.

Perempuan itu menoleh padaku secara terang-terangan. Sepertinya aku benar-benar tertangkap basah, hahaha.

Bola mata…
Bola mata…?
Bola mata…!

AH! Aku ingat sekarang…

Wanita itu adalah  perempuan yang sering ku perhatikan 5 tahun yang lalu. Ternyata dia sudah dewasa…

Aku pertama kali melihatnya di hari ketika langit menangis. Ketika itu, langit menangis sambil menunjukan sinarnya. Mungkin dia menangis bahagia? Banyak orang yang menyebutnya sebagai Rain Fox, atau hujan yang disebabkan oleh gumiho yang sedang menangis.

Saat itu adalah pertama kalinya aku melihat ujung pelangi. Ujungnya jatuh tepat di ujung kaki seorang perempuan berseragam sekolah yang sedang duduk di halte bis. Sejak saat itu aku selalu berjalan pulang melewati halte bis itu sekedar untuk melihat perempuan yang menarik perhatianku. Sayangnya, perempuan itu hanya menaiki bis di halte itu ketika hujan turun. Sehingga aku selalu datang ketika hujan.

Sampai pada suatu saat, takdir datang menghampiriku. Aku duduk 1 meter di sebelah kiri perempuan itu. Saat perempuan itu berdiri, payungnya terbuka otomatis dan tetesan-tetesan air di payung itu membasahiku. Perempuan itu langsung meminta maaf. Mulai saat itu kami sering berbincang tentang apa saja.

Sayangnya, setelah aku lulus sekolah, aku harus melanjutkan ke perguruan tinggi di Jepang. Sampai saat itulah terakhir kali aku bertemu dengannya.

Sekarang takdir kembali menghampiriku. Saat hujan turun kedua kakiku seperti bergerak otomatis ke halte bis ini. Awalnya, aku tidak berniat untuk bertemu dengannya. Aku bahkan tidak percaya bahwa ia masih naik bus di halte ini meskipun ia sudah bekerja.

“Hai,” Entah bagaimana kata itu meluncur begitu saja dari mulutku. Baru kali ini aku merasa tegang sekaligus senang setengah mati. “sudah lama tidak bertemu denganmu.”

Rasanya aku ingin menampar mulutku sendiri. Aduh, apa itu terlalu canggung? Apa terlalu berlebihan? Apa terlalu dibuat-buat? Ah bodohnya…

Hai, perempuan yang selalu berhasil membuat perasaanku campur aduk.

Advertisements

2 responses to “Why did You Come Now? (왜 이제야 왔니?)

  1. Wuaaa, nice!! Aduh.. FF ini bikin aku senyam senyum sendiri ngebayangin adegan di sini, haha. Hi author-nim^^ new reader here~ aku mau lanjut jelajahin wpnya lagi, deh. Gamsahamnida~*^^*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s